Selasa, 11 Agustus 2026

Cerpen "Pendar-pendir" oleh Fajarmana

 Pendar-pendir

Fajarmana


"Nietzsche sudah mati"
-Tuhan
Tulisan di rolling door toko cat kiloan pinggir jalan merebut perhatian. Di sana tempat kamu dan Aceng berteduh sejak setengah jam yang lalu karena terjebak hujan. Motor Aceng yang mogok juga membuat kalian saling melamun sesaat. 

Kamu memeras air hujan dari ujung jaketmu yang terasa berat. Sementara Aceng mengeluarkan bungkus rokok yang berembun. Dia menghela napas. Rokok itu satu-satunya yang ada di sana.
"Mau nggak, Raka?" Aceng menyodorkan kepadamu. Kamu menggeleng. Tanganmu yang sedari tadi melingkar di perut lebih terlihat membutuhkan nasi ketimbang asap.

Aceng menyalakan api, pendar cahayanya kembali menyinari tulisan di rolling door itu. Matamu mengikuti arah pandangannya. Aceng mendengus, kepulan asap keluar dari mulutnya. Perlahan melebur bersamaan dengan dinginnya malam itu.

"Receh," sinisnya. Matanya menyipit melihat tulisan itu. "Orang-orang yang mengaku beriman selalu butuh pelipur lara murahan buat menenangkan egonya."
Kamu menoleh. Dahimu mengkerut. "Apaan dah,? Tiba-tiba banget."

Aceng menunjuk tulisan itu dengan dagunya. "Lihat itu. Coretan orang kalah. Mereka pikir dengan membalik kutipan Nietzsche, mereka bisa membuktikan eksistensi Tuhan. Padahal itu cuma bukti mentalitas budak. Nggak berani nerima realitas kalau semua ini menuju kosong, jadi mereka bikin grafiti sampah buat menghibur diri."

Kamu menatap tulisan itu sejenak, lalu menghela napas panjang. Uap dingin keluar dari mulutmu. "Sempet-sempetnya lagi kayak gini ngerasa sok pinter soal iman." Suaramu terdengar sedikit gemetar. "Sekarang nih kita lagi kejebak di jalan sepi. Mikirin keluar dari jalur kabupaten rasanya paling masuk akal. Motor lu mogok noh, karburatornya kemasukan air. Mana nggak ada orang lewat buat ngebantuin. Perut gua juga laper."

"Itu beda lah," Aceng mendengus. "Mogok ya mogok. Tapi fakta bahwa masyarakat kita masih berlindung di balik dogma reaksioner kayak tulisan di pintu itu, itu realitas eksistensial yang bikin muak. Manusia itu harusnya jadi pencipta maknanya sendiri. Bukan pengecut yang berlindung di balik tuhan."

"Si paling manusia unggul," potongmu tajam. Terlihat kalau kamu mulai emosi. "Kalau lu emang pencipta makna lu sendiri, coba ciptakan makna gimana caranya karburator motor lu bisa nyala lagi sekarang! Coba pake teori kehendak lu itu buat bikin perut kita kenyang malam ini!"

Aceng terdiam. Mulutnya tertutup rapat. Sejenak dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Sangat terlihat kalau egonya kesenggol.

"Filsafat nggak ngurusin hal-hal mekanis picisan," jawab Aceng dingin, membuang muka ke arah jalanan yang gelap dan kosong.

"Justru itu masalahnya, Ceng!" Kamu menyandarkan punggungmu ke dinding ruko, merosot pelan hingga berjongkok, memeluk lututmu sendiri. "Lu sibuk ngurusin Langit ini kosong atau nggak, lu hina orang yang nulis mural itu sebagai budak, tapi seenggaknya orang itu mungkin sekarang lagi tidur nyenyak di kasurnya yang anget. Lah kita? Kita cuma dua orang tolol yang kedinginan, kelaparan, dan nggak bisa pulang."

Tidak ada balasan. Rokok Aceng habis, dia buang puntung itu ke bawah, lalu menginjak-injak dengan sepatunya.

Kalian saling diam, menatap kosong jalanan.
Setelah sepuluh menit, Aceng akhirnya bergerak. Dia melangkah keluar dari tempat berteduh, dia terlihat seperti sengaja mau menerobos hujan. Tangannya memegang erat stang motor dan mulai mendorong.
Kamu perlahan berdiri. Tanpa perlu diaba-aba, kamu berjalan mendekati bagian belakang motor dan menempelkan kedua telapak tanganmu di behel jok yang licin dan dingin.

Kalian berdiri kompak mendorong. Beberapa langkah tanpa bicara. Tanpa berdebat soal Tuhan dan eksistensialisme. Kalian terlihat lebih tersiksa dengan hal nyata seperti ini.

Setelah mendorong sejauh 1 Kilometer, di depan kalian terlihat pedagang nasi uduk dan bengkel yang masih buka. Aceng menoleh ke arahmu, wajahnya sumringah.

"Ada duit berapa, Rak? Gua ada 20."
"Ada 15 nih."
Kalian tertawa konyol. Nasi uduk dan bengkel itu lah pemenangnya.

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template