Hari Ke-32
Fajarmana (2025)
DI TENGAH PANGGUNG
TERDAPAT TIRAI YANG BIASA JADI PEMISAH RUANG PASIEN, SISI SEBELAH KIRI TERDAPAT
RANJANG RUMAH SAKIT YANG DI ATASNYA TERBARING PEREMPUAN PARUH BAYA YANG SEDANG
SAKIT. DI SISI KANAN TERDAPAT ANAK KECIL YANG KOMA TERBARING DI RANJANG KHAS
RUMAH SAKIT.
DATANG LAKI-LAKI BERPERAN SEBAGAI DOKTER BERNAMA RANDI MEMERIKSA
KEADAAN PEREMPUAN TUA YANG MERUPAKAN IBUNYA YANG SUDAH MENGALAMI GAGAL GINJAL
STADIUM AKHIR.
RANDI MELAKUKAN PEMERIKSAAN DETAK JANTUNG DAN CEK TEKANAN
DARAH IBUNYA. SETELAH MELAKUKAN SEMUA ITU, DIA MENGELUS KEPALA SANG IBU SEMBARI
MENAHAN TANGIS.
Randi:
Tekanan darah ibu semakin rendah, Ginjal ibu kesulitan
menghasilkan sel darah merah sehingga ibu jadi Anemia. Itu yang menyebabkan
tekanan darah ibu jadi rendah. Randi khawatir, Bu. Randi khawatir dengan
keadaan ibu yang semakin memburuk.
IBU RANDI TERSADAR DARI TIDURNYA, DIA MELIHAT ANAKNYA.
MENGUSAP WAJAHNYA DENGAN PELAN TANPA BERKATA APAPUN. RANDI MEMEGANG TANGAN
IBUNYA YANG MENYENTUH WAJAH RANDI.
Randi:
Ibu sudah sangat kuat sejauh ini. Berjuang melawan gagal
ginjal yang sudah pada tahap stadium akhir. Ibu sangat kuat selama ini menahan
sakit dan harus selalu cuci darah. Ibu pasti sangat tersiksa ya Bu. Maafkan
Randi belum bisa menyembuhkan ibu.
DATANG DOKTER BERNAMA LINA YANG MERUPAKAN DOKTER SENIOR
DI RUMAH SAKIT INI. DIA MEMERIKSA PASIEN SEBELAHNYA. LALU MENGHAMPIRI RANDI.
Lina:
Bagaiman kondisi ibumu?
RANDI MENGGELENGKAN KEPALANYA PELAN. LINA MEMEGANG PUNDAK
RANDI MENENANGKAN, RANDI.
Randi:
Kondisi ibu, semakin memburuk. Aku khawatir ibu tidak
bisa bertahan lama lagi. Fungsi ginjalnya nyaris di bawah 15%. Kita tau, itu
buruk, stadium akhir dan tidak ada lagi harapan kecuali ibu menerima
transplantasi ginjal. Namun, itu sangat sulit karena keterbatasan pendonor.
LINA MELIHAT KEBELAKANG
KE ARAH PASIEN ANAK KECIL.
Lina:
Pasien itu adalah pasien yang koma setelah tertabrak
mobil. Dia tidak memiliki keluarga, dia ditemukan warga saat mengamen di jalan.
Harapan hidupnya kecil. Mungkin tidak lama lagi dia akan meninggal. Seluruh
fungsi tubuhnya menurun drastis karena kehilangan banyak darah sebelum dibawa
ke sini. Kita bisa melakukan transplantasi ginjal anak itu ke ibu kamu.
Randi:
Itu jelas melanggar hukum. Syarat transplantasi ginjal
ialah melalui persetujuan pendonor atau keluarga pendonor. Tanpa itu, kita bisa
kena masalah. Hukumannya berat, dan kita bisa diberhentikan dari dunia medis
selamanya.
Lina:
Iya tentu aku tau. Tapi, ini kondisi darurat, ibumu perlu
ginjal baru untuk bisa melanjutkan hidupnya. Jika transplantasi berhasil, ibumu
akan selamat Randi.
RANDI TERDIAM, KEMBALI KE
BILIK IBUNYA DAN MENGELUS WAJAHNYA. RANDI DAN LINA SALING BERPANDANGAN.
Randi:
Aku akan melakukan apapun untuk ibu. Bisa bantu aku
melakukan transplantasi ginjal?
Lina:
Tentu.
DARI ARAH BELAKANG
TERDENGAR SUARA
Sang sutradara:
Cuuut!!!
SUTRADARA BERTERIAK
MENGHENTIKAN PEMENTASAN YANG SEDANG BERLANGSUNG. SELURUH AKTOR YANG ADA DI
PANGGUNG KELUAR DARI KARAKTERNYA.
Sang Sutradara:
Cut, cut, cut. Aduh kok lu malah setuju ngelakuin
transplantasi ginjal sih.
Aktor Randi:
Hah maksudnya?
Sang Sutradara:
Iya kan harusnya lu menolak tawaran Lina!
Aktor Randi:
Hah apaan dah. Kan emang bakal ada oprasi transplantasi
ginjal di cerita ini.
Aktor Lina:
Iya dah, kan biasanya kita latihan juga kayak gitu.
Sang Sutradara:
Apasih! Bacalah naskahnya. Di naskahnyakan harusnya lu
menolak tawaran transplantasi ginjal. Dan memilih untuk menemani ibulu sampai
ia meninggal.
Aktor Ibu:
Kok berubah?
Sang Sutradara:
Berubah apa sih. Satu bulan lebih kita latihan. Kan emang
begitu ceritanya. Nih lihat naskahnya.
SANG SUTRADARA MENUNJUKAN
NASKAH TEATER YANG DITAMPILKAN DI PROYEKTOR MENUNJUKAN DIALOG YANG SEHARUSNYA
MEREKA LAKUKAN. SEMUA AKTOR BINGUNG.
Sang Sutradara:
Udah hari ke-32 masih aja pada gak afal. Ayo ulangi lagi.
Semuanya di posisi awal adegan tadi ya. Siap. And action!
PARA AKTOR MEMAINKAN
LAKON SEPERTI DI ADEGAN AWAL. SAMPAI RANDI MENGHAMPIRI IBUNYA DAN MENGELUS
KEPALA IBUNYA SETELAH MENDAPAT SARAN DARI LINA. RANDI MENATAP LINA.
Randi:
Aku sudah berusaha semampuku untuk menyembuhkan ibu. Ibu
sudah berjuang dengan keras sejauh ini. Namun bukan berarti aku harus
mengorbankan keselamatan orang lain untuk kesembuhan ibu. Aku tidak akan
melanggar kode etik yang selama ini aku genggam. Apa artinya kesembuhan ibu
jika harus melanggar hukum negara dan agama. Lebih baik, aku terus menemani
ibu, menciptakan momen-momen indah dan melakukan banyak kebaikan sebelum ibu
benar-benar pergi.
DARI ARAH BELAKANG
TERDENGAR TERIAKAN SANG SUTRADARA
Sang Sutradara:
Cuutt!
TERIAK SANG SUTRADARA MENGHENTIKAN
PEMENTASAN. SEMUA AKTOR KEMBALI KELUAR DARI KARAKTER YANG DIMAINKANNYA.
Sang Sutradara:
Cut, cut, cut. Aduh kok lu malah ngebiarin ibu lu
meninggal sih, mana ada anak yang pengen ibunya meninggal. Baca naskah enggak
sih?
SEMUA AKTOR KEBINGUNGAN.
Aktor Randi:
Ngaco kan, ngaco. Tadi disuruh dialognya kaya tadi.
Aktor Lina:
Yang bener lah. Capek nih latihan gini terus.
Aktor Anak kecli:
Iya nih, capek tau.
Aktor Ibu:
Alah lu adegannya Cuma tiduran doang aja cape.
Aktor anak kecil:
Enak aja tidur doang. Iya kalo adegannya mah cuma tidur.
Tapi kita kan setiap hari harus olah vocal, olah tubuh, olah sukma. Dikira
enggak cape apa. Harus lari-larian, harus lenturin tubuh, harus teriak-teriak,
harus meditasi. Setiap hari kayak gitu, dan ini udah hari ke-32, masih banyak
aja yang salah.
Aktor Randi:
Loh kok nyalahin gua?
Aktor anak kecil:
Iya kan kalian yang salah dialog terus.
Aktor Lina:
Enak aja kami yang salah, noh sutradara yang aneh.
Sang Sutradara:
Udah pada salah, nyolot lagi! Nih gua liatin naskahnya
lagi
SANG SUTRADARA
MEMPERLIHATKAN NASKAH YANG DITAMPILKAN DI PROYEKTOR. MENUNJUKAN BAHWA NASKAH
SEHARUSNYA MENCERITAKAN RANDI YANG MENGORBANKAN GINJALNYA UNTUK IBU. SEMUA
AKTOR KEBINGUNGAN DENGAN KEADAAN YANG TERJADI.
Aktor Randi:
Hah aneh-aneh. Lu sengaja rubah ya naskahnya?
Sang Sutradara:
Udah gila kali lu, ngapain gua kayak gitu. Orang dari
awal naskahnya begitu. Lu pada aja emang males baca naskah.
Aktor Lina:
Ngaco nih. Kan barusan tadi lu nyuruh kita adegannya yang
Randi nemenin ibunya sampe meninggal. Ini malah berubah lagi.
Sang Sutradara:
Hah, aneh lu.
Aktor Ibu:
Lu yang aneh kocak malah nyalahin kita.
Aktor Randi:
Tau tuh, baru kali ini gua jadi aktor dapet sutradara
kaya gini.
Sang Sutradara:
Udah hebat banget lu jadi aktor gua liat-liat.
Aktor Randi:
Lah maksud?
Sang Sutradara:
Minimal naskah hapal lah,
Aktor Randi:
Naskah aneh kayak gitu gmana mau ngapalinnya. Lagian
ngapain ngambil naskah-naskah yang ginian coba. Kita kelompok teater mahasiswa,
masa mainin teater cerita recehan gini. Teater realismah buat anak SMA kali.
Sang Sutradara:
Siapa yang nentuin kalo realis itu buat anak SMA? Jadi
menurutlu teater keren itu harus non realis gitu? Baru sampe mana buku
bacaanlu? Kok udah bisa mengkotak-kotakan kayak gitu?
PARA AKTOR LAIN MENCOBA
MELERAI PERKELAHIAN.
Aktor Linda:
Setidaknya ambil lah tema yang kontemporer, gak recehan
kaya gini. Liat tuh kelompok teater lain. Mereka udah ngomongin isu hari ini,
distorsi tradisi, silang ruang. Kita masih aja kejebak di romantismenya
Chekhov.
Sang Sutradara:
Semua cerita berhak dipentaskan. Realisme bisa jadi
turning point yang epic dikala semua kelompok sedang fokus pada post modern
jika kita bisa bermain dengan baik.
Aktor Randi:
Haha bilang aja lu gak mampu ngegarap teater-teater
post-mo kan?
Aktor Anak Kecil:
Udah-udah jadi ini gimana?
Aktor Ibu:
Iya coba Sut, ending ceritanya jadinya gmana ini?
Sang Sutradara:
Oke. Gua bakal telpon yang nulis naskah. Biar kita tau
siapa yang salah.
SANG SUTRADARA MENELPON
SANG PENULIS NASKAH. SANG SUTRADARA MELAKUKAN VIDEO CALL YANG DITAMPILKAN DI
PROYEKTOR. DAN TERSAMBUNG DENGAN SANG PENULIS NASKAH YANG SEDANG BERADA DI
BANGKU PENONTON. LAMPU MENYOROT KE PENULIS NASKAH.
Sang Sutradara:
Hallo. Ini naskahlu banyak yang protes nih. Katanya aneh.
Sang Penulis naskah:
Aneh gimana?
Sang Sutradara:
Katanya naskahlu berubah-ubah. Eh sebentar, elu dmana?
Sang Penulis Naskah:
Gua ada di bangku penonton sama penonton lain yang lagi
nonton kalian.
LAMPU MENYALA MENYOROTI
PENONTON. PARA AKTOR DAN SANG SUTRADARA KEBINGUNGAN DENGAN APA YANG TERJADI.
PARA AKTOR DAN SANG SUTRADARA MEMPERHATIKAN SEMUA PENONTON, MEREKA BARU SADAR
KALAU MEREKA ADALAH BAGIAN DARI PEMENTASAN.
SANG PENULIS NASKAH TURUN
DARI BANGKU PENONTON DAN MASUK KE PANGGUNG PEMENTASAN. SEMBARI PARA AKTOR DAN
SUTRADARA MASIH KEHERANAN DENGAN KEBERADAAN PENONTON YANG MENONTON MEREKA, SANG
PENULIS NASKAH MENYADARKAN KEHERANAN MEREKA.
Sang Penulis Naskah:
Aneh gimana?
Sang Sutradara:
Ini, mereka bilang kalau naskahnya berubah-ubah, mereka
juga bilang kalau gua yang ngubah dan nyuruh mereka melakukan adegan yang
tertulis di naskah. Sedangkan gua gak pernah ngerasa begitu.
Sang Penulis Naskah:
Iya, emang begitu ceritanya. Memang begitu konfliknya.
Emang begitu klimaksnya.
Aktor Randi:
Kenapa banyak orang di sini?
Sang Penulis Naskah:
Mereka sedang menonton pertunjukan teater.
Aktor Lina:
Teater apa?
Sang Penulis Naskah:
Yaa teater yang kalian mainkan dari tadi.
Aktor Ibu:
Jadi kita semua yang di sini adalah tokoh dalam cerita?
Aktor Anak Kecil:
Jadi kita aktor yang sedang latihan teater ini sebenernya
bukan beneran aktor, tapi hanya suatu tokoh?
Aktor Randi:
Apa-apaan! Kita enggak mungkin Cuma tokoh cerita. Kita
beneran manusia ini. Kita merasakan semua yang kita rasakan. Kita latihan
setiap hari. Kita punya kehidupan di luar latihan ini. Enggak mungkin kita Cuma
tokoh yang sedang ditonton oleh orang-orang.
SANG PENULIS NASKAH HANYA
TERSENYUM.
Sang Sutradara:
Jika kita semua ini hanya tokoh dalam suatu pementasan.
Berarti kamu yang menciptakan kami? Dan kamu yang menyutradari kami.
Sang Penulis naskah:
Aku hanya membuat cerita sampai kalian sadar kalau kalian
hanya suatu tokoh.
Sang Sutradara:
Jadi, bagaimana ending cerita ini?
Sang Penulis naskah:
Tidak tau. Ceritaku cuma sampai sini. Dan tugasku sudah
selesai.
Sang Sutradara:
Tugas apa?
SANG PENULIS NASKAH TIDAK
MENJAWAB DAN HANYA PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG. SANG SUTRADARA KEBINGUNGAN DAN
MULAI BERDISKUSI DENGAN PARA AKTOR. SANG SUTRADARA LALU MENGAJAK PENONTON
BERBICARA. MENAWARKAN 3 ENDING YANG BERBEDA UNTUK LANJUTAN CERITA. PENONTON
DIBAGI MENJADI BEBERAPA KELOMPOK UNTUK VOTING.
HASIL VOTING AKAN
MENENTUKAN ENDING CERITA.
ENDING PERTAMA
ENDING PERTAMA AKAN
MELAKSANAKAN PROSES TRANSPLANTASI GINJAL DENGAN MENGORBANKAN ANAK KECIL DENGAN
PROSES YANG MELANGGAR HUKUM TANPA PERSETUJUAN.
ADEGAN DIULANG DARI AWAL
HINGGA DOKTER RANDI MEMUTUSKAN UNTUK SETUJU DENGAN SARAN DOKTER LINDA.
Randi:
Tapi kita tidak bisa melakukan ini hanya berdua. Kita membutuhkan
dokter ahli bedah dan nefrolog.
Lina:
Ada temanku dari rumah sakit lain yang mungkin bisa
membantu. Tapi kamu tau, kamu harus menyiapkan bayarannya.
Randi:
Tidak masalah. Aku akan melakukan berbagai cara untuk
kesembuhan ibu.
RANDI MENGHAMPIRI IBUNYA
Randi:
Ibu, ibu bertahan lagi ya bu. Ibu akan sembuh sebentar
lagi. Randi janji akan membuat ibu sembuh lagi.
LAMPU MATI. ADEGAN
BERALIH SAAT RANDI DITAHAN DI RUTAN. DI SUATU RUANG RANDI BERTEMU IBUNYA YANG
MEMBESUK MENGGUNAKAN KURSI RODA. RANDI MENGGUNAKAN PAKAIAN TAHANAN MENEMUI
IBUNYA YANG MEMBESUK.
Ibu:
Apa kabar nak?
Randi:
Bisa jadi lebih buruk dari ini bu. Randi senang ibu bisa
membaik. Ibu sudah merasa lebih baikkan?
Ibu:
Iya. Tapi apa artinya nak? Kalau kamu harus jadi seperti
ini.
Randi:
Ibu, Randi akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu.
Semua hal tentang ibu adalah yang utama bagi Randi. Randi cuma punya ibu, maka
itu Randi mengusahakan semua demi keselamatan ibu.
Ibu:
Dengan mengorbankan orang lain, nak? Dengan melanggar hukum?
Randi:
Maaf bu, Randi tidak punya pilihan lain.
Ibu:
Kamu punya pilihan, nak. Kamu memilih hal yang salah.
RANDI TERTUNDUK.
Ibu:
Berapa lama kamu akan dipenjara nak?
Randi:
Vonis terberat adalah 15 tahun penjara, Bu. Akan ada
banyak tuntutan di persidangan nanti karena aku melanggar banyak pasal. Bahkan,
aku membuat anak itu kehilangan nyawanya.
Ibu:
Nak. Cuma kamu juga yang ibu punya di rumah. 15 tahun?
Bahkan ibu tidak yakin akan tetap hidup selama itu untuk menunggumu keluar dari
penjara. Lalu, apa artinya kamu membiarkan ibu bisa selamat dalam kesendirian
selama 15 tahun?
Randi:
Ibu tetep bisa bertemu randi di penjara kok bu
Ibu:
Dan siapa yang akan merawat ibu di rumah? bagaimana jika
ibu jatuh sakit di rumah? kepada siapa ibu akan meminta tolong? Bagaimana jika
ibu meninggal dalam kesendirian di rumah tanpa diketahui siapapun?
Randi:
Ibu jangan bicara seperti itu.
Ibu:
Apa kamu masih berpikir bahwa apa yang kamu lakukan itu
benar, nak?
RANDI HANYA MENGGELENG
Ibu:
Ginjal ini, dari anak yang mungkin dia berharap akan
sembuh suatu nanti. Apa artinya semua ini nak? Kamu salah. Salah dari mata
agama ataupun hukum negara ini. Kamu harus mempertanggungjawabkannya nak.
Randi:
Maafkan Randi bu.
Ibu:
Ibu memaafkan nak.
Randi:
Doakan Randi agar sidangnya berjalan lancar ya bu. Semoga
hukumannya bisa diringankan agar Randi bisa segera menemani ibu. Randi akan
menjalani semua hukuman sebagai tanggung jawab atas apa yang Randi lakukan.
Selamat tinggal bu.
RANDI BERPAMITAN DAN
PERGI MENYISAKAN IBUNYA YANG MASIH DI TENGAH PANGGUNG. LAMPU MATI. DAN TAMAT
ENDING KEDUA
RANDI MENOLAK TAWARAN
LINA. SEPERTI DI ADEGAN SEBELUMNYA.
LINA:
Kamu adalah anak yang baik dokter Randi. Semoga ibumu
segera cepat sembuh ya. Semangat berjuang lagi. Aku mau mengecek pasien lain
dulu.
LINA KELUAR PANGGUNG.
RANDI:
Randi ada di sini, bu. Randi akan selalu menemani ibu.
Ayo kita berjuang lagi untuk kesembuhan ibu. Kalo ibu sudah membaik, nanti kita
jalan-jalan ya bu. Kita akan pergi ke tempat favorit ibu yang biasa kita datangi
seperti dulu saat ayah masih ada. Atau ibu mau makan lobster favorit ibu? Atau
kemanapun akan randi temani kalau ibu sudah sembuh. Randi pergi cek pasien lain
dulu ya bu.
RANDI PERGI MENINGGALKAN
PANGGUNG. LAMPU REDUP.
BABAK SELANJUTNYA LAMPU
MENYALA DENGAN WARNA DRAMATIS. PANGGUNG ADA DUA RANJANG NAMUN HANYA TERSISA
SATU PASIEN YAITU IBUNYA RANDI YANG SEDANG SEKARAT. NAFASNYA TERENGAH-ENGAH.
Randi:
Ibu…
IBU MEMEGANG PIPI RANDI
DENGAN LEMAS. RANDI MENANGIS.
Randi:
Ibu sudah melalui semua ini dengan hebat bu. Randi bangga
punya ibu sekuat ibu. Tapi apa Randi bisa jadi orang yang kuat juga jika ibu
tiada?
Ibu:
Kamu selalu kuat, kamu selalu hebat. Kamu sudah menolong
banyak orang.
Randi:
Tapi untukmu ibu. Aku hanya bisa berdiri di sini
melihatmu lemah tak berdaya. Semua ilmu yang aku punya, tidak cukup untuk
membuat ibu sembuh.
Ibu:
Kamu sudah melakukan yang terbaik nak.
Randi:
Beberapa temanku pernah
menyarankan untuk melakukan transplantasi ginjal anak yang dirawat di sebelah
sana bu. Dia dulu memiliki harapan hidup kecil karena kecelakaan. Tapi dia
sekarang sudah sembuh bu. Aku tidak tau keputusanku dulu itu benar atau tidak.
IBU HANYA TERSENYUM
LIRIH.
Randi:
Selama sebulan terakhir. Walau kondisi ibu belum membaik,
kita sudah menciptakan momen-momen indah ya bu. Semoga ibu senang walau
akhirnya Randi tidak dapat menyembuhkan ibu.
IBU SEKARAT. DAN
MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA. RANDI MENANGIS SEJADINYA.
Randi:
Ibu.. mungkin aku gagal untuk menjadi dokter karena tak
dapat menyembuhkanmu. Tapi aku berjanji bu, aku tidak akan gagal menjadi
anakmu. Cintamu akan selalu kurawat, akan selalu tumbuh di setiap pasien yang
aku sembuhkanmu bu.
LAMPU MATI
TAMAT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar