Selasa, 11 Agustus 2026

Naskah Teater "Hari ke-32" oleh Fajarmana

 Hari Ke-32

Fajarmana (2025)



DI TENGAH PANGGUNG TERDAPAT TIRAI YANG BIASA JADI PEMISAH RUANG PASIEN, SISI SEBELAH KIRI TERDAPAT RANJANG RUMAH SAKIT YANG DI ATASNYA TERBARING PEREMPUAN PARUH BAYA YANG SEDANG SAKIT. DI SISI KANAN TERDAPAT ANAK KECIL YANG KOMA TERBARING DI RANJANG KHAS RUMAH SAKIT.

            DATANG LAKI-LAKI BERPERAN SEBAGAI DOKTER BERNAMA RANDI MEMERIKSA KEADAAN PEREMPUAN TUA YANG MERUPAKAN IBUNYA YANG SUDAH MENGALAMI GAGAL GINJAL STADIUM AKHIR.

            RANDI MELAKUKAN PEMERIKSAAN DETAK JANTUNG DAN CEK TEKANAN DARAH IBUNYA. SETELAH MELAKUKAN SEMUA ITU, DIA MENGELUS KEPALA SANG IBU SEMBARI MENAHAN TANGIS.

Randi:

            Tekanan darah ibu semakin rendah, Ginjal ibu kesulitan menghasilkan sel darah merah sehingga ibu jadi Anemia. Itu yang menyebabkan tekanan darah ibu jadi rendah. Randi khawatir, Bu. Randi khawatir dengan keadaan ibu yang semakin memburuk.

            IBU RANDI TERSADAR DARI TIDURNYA, DIA MELIHAT ANAKNYA. MENGUSAP WAJAHNYA DENGAN PELAN TANPA BERKATA APAPUN. RANDI MEMEGANG TANGAN IBUNYA YANG MENYENTUH WAJAH RANDI.

Randi:

            Ibu sudah sangat kuat sejauh ini. Berjuang melawan gagal ginjal yang sudah pada tahap stadium akhir. Ibu sangat kuat selama ini menahan sakit dan harus selalu cuci darah. Ibu pasti sangat tersiksa ya Bu. Maafkan Randi belum bisa menyembuhkan ibu.

            DATANG DOKTER BERNAMA LINA YANG MERUPAKAN DOKTER SENIOR DI RUMAH SAKIT INI. DIA MEMERIKSA PASIEN SEBELAHNYA. LALU MENGHAMPIRI RANDI.

Lina:

            Bagaiman kondisi ibumu?

            RANDI MENGGELENGKAN KEPALANYA PELAN. LINA MEMEGANG PUNDAK RANDI MENENANGKAN, RANDI.

Randi:

            Kondisi ibu, semakin memburuk. Aku khawatir ibu tidak bisa bertahan lama lagi. Fungsi ginjalnya nyaris di bawah 15%. Kita tau, itu buruk, stadium akhir dan tidak ada lagi harapan kecuali ibu menerima transplantasi ginjal. Namun, itu sangat sulit karena keterbatasan pendonor.

LINA MELIHAT KEBELAKANG KE ARAH PASIEN ANAK KECIL.

Lina:

            Pasien itu adalah pasien yang koma setelah tertabrak mobil. Dia tidak memiliki keluarga, dia ditemukan warga saat mengamen di jalan. Harapan hidupnya kecil. Mungkin tidak lama lagi dia akan meninggal. Seluruh fungsi tubuhnya menurun drastis karena kehilangan banyak darah sebelum dibawa ke sini. Kita bisa melakukan transplantasi ginjal anak itu ke ibu kamu.

Randi:

            Itu jelas melanggar hukum. Syarat transplantasi ginjal ialah melalui persetujuan pendonor atau keluarga pendonor. Tanpa itu, kita bisa kena masalah. Hukumannya berat, dan kita bisa diberhentikan dari dunia medis selamanya.

Lina:

            Iya tentu aku tau. Tapi, ini kondisi darurat, ibumu perlu ginjal baru untuk bisa melanjutkan hidupnya. Jika transplantasi berhasil, ibumu akan selamat Randi.

RANDI TERDIAM, KEMBALI KE BILIK IBUNYA DAN MENGELUS WAJAHNYA. RANDI DAN LINA SALING BERPANDANGAN.

Randi:

            Aku akan melakukan apapun untuk ibu. Bisa bantu aku melakukan transplantasi ginjal?

Lina:

            Tentu.

DARI ARAH BELAKANG TERDENGAR SUARA

Sang sutradara:

            Cuuut!!!

SUTRADARA BERTERIAK MENGHENTIKAN PEMENTASAN YANG SEDANG BERLANGSUNG. SELURUH AKTOR YANG ADA DI PANGGUNG KELUAR DARI KARAKTERNYA.

Sang Sutradara:

            Cut, cut, cut. Aduh kok lu malah setuju ngelakuin transplantasi ginjal sih.

Aktor Randi:

            Hah maksudnya?

Sang Sutradara:

            Iya kan harusnya lu menolak tawaran Lina!

Aktor Randi:

            Hah apaan dah. Kan emang bakal ada oprasi transplantasi ginjal di cerita ini.

Aktor Lina:

            Iya dah, kan biasanya kita latihan juga kayak gitu.

Sang Sutradara:

            Apasih! Bacalah naskahnya. Di naskahnyakan harusnya lu menolak tawaran transplantasi ginjal. Dan memilih untuk menemani ibulu sampai ia meninggal.

Aktor Ibu:

            Kok berubah?

Sang Sutradara:

            Berubah apa sih. Satu bulan lebih kita latihan. Kan emang begitu ceritanya. Nih lihat naskahnya.

SANG SUTRADARA MENUNJUKAN NASKAH TEATER YANG DITAMPILKAN DI PROYEKTOR MENUNJUKAN DIALOG YANG SEHARUSNYA MEREKA LAKUKAN. SEMUA AKTOR BINGUNG.

Sang Sutradara:

            Udah hari ke-32 masih aja pada gak afal. Ayo ulangi lagi. Semuanya di posisi awal adegan tadi ya. Siap. And action!

PARA AKTOR MEMAINKAN LAKON SEPERTI DI ADEGAN AWAL. SAMPAI RANDI MENGHAMPIRI IBUNYA DAN MENGELUS KEPALA IBUNYA SETELAH MENDAPAT SARAN DARI LINA. RANDI MENATAP LINA.

Randi:

            Aku sudah berusaha semampuku untuk menyembuhkan ibu. Ibu sudah berjuang dengan keras sejauh ini. Namun bukan berarti aku harus mengorbankan keselamatan orang lain untuk kesembuhan ibu. Aku tidak akan melanggar kode etik yang selama ini aku genggam. Apa artinya kesembuhan ibu jika harus melanggar hukum negara dan agama. Lebih baik, aku terus menemani ibu, menciptakan momen-momen indah dan melakukan banyak kebaikan sebelum ibu benar-benar pergi.

DARI ARAH BELAKANG TERDENGAR TERIAKAN SANG SUTRADARA

Sang Sutradara:

            Cuutt!

TERIAK SANG SUTRADARA MENGHENTIKAN PEMENTASAN. SEMUA AKTOR KEMBALI KELUAR DARI KARAKTER YANG DIMAINKANNYA.

Sang Sutradara:

            Cut, cut, cut. Aduh kok lu malah ngebiarin ibu lu meninggal sih, mana ada anak yang pengen ibunya meninggal. Baca naskah enggak sih?

SEMUA AKTOR KEBINGUNGAN.

Aktor Randi:

            Ngaco kan, ngaco. Tadi disuruh dialognya kaya tadi.

Aktor Lina:

            Yang bener lah. Capek nih latihan gini terus.

Aktor Anak kecli:

            Iya nih, capek tau.

Aktor Ibu:

            Alah lu adegannya Cuma tiduran doang aja cape.

Aktor anak kecil:

            Enak aja tidur doang. Iya kalo adegannya mah cuma tidur. Tapi kita kan setiap hari harus olah vocal, olah tubuh, olah sukma. Dikira enggak cape apa. Harus lari-larian, harus lenturin tubuh, harus teriak-teriak, harus meditasi. Setiap hari kayak gitu, dan ini udah hari ke-32, masih banyak aja yang salah.

Aktor Randi:

            Loh kok nyalahin gua?

Aktor anak kecil:

            Iya kan kalian yang salah dialog terus.

Aktor Lina:

            Enak aja kami yang salah, noh sutradara yang aneh.

Sang Sutradara:

            Udah pada salah, nyolot lagi! Nih gua liatin naskahnya lagi

SANG SUTRADARA MEMPERLIHATKAN NASKAH YANG DITAMPILKAN DI PROYEKTOR. MENUNJUKAN BAHWA NASKAH SEHARUSNYA MENCERITAKAN RANDI YANG MENGORBANKAN GINJALNYA UNTUK IBU. SEMUA AKTOR KEBINGUNGAN DENGAN KEADAAN YANG TERJADI.

Aktor Randi:

            Hah aneh-aneh. Lu sengaja rubah ya naskahnya?

Sang Sutradara:

            Udah gila kali lu, ngapain gua kayak gitu. Orang dari awal naskahnya begitu. Lu pada aja emang males baca naskah.

Aktor Lina:

            Ngaco nih. Kan barusan tadi lu nyuruh kita adegannya yang Randi nemenin ibunya sampe meninggal. Ini malah berubah lagi.

Sang Sutradara:

            Hah, aneh lu.

Aktor Ibu:

            Lu yang aneh kocak malah nyalahin kita.

Aktor Randi:

            Tau tuh, baru kali ini gua jadi aktor dapet sutradara kaya gini.

Sang Sutradara:

            Udah hebat banget lu jadi aktor gua liat-liat.

Aktor Randi:

            Lah maksud?

Sang Sutradara:

            Minimal naskah hapal lah,

Aktor Randi:

            Naskah aneh kayak gitu gmana mau ngapalinnya. Lagian ngapain ngambil naskah-naskah yang ginian coba. Kita kelompok teater mahasiswa, masa mainin teater cerita recehan gini. Teater realismah buat anak SMA kali.

Sang Sutradara:

            Siapa yang nentuin kalo realis itu buat anak SMA? Jadi menurutlu teater keren itu harus non realis gitu? Baru sampe mana buku bacaanlu? Kok udah bisa mengkotak-kotakan kayak gitu?

PARA AKTOR LAIN MENCOBA MELERAI PERKELAHIAN.

Aktor Linda:

            Setidaknya ambil lah tema yang kontemporer, gak recehan kaya gini. Liat tuh kelompok teater lain. Mereka udah ngomongin isu hari ini, distorsi tradisi, silang ruang. Kita masih aja kejebak di romantismenya Chekhov.

Sang Sutradara:

            Semua cerita berhak dipentaskan. Realisme bisa jadi turning point yang epic dikala semua kelompok sedang fokus pada post modern jika kita bisa bermain dengan baik.

Aktor Randi:

            Haha bilang aja lu gak mampu ngegarap teater-teater post-mo kan?

Aktor Anak Kecil:

            Udah-udah jadi ini gimana?

Aktor Ibu:

            Iya coba Sut, ending ceritanya jadinya gmana ini?

Sang Sutradara:

            Oke. Gua bakal telpon yang nulis naskah. Biar kita tau siapa yang salah.

SANG SUTRADARA MENELPON SANG PENULIS NASKAH. SANG SUTRADARA MELAKUKAN VIDEO CALL YANG DITAMPILKAN DI PROYEKTOR. DAN TERSAMBUNG DENGAN SANG PENULIS NASKAH YANG SEDANG BERADA DI BANGKU PENONTON. LAMPU MENYOROT KE PENULIS NASKAH.

Sang Sutradara:

            Hallo. Ini naskahlu banyak yang protes nih. Katanya aneh.

Sang Penulis naskah:

            Aneh gimana?

Sang Sutradara:

            Katanya naskahlu berubah-ubah. Eh sebentar, elu dmana?

Sang Penulis Naskah:

            Gua ada di bangku penonton sama penonton lain yang lagi nonton kalian.

LAMPU MENYALA MENYOROTI PENONTON. PARA AKTOR DAN SANG SUTRADARA KEBINGUNGAN DENGAN APA YANG TERJADI. PARA AKTOR DAN SANG SUTRADARA MEMPERHATIKAN SEMUA PENONTON, MEREKA BARU SADAR KALAU MEREKA ADALAH BAGIAN DARI PEMENTASAN.

SANG PENULIS NASKAH TURUN DARI BANGKU PENONTON DAN MASUK KE PANGGUNG PEMENTASAN. SEMBARI PARA AKTOR DAN SUTRADARA MASIH KEHERANAN DENGAN KEBERADAAN PENONTON YANG MENONTON MEREKA, SANG PENULIS NASKAH MENYADARKAN KEHERANAN MEREKA.

Sang Penulis Naskah:

            Aneh gimana?

Sang Sutradara:

            Ini, mereka bilang kalau naskahnya berubah-ubah, mereka juga bilang kalau gua yang ngubah dan nyuruh mereka melakukan adegan yang tertulis di naskah. Sedangkan gua gak pernah ngerasa begitu.

Sang Penulis Naskah:

            Iya, emang begitu ceritanya. Memang begitu konfliknya. Emang begitu klimaksnya.

Aktor Randi:

            Kenapa banyak orang di sini?

Sang Penulis Naskah:

            Mereka sedang menonton pertunjukan teater.

Aktor Lina:

            Teater apa?

Sang Penulis Naskah:

            Yaa teater yang kalian mainkan dari tadi.

Aktor Ibu:

            Jadi kita semua yang di sini adalah tokoh dalam cerita?

Aktor Anak Kecil:

            Jadi kita aktor yang sedang latihan teater ini sebenernya bukan beneran aktor, tapi hanya suatu tokoh?

Aktor Randi:

            Apa-apaan! Kita enggak mungkin Cuma tokoh cerita. Kita beneran manusia ini. Kita merasakan semua yang kita rasakan. Kita latihan setiap hari. Kita punya kehidupan di luar latihan ini. Enggak mungkin kita Cuma tokoh yang sedang ditonton oleh orang-orang.

SANG PENULIS NASKAH HANYA TERSENYUM.

Sang Sutradara:

            Jika kita semua ini hanya tokoh dalam suatu pementasan. Berarti kamu yang menciptakan kami? Dan kamu yang menyutradari kami.

Sang Penulis naskah:

            Aku hanya membuat cerita sampai kalian sadar kalau kalian hanya suatu tokoh.

Sang Sutradara:

            Jadi, bagaimana ending cerita ini?

Sang Penulis naskah:

            Tidak tau. Ceritaku cuma sampai sini. Dan tugasku sudah selesai.

Sang Sutradara:

            Tugas apa?

SANG PENULIS NASKAH TIDAK MENJAWAB DAN HANYA PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG. SANG SUTRADARA KEBINGUNGAN DAN MULAI BERDISKUSI DENGAN PARA AKTOR. SANG SUTRADARA LALU MENGAJAK PENONTON BERBICARA. MENAWARKAN 3 ENDING YANG BERBEDA UNTUK LANJUTAN CERITA. PENONTON DIBAGI MENJADI BEBERAPA KELOMPOK UNTUK VOTING.

HASIL VOTING AKAN MENENTUKAN ENDING CERITA.

 

ENDING PERTAMA

ENDING PERTAMA AKAN MELAKSANAKAN PROSES TRANSPLANTASI GINJAL DENGAN MENGORBANKAN ANAK KECIL DENGAN PROSES YANG MELANGGAR HUKUM TANPA PERSETUJUAN.

ADEGAN DIULANG DARI AWAL HINGGA DOKTER RANDI MEMUTUSKAN UNTUK SETUJU DENGAN SARAN DOKTER LINDA.

Randi:

            Tapi kita tidak bisa melakukan ini hanya berdua. Kita membutuhkan dokter ahli bedah dan nefrolog.

Lina:

            Ada temanku dari rumah sakit lain yang mungkin bisa membantu. Tapi kamu tau, kamu harus menyiapkan bayarannya.

Randi:

            Tidak masalah. Aku akan melakukan berbagai cara untuk kesembuhan ibu.

RANDI MENGHAMPIRI IBUNYA

Randi:

            Ibu, ibu bertahan lagi ya bu. Ibu akan sembuh sebentar lagi. Randi janji akan membuat ibu sembuh lagi.

LAMPU MATI. ADEGAN BERALIH SAAT RANDI DITAHAN DI RUTAN. DI SUATU RUANG RANDI BERTEMU IBUNYA YANG MEMBESUK MENGGUNAKAN KURSI RODA. RANDI MENGGUNAKAN PAKAIAN TAHANAN MENEMUI IBUNYA YANG MEMBESUK.

Ibu:

            Apa kabar nak?

Randi:

            Bisa jadi lebih buruk dari ini bu. Randi senang ibu bisa membaik. Ibu sudah merasa lebih baikkan?

Ibu:

            Iya. Tapi apa artinya nak? Kalau kamu harus jadi seperti ini.

Randi:

            Ibu, Randi akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu. Semua hal tentang ibu adalah yang utama bagi Randi. Randi cuma punya ibu, maka itu Randi mengusahakan semua demi keselamatan ibu.

Ibu:

            Dengan mengorbankan orang lain, nak? Dengan melanggar hukum?

Randi:

            Maaf bu, Randi tidak punya pilihan lain.

Ibu:

            Kamu punya pilihan, nak. Kamu memilih hal yang salah.

RANDI TERTUNDUK.

Ibu:

            Berapa lama kamu akan dipenjara nak?

Randi:

            Vonis terberat adalah 15 tahun penjara, Bu. Akan ada banyak tuntutan di persidangan nanti karena aku melanggar banyak pasal. Bahkan, aku membuat anak itu kehilangan nyawanya.

Ibu:

            Nak. Cuma kamu juga yang ibu punya di rumah. 15 tahun? Bahkan ibu tidak yakin akan tetap hidup selama itu untuk menunggumu keluar dari penjara. Lalu, apa artinya kamu membiarkan ibu bisa selamat dalam kesendirian selama 15 tahun?

Randi:

            Ibu tetep bisa bertemu randi di penjara kok bu

Ibu:

            Dan siapa yang akan merawat ibu di rumah? bagaimana jika ibu jatuh sakit di rumah? kepada siapa ibu akan meminta tolong? Bagaimana jika ibu meninggal dalam kesendirian di rumah tanpa diketahui siapapun?

Randi:

            Ibu jangan bicara seperti itu.

Ibu:

            Apa kamu masih berpikir bahwa apa yang kamu lakukan itu benar, nak?

RANDI HANYA MENGGELENG

Ibu:

            Ginjal ini, dari anak yang mungkin dia berharap akan sembuh suatu nanti. Apa artinya semua ini nak? Kamu salah. Salah dari mata agama ataupun hukum negara ini. Kamu harus mempertanggungjawabkannya nak.

Randi:

            Maafkan Randi bu.

Ibu:

            Ibu memaafkan nak.

Randi:

            Doakan Randi agar sidangnya berjalan lancar ya bu. Semoga hukumannya bisa diringankan agar Randi bisa segera menemani ibu. Randi akan menjalani semua hukuman sebagai tanggung jawab atas apa yang Randi lakukan. Selamat tinggal bu.

RANDI BERPAMITAN DAN PERGI MENYISAKAN IBUNYA YANG MASIH DI TENGAH PANGGUNG. LAMPU MATI. DAN TAMAT

 

ENDING KEDUA

RANDI MENOLAK TAWARAN LINA. SEPERTI DI ADEGAN SEBELUMNYA.

LINA:

            Kamu adalah anak yang baik dokter Randi. Semoga ibumu segera cepat sembuh ya. Semangat berjuang lagi. Aku mau mengecek pasien lain dulu.

LINA KELUAR PANGGUNG.

RANDI:

            Randi ada di sini, bu. Randi akan selalu menemani ibu. Ayo kita berjuang lagi untuk kesembuhan ibu. Kalo ibu sudah membaik, nanti kita jalan-jalan ya bu. Kita akan pergi ke tempat favorit ibu yang biasa kita datangi seperti dulu saat ayah masih ada. Atau ibu mau makan lobster favorit ibu? Atau kemanapun akan randi temani kalau ibu sudah sembuh. Randi pergi cek pasien lain dulu ya bu.

RANDI PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG. LAMPU REDUP.

BABAK SELANJUTNYA LAMPU MENYALA DENGAN WARNA DRAMATIS. PANGGUNG ADA DUA RANJANG NAMUN HANYA TERSISA SATU PASIEN YAITU IBUNYA RANDI YANG SEDANG SEKARAT. NAFASNYA TERENGAH-ENGAH.

 

Randi:

            Ibu…

IBU MEMEGANG PIPI RANDI DENGAN LEMAS. RANDI MENANGIS.

Randi:

            Ibu sudah melalui semua ini dengan hebat bu. Randi bangga punya ibu sekuat ibu. Tapi apa Randi bisa jadi orang yang kuat juga jika ibu tiada?

Ibu:

            Kamu selalu kuat, kamu selalu hebat. Kamu sudah menolong banyak orang.

Randi:

            Tapi untukmu ibu. Aku hanya bisa berdiri di sini melihatmu lemah tak berdaya. Semua ilmu yang aku punya, tidak cukup untuk membuat ibu sembuh.

Ibu:

            Kamu sudah melakukan yang terbaik nak.

Randi:
            Beberapa temanku pernah menyarankan untuk melakukan transplantasi ginjal anak yang dirawat di sebelah sana bu. Dia dulu memiliki harapan hidup kecil karena kecelakaan. Tapi dia sekarang sudah sembuh bu. Aku tidak tau keputusanku dulu itu benar atau tidak.

IBU HANYA TERSENYUM LIRIH.

Randi:

            Selama sebulan terakhir. Walau kondisi ibu belum membaik, kita sudah menciptakan momen-momen indah ya bu. Semoga ibu senang walau akhirnya Randi tidak dapat menyembuhkan ibu.

IBU SEKARAT. DAN MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA. RANDI MENANGIS SEJADINYA.

Randi:

            Ibu.. mungkin aku gagal untuk menjadi dokter karena tak dapat menyembuhkanmu. Tapi aku berjanji bu, aku tidak akan gagal menjadi anakmu. Cintamu akan selalu kurawat, akan selalu tumbuh di setiap pasien yang aku sembuhkanmu bu.

LAMPU MATI

TAMAT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template