Rawannya terjerumus menjadi "Pelacur" saat menjadi Mahasiswa Seni
Fajarmana
"Asik ya jadi mahasiswa seni."
"Seru banget bisa kuliah sesuai hobi."
"Pasti menjalankan perkuliahan dengan semangat dan senang."
Dan beberapa ucapan klise lain yang selalu dilontarkan oleh orang-orang kepada mahasiswa seni. Sebenarnya tidak salah, justru memang harusnya seperti itu. Logika sederhananya, orang yang masuk ke jurusan seni harusnya memiliki hobi seni, kan? Tapi apa itu modal yang cukup? Apa suka menggambar, bernyanyi, bermain musik dan berteater sudah jadi bekal yang aman untuk menjalani perkuliahan selama 4 tahun bahkan lebih?
Di sini saya tidak akan fokus membahas tentang kesulitan berkuliah di seni, karena mungkin kita semua sepakat, setiap jurusan punya tantangan tersendiri di dalamnya. tetapi saya akan mencoba memberi asupan berpikir yang mungkin mahasiswa seni sendiri tidak menyadari fenomena-fenomena yang terjadi di tubuhnya.
"Nilai hanyalah angka."
Sering mendengar itu? Ntah dari dosen, teman atau senior di kampus. Mungkin ada dua jenis mahasiswa; yang mengutamakan nilai dan mengutamakan pendalaman pemahaman. Dua-duanya tidak salah, dan lebih bagus jika bisa mengkondisikan keduanya. Tugas inti mahasiswa adalah belajar, ujian dan mendapat nilai. Tapi, apa rela kuliah dengan biaya yang tidak murah hanya untuk mencari dan mendapatkan itu saja?
Mengenyam pendidikan di kampus membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan ilmu lebih banyak, tapi bukan berarti hanya berbentuk materi yang diberikan oleh dosen. Jika kamu berpikir hanya itu, ketahuilah, itu semua bisa dicari di Google, Gemini dan Chat GPT. Perbedaan sepesial yang kamu dapat ketika berkuliah dengan yang tidak berkuliah ialah kamu mempunyai akses lebih banyak untuk membaca buku, kesempatan berorganisasi, berkembang melalui jejaring dan relasi, juga mendapatkan pengalaman-pengalaman magang yang sangat berguna untuk kehidupan setelah kuliah.
Maka dari itu, sangat disayangkan jika datang ke kampus hanya demi mati-matian untuk mendapatkan nilai yang mungkin dosenmu ketika memberikan itu bukan hanya melihat dari hasil ujian, namun ada sisi objektif dan subjektif yang mungkin tidak kamu tau. Tidak percaya? Tidak masalah. Hal itu hampir terjadi di semua jurusan, beberapa memang tidak masalah hanya kuliah lalu mendengar dosen bicara dan ujian. Tapi bagaimana dengan mahasiswa seni? Apa masalahnya kalau hanya seperti itu?
Hampir 80% pembelajaran di jurusan seni adalah praktek. Mungkin hanya di semester-semester awal yang kebanyakan teori. Seperti di jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan Untirta contohnya, pada semester awal para mahasiswa belajar teori dasar musik, sejarah musik, sejarah seni rupa, sejarah perkembangan teater dan filsafat seni. Hampir semuanya full belajar teori dengan hanya mendengarkan dosen serta membaca referensi dari buku. Namun, itu hanya sebagai dasar, pijakan awal untuk praktek di semester selanjutnya. Itupun jika mahasiswanya belajar serius dan mengembangkannya di luar kelas. Pada semester selanjutnya, mahasiswa akan diajarkan praktek dan diminta untuk membuat karya demi menuntuskan ujian lalu mendapat nilai. Itu akan terus berulang di semua mata kuliah hingga semester akhir.
Sebagai mahasiswa yang akan mengemban gelar seniman di masyarakat—suka atau tidak suka—tentu materi yang diterangkan oleh dosen juga peraktek karya yang bersifat tugas saja tidak cukup untuk membawa ke lingkup yang lebih luas. Perlu adanya pengembangan dan pengalaman yang bisa dicari di luar perkuliahan. Masalahnya, banyak mahasiswa terlena dengan sistem jual beli nilai dengan karya, karena menganggap itu adalah hal yang cukup. Sementara, materi-materi yang diberikan di jurusan pendidikan seni pertunjukan tidak mendalam, walau di semester 5 akan ada konsentrasi sesuai minat mahasiswa—Teater, musik dan tari. Namun tetap saja, dikarenakan jurusan ini masuk ke fakultas keguruan ilmu pendidikan (FKIP) yang mana mahasiswa dibentuk untuk menjadi guru setelah lulus bukan pure menjadi seniman, maka para mahasiswa tidak hanya belajar seni tapi harus belajar soal pendidikan dan keguruan.
Kebanyakan Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukkan tidak berniat untuk menjadi guru
Rata-rata mahasiswa yang mengambil jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan adalah orang yang memiliki hobi di satu bidang seni tertentu. Contoh: Ada satu orang yang semasa di sekolah sangat hobi bermain alat musik, misal gitar. Dia bercita-cita menjadi seorang musisi ternama dan dapat belajar musik lebih dalam semasa kuliah. Karena pilihan kampus yang menyediakan jurusan seni di Banten hanya di Untirta dengan jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan, atas pertimbangan tidak percaya diri mengambil kuliah seni di IKJ, ISBI ataupun ISI—atau mungkin sudah pernah daftar namun tidak diterima—maka pilihan satu-satunya hanya ada di Untirta mengambil jurusan seni yang bercampur dengan pendidikan yang mana mahasiswanya ditempa untuk menjadi guru seni di masa depan.
"Ah mungkin bakal sama, pasti belajar musik dan bisa memperdalam ilmunya sehingga nanti aku tidak usah menjadi guru, namun menjadi musisi ternama yang akan mengguncang skena musik internasional. Dari pada tidak kuliah, kan?"
Mungkin pikiran beberapa mahasiswa seperti itu. Maka dari itu dengan semangatnya yang membara, dia mendaftar dan kuliah di jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan. Namun di tengah perjalanan semangatnya goyah dikarenakan dia bukan hanya bermain musik, tapi harus bermain teater, melukis bahkan menari. Belum lagi dia harus mempelajari semua materi pendidikan seperti psikologi pendidikan, kurikulum pendidikan, evaluasi pembelajaran, microteaching, PPLK dan lain-lain.
Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa hanya dapat memilih antara ikhlas dan menerima takdir bahwa dirinya harus menjadi guru seni atau dia tetap teguh pendirian dengan belajar lebih dalam ilmu musik di luar kampus dengan memperbanyak pengalaman dan relasi.
Kendati demikian, dibukanya jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan di Banten merupakan jawaban dari masalah kekurangan guru seni profesional. Karena sebelum adanya lulusan-lulusan Pendidikan Seni Pertunjukan, Sekolah-sekolah di Banten sangat kekurangan tenaga pendidik seni yang secara resmi dari lulusan seni. Hal itu mengakibatkan banyaknya guru di sekolah yang merangkap menjadi guru di pelajaran seni walau latar belakang pendidikannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan seni. Biasanya guru itu dipilih karena dia yang paling bisa bermain musik, menggambar atau pernah belajar tari di sanggar.
Dengan kondisi seperti itu, tidak sedikit juga mahasiswa yang masuk ke jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan karena memang bertujuan untuk menjadi guru seni karena melihat peluangnya lebih besar dibanding menjadi guru-guru yang lain. Terbukti di tahun 2025 ini, banyak lulusan Pendidikan Seni Pertunjukan yang menjadi guru profesional—bahkan banyak yang lulus p3k—yang kini tersebar ke seluruh Banten, hal itu mengakibatkan meningkatnya kompetensi siswa dalam bidang seni karena guru yang mengajarnya memang ahli di bidang seni.
Tapi, jalan menuju ke arah sana sangat berat dikarenakan selama prosesnya banyak mendapat goncangan ideologi dan putus asa.
Hilang arah dan merasa salah jurusan di bidang yang disuka
Percaya tidak percaya, banyak loh mahasiswa pendikan seni pertunjukan yang memiliki hobi seni semenjak sekolah—bahkan sejak kecil—namun ketika masuk dan belajar di jurusan seni malah merasa salah jurusan. Aneh? ironi? hal itu benar-benar bisa dimaklumi kok. Ada beberapa faktor sehingga mahasiswa yang suka seni merasa salah jurusan ketika masuk jurusan seni;
1. Mata kuliah yang kompleks
Seperti yang dibahas sebelumnya. Pendidikan Seni Pertunjukan merupakan jurusan yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi guru seni. Hal itu menyebabkan beragamnya mata kuliah yang harus diampu oleh para mahasiswa. Hal itu penting sebagai bekal untuk menjadi guru seni di masa yang akan datang. Namun itu juga bisa membuat mahasiswa frustasi karena tidak dapat fokus belajar ke satu bidang yang ia minati. Dalam kondisi seperti ini, kebijaksanaan mahasiswa diuji. Apakah dia akan menyerah dengan keadaan atau justru semangat karena dia mendapat kesempatan belajar banyak hal di kampus. Menurutmu, kondisi mana yang paling banyak? tanya aja sendiri ke temenmu yang mahasiswa seni ya. Hehe.
2. Goyahnya idealis
Mahasiswa tentu punya ekspektasi yang dibawa sebelum memulai perkuliahan. Mungkin ada beberapa mahasiswa yang merasa sudah ahli dalam pembelajaran tertentu di bidang seni, dan berharap dapat mengasah dan menambah pengetahuannya saat berkuliah. Namun nyatanya, materi yang diajarkan di mata kuliah merupakan materi-materi dasar agar bisa inklusif kepada mahasiswa yang bukan ahli di bidang tertentu. Hal ini mengakibatkan harapan bertambahnya ilmu baru pupus. Ini bukan salah kurikulum, semuanya benar dan tepat. Materi fundamental dari masing-masing bidang seni perlu untuk diajarkan agar mahasiswa dapat menyampaikan materi itu ketika menjadi guru kelak. Namun, ada beberapa Mahasiswa yang terlanjur kecewa lalu meremehkan materi yang diberikan dosen dan berakhir merasa salah jurusan.
"Harusnya gua ambil seni murni." Mungkin begitu gumamannya.
3. Ruang kolektif berubah menjadi ruang kompetisi
Kerja seni merupakan kerja kolektif. Baik tari, musik, teater bahkan seni rupa juga harusnya berada di ruang kolektif yang saling mendukung dan membantu. Ekosistem seni harusnya seperti itu. Di beberapa kasus, ada mahasiswa yang merasa kemampuannya tidak layak berada di jurusan ini. Dikarenakan faktor-faktor di atas juga. Ada loh beberapa mahasiswa yang dari awalnya dia minat di bidang A, namun ketika proses perkuliahan dan akhirnya tiba di semester konsentrasi, dia justru "murtad" dengan memilih bidang B. Penyebabnya mungkin ada 3: Kalah saing di bidang terdahulu; selama berkuliah tertarik di bidang baru; dan merasa bidang baru lebih murah dan mudah dibanding bidang terdahulu. Namun perlu diapresiasi. Ekosistem kolektif di Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan sudah sangat kuat. Dibuktikan dengan saling bantunya junior dengan senior di beberapa ujian mahasiswa seperti Komposisi ataupun Uji Karya, itu keren loh! walau memang jadi ladang bisnis juga sih, hehe, oknum itu. Lebih banyak yang ikhlas kok. hehe.
Mahasiswa seni menanggalkan esensi seni, dia menjelma menjadi "Pelacur"
Maaf agak kasar diksinya. Namun saya tidak tau diksi apa yang paling sesuai untuk mahasiswa seni yang membuat karya hanya untuk mendapat nilai. Jika dianologikan seperti bersetubuh, bersetubuh itu bisa jadi ibadah dan bisa jadi dosa. Ibadah yang bisa mendapat pahala yang besar jika bersetubuh dilakukan oleh pasangan yang sah dan diridhoi Tuhan. Namun, bersetubuh juga bisa jadi dosa jika dilakukan dengan pasangan yang belum sah atau niat bersetubuh hanya untuk mendapatkan uang seperti pelacur.
Seperti karya, karya bisa menjadi hal yang luar biasa indah dan bermanfaat untuk masyarakat jika motifasinya untuk membuat perubahan, menyampaikan pesan dan memberi edukasi. Namun bisa juga jadi keliatan menyedihkan jika hanya bisa membuat karya yang bertujuan untuk mendapat nilai semata.
Tentu bukan suatu masalah ketika membuat karya untuk keperluan ujian dan nilai. Itu adalah bentuk tes dan evaluasi selama perkuliahan guna membuktikan apakah pelajaran yang diajarkan dosen kepada mahasiswa dapat dimengerti atau tidak. Itu indikator yang penting bagi dosen untuk menentukan apakah mahasiswa dapat diluluskan atau tidak. Yang jadi masalah, mahasiswa terlena menghabiskan waktu 4 tahun atau lebih hanya untuk berfokus pada nilai.
Padahal, menjadi mahasiswa seni adalah privilege untuk mengembangkan diri lebih dari hanya sekedar mengejar nilai. Mahasiswa dapat berjejaring dengan sesama pelaku seni di luar kampus, bisa melakukan kegiatan sharing pengetahuan atau bahkan melakukan kolaborasi yang menciptakan karya luar biasa. Bisa juga mengunjungi workshop-workshop seni atau studi banding dengan mahasiswa seni dari kampus lain guna menambah wawasan.
Jika ilmu yang didapat dari dosen, buku atau hasil sharing dengan pelaku seni lain dapat dipahami. Mahasiswa seni bisa membuat ruang di kampus yang berfungsi untuk mengasah kekaryaan mereka. Hasilnya mereka dapat membuat karya yang terlepas dari kewajibannya dalam mengejar nilai. Dengan ruang yang diciptakan, mahasiswa dapat membuat karya yang berasal dari hati sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri atau orang lain yang mengapresiasi karyanya.
Dalam perjalanan terbentuknya jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan, tidak sedikit juga kok yang mengabdikan dirinya secara totalitas untuk perkembangan seni dan budaya. Ada banyak juga mahasiswa yang ingin selalu berkarya dan mengembangkan dirinya di luar. Dan dimohon yang sudah memiliki kesadaran tersebut untuk mengajak temannya yang masih terbelenggu dengan pemahaman kuliah hanya sebatas mendapat nilai. Karena jujur saya sangat khawatir dengan mereka. Saya takut, ketika lulus dan terjun di masyarakat, mereka hanya dapat berpaku pada teori yang diajarkan tanpa pengalaman estetisnya sebagai pelaku seni yang memiliki jiwa seni, bukan sebagai pelaku seni yang memiliki jiwa hampa.
Seni sangat indah dan luas. Kita tidak boleh membatasi diri pada hal yang lebih sempit. Semoga seni, sastra dan budaya Indonesia bisa lebih maju ke depannya. Aamiin.

Aminnn
BalasHapus