Minggu, 01 Februari 2026

Esai: Pementasan teater Malam Jahanam di malam yang serba cepat




    Di penghujung bulan Januari tahun baru 2026, saya diundang secara langsung untuk datang ke acara inagurasi Kompas Unbaja. Yang merupakan acara penampilan seni untuk anggota baru UKM Kompas. Acara yang memang biasa dilakukan oleh beberapa UKM seni di kota Serang, untuk mempertunjukan penampilan dari regenerasi anggotanya. Metode inagurasi sebagai "Ujian" ini sudah dilakukan bertahun-tahun oleh kelompok seni kampus. Yang diharapkan setelah acara tersebut, akan tercipta seniman kampus yang punya pengalaman pentas, sehingga mereka bisa menjalani kehidupan seni di kampusnya dan bisa mengajarkan hal yang sama untuk anggota baru di tahun berikutnya.

    Dalam acara inagurasi UKM seni, biasanya akan menampilkan beberapa pementasan dari berbagai elemen seni: teater, tari dan musik. Begitupun dengan inagurasi yang ditampilkan oleh UKM Kompas Unbaja pada malam 31 Januari 2026 di gedung KNPI KP3B.

    Acara dibuka dengan beberapa sambutan dan doa. Setelah acara formal selesai, MC non formal masuk. Dua orang perempuan yang energik langsung menyapa penonton dengan menggelegar. Mereka memakai kostum tari—yang ternyata dua perempuan itu adalah penari yang akan tampil. 

    Pertunjukan pertama dibuka dengan menampilkan dance modern. Penonton yang ramai itu langsung terkesima tatkala tiga perempuan menari dengan lagu dan musik yang asik. Setelah selesai, MC langsung memandu ke penampilan lainnya, yaitu penampilan tari tradisional Damar Mesunar yang merupakan tari tradisional dari Jawa Timur.

    Sesaat setelah penampilan tari yang terakhir selesai. Ada pembacaan judul dari pementasan selanjutya. Suasana gedung pertunjukan menjadi riuh oleh tepuk tangan penonton yang tidak sabar menanti pertunjukan inti dari acara ini, bersahutan dengan musik yang mengalun tegang. Lampu berkedip dramatis, memainkan warna merah dan oranye dengan cepat. Mendadak lampu black out, dan beberapa saat kemudian, lampu menyala perlahan. Dan begitulah, dimulainya penampilan terakhir dan menjadi penampilan pamungkas mereka yang merupakan pertunjukan teater dengan judul "Malam Jahanam" karya Motinggo Busye.

    Lakon Malam Jahanam merupakan lakon teater yang dibuat tahun 1958, yang menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Mat Kontan dan Paijah yang berlatar tempat di lingkungan pesisir pantai. Lakon ini fokus pada realisme sosial dan efek konflik psikologis. Melalui dialog-dialog yang panjang, para tokoh digambarkan mengalami pergeseran perasaan dari adegan ke adegan.

    Secara singkat,  Malam Jahanam menceritakan tentang Mat Kontan yang merupakan seorang lelaki kasar, arogan dan narsistik yang hidup bersama istrinya, Paijah. Mereka juga memiliki seorang tetangga yang bernama Soleman, lelaki yang belum punya istri. Soleman juga selalu hidup dan bersahabat dengan Mat Kontan.  Mat Kontan digambarkan sebagai seorang laki-laki yang selalu membanggakan burungnya. Bahkan lebih memikirkan burung itu dibandingkan istri dan anaknya. Dia menganggap, burung itu sebagai simbol kejantanannya, karena secara diam-diam dia menyembunyikan rasa rendah diri akibat belum juga memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah. Yang pada akhirnya memiliki anak juga walau sedang sakit saat pementasan ini berlangsung.

    Suatu malam, saat Mat Kontan yang sedang bercerita dengan Soleman tentang burung, istri dan anaknya. Dia baru menyadari bahwa burung beo kesayangannya hilang. Mat Kontan mencari dan mencurigai istrinya yang sudah membunuh burung itu. Mat Kontan marah besar, dia mengancam akan membunuh siapapun yang menghabisi burung beo itu. Namun itu bukan hanya soal terungkapnya siapa pembunuh burung beo Mat Kontan, di klimaks juga akhirnya terungkap bahwa "Si Kecil" yang merupakan anak dari Mat Kontan dan Paijah ternyata merupakan anak dari hubungan gelap Paijah dan Soleman. Konflik memuncak saat Mat Kontan dan Utai memburu Soleman yang diakhiri dengan kabar bahwa Utai meninggal karena patah leher oleh Soleman. Di malam Jahanam itu juga ditutup dengan si kecil yang meninggal di pelukan ibunya, sesaat Mat Kontan pergi ke dukun untuk mencari pertolongan setelah dia mencoba menerima keadaan perselingkuhan itu.

    Penampilan teater oleh UKM Kompas ini dipentaskan dengan cukup baik. Aktor-aktor juga bisa dengan cukup lancar melakukan adegan dan dialog. Cara mereka menjaga stamina perlu diapresiasi. Karena dengan naskah yang sepanjang itu, tentu perlu latihan intens untuk menjaga stamina dan vokal agar tetap prima. 

    Dari segi keaktoran, para aktor sudah bisa menyelesaikan dialog-dialog panjang dengan cukup jelas. Walau ada beberapa yang bias karena beberapa faktor seperti penonton yang berisik atau kesalahan pengucapan. Namun secara garis besar, mereka sudah dengan jelas menyampaikan dialog yang ada di naskah. 

    Namun aktor bukan hanya bertugas sebagai penyampai dialog. Di balik kata-kata, ada motivasi, makna dan rasa. Pada beberapa adegan, saya merasa ada gerakan aktor yang kurang organik; Ada beberapa gerakan tambahan yang justru mendistorsi kewajaran akting. Akibatnya, pada momen-momen tertentu, akting terasa dikonstruksi, bukan terjadi secara alami. Mungkin terlihat seperti dibuat-buat.

    Di sisi lain, apresiasi tinggi patut diberikan kepada pemeren Utai. Ia berhasil menghidupkan tokoh yang tampil sebagai sosok dengan hambatan perkembangan mental.  keberhasilannya masuk ke dalam "dunia sendiri" menciptakan kontras yang ironis: di saat tokoh lain sibuk dengan kemarahan dan pengkhianatan, Utai hadir dengan kejujuran yang menyakitkan.

    Sedangkan aktor yang lain perlu motivasi yang kuat di beberapa adegan untuk mempertajam dialog dan gerakan yang jujur. Namun itu semua bisa dilatih dan dikembangkan untuk pementasan selanjutnya. Aktor-aktor yang tampil di Malam Jahanam sangat berpotensi menjadi aktor yang baik. Semoga mereka mau memperkaya diri dengan pengetahuan dan latihan teater yang serius.

    Beralih ke ranah penyutradaraan, pementasan ini disutradarai oleh Riffaudin Annas dan Muhammad Davi Azkia. Yang menurut keterangan saat sesi tanya jawab, mereka adalah kakak tingkat di UKM Kompas Unbaja. Secara konsep pementasan, sutradara sudah membaca arah pementasan ini sesuai petunjuk yang ada di naskah. Menggunakan properti dua rumah dari bilik bambu, serta jemuran dan sumur yang ada di antara dua rumah itu.

    Pemilihan artistik sudah cukup pas. Ditambah, sutradara sadar akan pentingnya menghidupkan properti, dibuktikan dengan para aktor yang sering merespon properti yang ada. Hal itu memberi efek bahwa properti bukan pajangan semata, melainkan bagian dari pementasan.

    Masalah mungkin ada di gedung pertunjukan. Walau gedung KNPI biasa digunakan untuk tempat pementasan, tapi sejatinya gedung itu bukan merupakan gedung teater, khususnya untuk pementasan yang perlu panggung prosenium. Level panggung dan penonton sejajar, tidak ada leveling ataupun bangku berundak. Sehingga penonton yang duduk di belakang kesulitan melihat apa yang ada di lantai pementasan karena terhalang oleh penonton yang ada di depan. Selain leveling, lantai pementasan yang tidak ditutupi oleh vinyl flooring yang membuat cahaya kabur dan terpantul. Namun, walau dengan keterbatasan itu, UKM Kompas Unbaja tetap menampilkan yang terbaik. Itu perlu diapresiasi dan menjadi catatan untuk pemerintah Kota Serang agar memperbanyak ruang pementasan untuk pelaku seni yang proper.

    Saya juga menyoroti bagaimana sutradara memilih naskah lakon Malam Jahanam untuk dipentaskan di acara Inagurasi ini. Lakon ini alurnya sangat detail. Mengandalkan suasana, suhu udara yang panas di pesisir, suara burung, dan kegelisahan tokoh yang sengaja diulur-ulur untuk menciptakan rasa gerah secara fisik maupun psikologis. Hal itu mengakibatkan pementasan berjalan dengan sangat lambat. Ditambah Lakon Malam Jahanam termasuk lakon one-act play yang berarti hanya ada satu babak panjang yang linear dan berlangsung dalam satu kesatuan waktu.  Sehingga beresiko penonton akan merasa bosan jika tidak dipentaskan dengan formula yang pas.

    Sutrada dan para aktor mungkin sudah sepakat untuk mengadegankan seluruh dialog yang ada di naskah. Seingat saya, benar-benar original tanpa ada perubahan apapun. Itu membuat pementasan terasa lambat, beberapa penonton—khususnya yang berada di belakang—tidak fokus pada pementasan. Ada yang mengobrol, bermain handphone, bahkan memilih untuk meninggalkan gedung walau saya tidak tau alasan pastinya. Tapi itu cukup membuat konsentrasi saya terganggu saat menonton ini.

    Sutradara mungkin sudah bisa menebak bahwa perspektif penonton modern terbiasa dengan sesuatu yang cepat, maka dengan pemilihan naskah yang panjang—juga terpengaruh dengan gedung pertunjukan yang tidak benar-benar membuat penonton di belakang fokus pada pementasan—itu sangat beresiko tinggi. Mungkin para sutradara harus bisa memangkas beberapa dialog dan adegan yang repetitif, sehingga akan membuat pementasan jadi lebih fokus dan ringkas.

    Namun semua itu hanya bagian kecil yang masih bisa diwajarkan dan dijadikan bahan evaluasi untuk ke depannya. Para tim estetika dan tim produksi sudah sangat baik mempersiapkan acara dan pementasan ini. Maka, saya mengucapkan selamat kepada UKM Kompas Unbaja yang telah sukses dengan acara Inagurasinya.

    Dari acara-acara inagurasi yang setiap tahun diadakan oleh para kelompok seni kampus, seringkali terasa bahwa pementasan besar hanya terjadi saat anggota baru masuk. Harapan saya, setelah inagurasi selesai, para aktor dan sutradara tidak berhenti proses dan mementaskan hal lain di luar acara inagurasi. Hal ini agar para aktor baru memiliki kesempatan banyak melakukan pementasan. Sehingga kelompok seni kampus akan membuat pementasan progresif menggunakan aktor yang sudah "terlatih", bukan hanya aktor-aktor baru yang dipentaskan hanya saat seremonial inagurasi.

    Inagurasi ini bukan sekedar garis finish bagi anggota baru, melainkan pintu gerbang. Melihat potensi yang ada pada pementasan Malam Jahanam, saya optimis bahwa regenerasi seniman kampus di Serang akan terus melahirkan karya-karya yang lebih matang dan berani di masa depan.


Oleh: 

Fajarmana

(Barista) 

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template