Apakah kita harus merdeka lagi
Fajarmana (2023)
Alihwana dari puisi “Sajak Tujuh Darsawarsa” Karya
Maulida
PANGGUNG
DIBUAT SEPERTI AREA DEPAN RUANG PERKULIAHAN DENGAN MEJA, KURSI, DAN LAPTOP DI
ATASNYA. TOKOH UTAMA SEORANG DOSEN YANG SEDANG MENGAJAR MATA KULIAH PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN. PAKAIAN SELAYAKNYA DOSEN.
Jika
ada istilah “Jatuh cinta untuk kedua kalinya,” apa mungkin itu juga berarti ada
istilah “Merdeka untuk kedua kalinya?”. Jika ada istilah “Selalu ada kesempatan
kedua,” apa mungkin itu juga berarti ada istilah “Selalu ada merdeka kedua?”.
Hmm atau ada istilah lain yang intinya menggambarkan apapun bisa diulang dua
kali?
Menurut rekan mahasiswa sekalian, apakah kita perlu
mengulang kejadian di tanggal 17 Agustus tahun 1945? Tidak! Bukan hanya sekedar
perayaan tahunan yang biasa kita ramaikan di Alun-alun kota. Bukan juga
pertunjukan Drama yang menampilkan ulang adegan Bung Karno yang sedang membaca
proklamasi, bukan hanya itu! Tapi lebih ke mengulang secara harfiah, “Apakah kita
harus merdeka lagi?”
Iya, apakah kita harus merdeka lagi? Tapi kali ini
serius. Ehm bukan aku bilang saat itu merdekanya bercanda, tapi sepertinya
menurutku merdeka yang kemarin memang belum banyak persiapan. Secara gitu loh
pemuda mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan saat
Jepang di Bom sama Amerika, coba berapa lama persiapan Bung Karno? Tidak sampai
satu minggu. Jelas ini terkesan buru-buru, tidak seperti para tokoh di masa
sekarang yang jika ingin menjalankan program harus rapat ini-itu berkali-kali,
harus rapat di hotel-hotel mewah, yang tentu katanya agar dapat hasil maksimal.
Sekali lagi saya tanya, apakah kita harus merdeka lagi?
Oh mungkin rekan mahasiswa masih belum mengerti sampai ke sana, kalau begitu
saya tanya paling dasarnya dulu, apakah kita sudah merdeka? Hah? Udah? Iya udah
sebenarnya, kalau pengertian merdeka hanya sebatas lepas dari penjajah, betul
kita sudah merdeka, sudah berdaulat, jangan lupa berterimakasih kepada para
pahlawan terdahulu. Tapi dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bertanah
air, apakah kita sudah merdeka? Iya mungkin untuk orang di atas sana selalu
bilang sudah merdeka setiap hari, tapi kalau kita pergi ke gorong-gorong kota,
tanya ke orang-orang yang tidur di sana, atau pergi ke pedesaan tertinggal yang
ada di sudut kota, dan sekali lagi tanya tentang kemerdekaan, aku yakin mereka
belum benar-benar merdeka.
Kemerdekaan yang diraih saat ini hanya unutk kalangan
yang punya kuasa, betulkan? Mana ada kemerdekaan untuk nenek-nenek yang terpaksa
mengambil beberapa potong kayu bakar untuk bertahan hidup lalu dipenjara? Mana
merdekanya? Kecuali untuk mereka yang mempunyai kuasa atas pengendalian
orang-orang yang mata duitan, mereka bisa lolos dari hukuman mati, itu baru
merdeka.
Tapi jika kenyataannya seperti itu, sekali lagi saya
tanya, Apakah kita sudah merdeka? Dan pertanyaan solutifnya kembali saya
lontarkan, apakah kita harus merdeka lagi?
Jika iya harus merdeka lagi, apa simbolisasinya menurut
rekan-rekan sekalian? Pembacaan ulang proklamasi? Perumusan kembali UUD?
Sebenarnya saya banyak bicara seperti ini bagaimanapun untuk membuat negara
yang ideal, ideal menurut banyak orang tentunya, bukan hanya para pejabat dan
cukong-cukongnya.
Rekan
mahasiswa sekalian, sebelum saya mengajar sebagai Dosen di Universitas seperti
sekarang, saya pernah ditugaskan oleh negara ini untuk mengajar di pedalaman
Pandeglang sana. Katanya untuk kesejahteraan para murid, makanya saya
menganggap ini tugas yang mulia. 3 tahun saya mengabdi di sana, saya tidak bisa
memastikan kala itu murid saya apakah sejahtera atau tidak, tapi yang jelas
saya tidak! Upah saya saat itu tidak lebih dari biaya saya makan selama satu
bulan. Merdeka apanya kalau seperti ini? Fasilitas penunjang sekolah buruk,
akses jalan seperti sedang Outbond harus
banyak melewati rintangan yang berbahaya. Merdeka sebenarnya milik siapa? Bukan
saya tidak mensyukuri atau tidak ikhlas dalam mengajar, tapi bagaimana? Saya
harus makan, kan? Saya harus sejahtera, kan?
Beberapa
petuah memang diluncurkan oleh guru yang lebih tua di sana.
“Nak,
merdeka atau tidak, semuanya sesuai apa yang diusahakan dan yang sudah
ditakdirkan. Mungkin secara materi, kita tidak menemui kemerdekaan. Namun
secara keridhoan dan keberkahan, kemerdekaan selalu ada di hati kita”
3
tahun saya rasa sudah cukup untuk menggambarkan keadaan negara ini, saya coba
kuliah lagi sampai S2, dengan susah payah dan biaya sendiri tentu. Orang tua
saya bukan dari kalangan orang merdeka, tapi justru korban dari kemerdekaan
yang belum sempurna ini. Jadi saya harus mandiri, dan mengandalkan diri
sendiri. Apasih yang bisa di Andalkan di Negara kita ini? Yang diandalkan di
atas sana saja tentu yang sudah melakukan Deal-Dealan politik, yang mendukung
ya tentu akan diandalkan menjadi mentri ini mentri itu, sisanya? Tidak ada,
kalian juga harus mengandalkan diri sendiri, jangan percaya dengan siapapun,
siapa yang bisa dipercaya sekarang di Indonesia? Media yang katanya netral saja
sekarang sudah tidak dapat dipercaya, wong kepemilikan stasiun tv aja punyanya para
elit politik kok, masih mau percaya?
Menurut
rekan-rekan sekalian, apakah ketika sudah menjadi dosen seperti ini saya
sejahtera? Tidak juga. Di sini banyak juga para penjilat kemerdekaan kalangan
atas, berusaha mencoba memiliki kemerdekaan yang sama. Saya sempat mengkeritik,
namun mereka justru banyak yang memusuhi saya.
Katanya,
“Halah, tidak usah
berlaga sok suci, kamu mau makan apa kalau peganganmu hanya idealisme mu itu.”
Aneh kan? Saya menjawab
saja.
“Setidaknya saya tidak
menjadi pecundang yang kenyang akan tipuan dan jilatan.”
Lalu mereka menjawab.
“Dan kamu? Kelaparan
mengais kemerdekaan?”
Saya
ditertawakan oleh teman-teman saya di sini, saya pula sempat berpikir bahwa
memang kemerdekaan itu adalah hal fana di negeri ini. Bahwasanya semua penuh
tipu muslihat. Namun selalu saya tanamkan dalam hati, Negeri ini harus merdeka
lagi suatu saat nanti. Dan mungkin bukan saya yang memulai, tapi kalian para
Mahasiswa muda yang memiliki sikap kritis dan bisa jadi agen perubahan.
Makannya saya hari ini menekankan kesadaran kalian wahai para mahasiswa, bahwa
kita harus merdeka yang sebenarnya merdeka.
Tapi
kalian mahasiswa yang masih peduli dengan bangsa ini kan? Iyakan? Tolong jawab
iya, jangan menyakiti hatiku dengan bilang kalian kuliah ini hanya demi nilai
semata. Iya kan? Karena banyak juga Mahasiswa yang terbelenggu akan nilai yang
mereka Tuhankan, seolah nilailah yang menentukan keberhasilan mereka. Kalau
pemikiran saja terbelenggu, apakah bisa disebut Pendidikan kita sudah merdeka?
Jangan
dijajah kembali oleh pola pikir para kolonial, yang membenarkan segala cara
untuk bisa merampas. Itu sama saja kita masih terjajah, masih dijajah, masih
ditindas.
Silahkan
jika ingin memberi pertanyaan ada pendapat.
DOSEN DUDUK KEMBALI KE
MEJA DOSEN SEMBARI ISTIRAHAT, BISA MINUM, ATAU HANYA DUDUK MENUNGGU JAWABAN
MAHASISWA.
Bagaimana? Sudah paham dengan yang saya maksud? Sudah
siap menjadi agen perubahan?
HENING…
Kok diam saja? Sudah mengerti atau tidak peduli?
HENING…
Mahasiswa harus kritis, ayo dong bertanya!
HENING…
Apa kalian salah satu dari kaum yang sudah puas menikmati
kemerdekaan?
HENING…
SALAH SATU MAHASISWA
SEOLAH TUNJUK TANGAN
Iya kamu? Silahkan.
DOSEN BERLAGA SELAYAKNYA
MENDENGARKAN MAHASISWA
Apa? Tugas minggu lalu? Sudah saya nilai. Ada lagi?
HENING.
Tidak
ada ya? Yasudah. Kalau begitu, saya tutup kelas hari ini. Terimakasih sudah
menyimak. Entah pada akhirnya kalian akan membawa negara ini ke arah mana,
mungkin perlu waktu untuk kalian sadar betul apa yang kuucapkan. Mungkin perlu
banyak peristiwa menyedihkan lagi untuk menjadi contoh ketidakmerdekaan negara
ini. Sampai titik dimana mungkin kalian akan berada di posisi saya.
Terimakasih.
Selamat sore.
DOSEN MENINGGALKAN RUANG
KELAS, LAMPU REDUP, BLACKOUT.
SELESAI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar