Selasa, 11 Agustus 2026

Naskah monolog "Apakah kita harus merdeka lagi" oleh Fajarmana

 Apakah kita harus merdeka lagi

Fajarmana (2023)


Alihwana dari puisi “Sajak Tujuh Darsawarsa” Karya Maulida

 


PANGGUNG DIBUAT SEPERTI AREA DEPAN RUANG PERKULIAHAN DENGAN MEJA, KURSI, DAN LAPTOP DI ATASNYA. TOKOH UTAMA SEORANG DOSEN YANG SEDANG MENGAJAR MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. PAKAIAN SELAYAKNYA DOSEN.

 

Jika ada istilah “Jatuh cinta untuk kedua kalinya,” apa mungkin itu juga berarti ada istilah “Merdeka untuk kedua kalinya?”. Jika ada istilah “Selalu ada kesempatan kedua,” apa mungkin itu juga berarti ada istilah “Selalu ada merdeka kedua?”. Hmm atau ada istilah lain yang intinya menggambarkan apapun bisa diulang dua kali?

            Menurut rekan mahasiswa sekalian, apakah kita perlu mengulang kejadian di tanggal 17 Agustus tahun 1945? Tidak! Bukan hanya sekedar perayaan tahunan yang biasa kita ramaikan di Alun-alun kota. Bukan juga pertunjukan Drama yang menampilkan ulang adegan Bung Karno yang sedang membaca proklamasi, bukan hanya itu! Tapi lebih ke mengulang secara harfiah, “Apakah kita harus merdeka lagi?”

            Iya, apakah kita harus merdeka lagi? Tapi kali ini serius. Ehm bukan aku bilang saat itu merdekanya bercanda, tapi sepertinya menurutku merdeka yang kemarin memang belum banyak persiapan. Secara gitu loh pemuda mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan saat Jepang di Bom sama Amerika, coba berapa lama persiapan Bung Karno? Tidak sampai satu minggu. Jelas ini terkesan buru-buru, tidak seperti para tokoh di masa sekarang yang jika ingin menjalankan program harus rapat ini-itu berkali-kali, harus rapat di hotel-hotel mewah, yang tentu katanya agar dapat hasil maksimal.

            Sekali lagi saya tanya, apakah kita harus merdeka lagi? Oh mungkin rekan mahasiswa masih belum mengerti sampai ke sana, kalau begitu saya tanya paling dasarnya dulu, apakah kita sudah merdeka? Hah? Udah? Iya udah sebenarnya, kalau pengertian merdeka hanya sebatas lepas dari penjajah, betul kita sudah merdeka, sudah berdaulat, jangan lupa berterimakasih kepada para pahlawan terdahulu. Tapi dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bertanah air, apakah kita sudah merdeka? Iya mungkin untuk orang di atas sana selalu bilang sudah merdeka setiap hari, tapi kalau kita pergi ke gorong-gorong kota, tanya ke orang-orang yang tidur di sana, atau pergi ke pedesaan tertinggal yang ada di sudut kota, dan sekali lagi tanya tentang kemerdekaan, aku yakin mereka belum benar-benar merdeka.

            Kemerdekaan yang diraih saat ini hanya unutk kalangan yang punya kuasa, betulkan? Mana ada kemerdekaan untuk nenek-nenek yang terpaksa mengambil beberapa potong kayu bakar untuk bertahan hidup lalu dipenjara? Mana merdekanya? Kecuali untuk mereka yang mempunyai kuasa atas pengendalian orang-orang yang mata duitan, mereka bisa lolos dari hukuman mati, itu baru merdeka.

            Tapi jika kenyataannya seperti itu, sekali lagi saya tanya, Apakah kita sudah merdeka? Dan pertanyaan solutifnya kembali saya lontarkan, apakah kita harus merdeka lagi?

            Jika iya harus merdeka lagi, apa simbolisasinya menurut rekan-rekan sekalian? Pembacaan ulang proklamasi? Perumusan kembali UUD? Sebenarnya saya banyak bicara seperti ini bagaimanapun untuk membuat negara yang ideal, ideal menurut banyak orang tentunya, bukan hanya para pejabat dan cukong-cukongnya.

Rekan mahasiswa sekalian, sebelum saya mengajar sebagai Dosen di Universitas seperti sekarang, saya pernah ditugaskan oleh negara ini untuk mengajar di pedalaman Pandeglang sana. Katanya untuk kesejahteraan para murid, makanya saya menganggap ini tugas yang mulia. 3 tahun saya mengabdi di sana, saya tidak bisa memastikan kala itu murid saya apakah sejahtera atau tidak, tapi yang jelas saya tidak! Upah saya saat itu tidak lebih dari biaya saya makan selama satu bulan. Merdeka apanya kalau seperti ini? Fasilitas penunjang sekolah buruk, akses jalan seperti sedang Outbond harus banyak melewati rintangan yang berbahaya. Merdeka sebenarnya milik siapa? Bukan saya tidak mensyukuri atau tidak ikhlas dalam mengajar, tapi bagaimana? Saya harus makan, kan? Saya harus sejahtera, kan?

Beberapa petuah memang diluncurkan oleh guru yang lebih tua di sana.

“Nak, merdeka atau tidak, semuanya sesuai apa yang diusahakan dan yang sudah ditakdirkan. Mungkin secara materi, kita tidak menemui kemerdekaan. Namun secara keridhoan dan keberkahan, kemerdekaan selalu ada di hati kita”

3 tahun saya rasa sudah cukup untuk menggambarkan keadaan negara ini, saya coba kuliah lagi sampai S2, dengan susah payah dan biaya sendiri tentu. Orang tua saya bukan dari kalangan orang merdeka, tapi justru korban dari kemerdekaan yang belum sempurna ini. Jadi saya harus mandiri, dan mengandalkan diri sendiri. Apasih yang bisa di Andalkan di Negara kita ini? Yang diandalkan di atas sana saja tentu yang sudah melakukan Deal-Dealan politik, yang mendukung ya tentu akan diandalkan menjadi mentri ini mentri itu, sisanya? Tidak ada, kalian juga harus mengandalkan diri sendiri, jangan percaya dengan siapapun, siapa yang bisa dipercaya sekarang di Indonesia? Media yang katanya netral saja sekarang sudah tidak dapat dipercaya, wong kepemilikan stasiun tv aja punyanya para elit politik kok, masih mau percaya?

Menurut rekan-rekan sekalian, apakah ketika sudah menjadi dosen seperti ini saya sejahtera? Tidak juga. Di sini banyak juga para penjilat kemerdekaan kalangan atas, berusaha mencoba memiliki kemerdekaan yang sama. Saya sempat mengkeritik, namun mereka justru banyak yang memusuhi saya.

            Katanya,

“Halah, tidak usah berlaga sok suci, kamu mau makan apa kalau peganganmu hanya idealisme mu itu.”

Aneh kan? Saya menjawab saja.

“Setidaknya saya tidak menjadi pecundang yang kenyang akan tipuan dan jilatan.”

Lalu mereka menjawab.

“Dan kamu? Kelaparan mengais kemerdekaan?”

Saya ditertawakan oleh teman-teman saya di sini, saya pula sempat berpikir bahwa memang kemerdekaan itu adalah hal fana di negeri ini. Bahwasanya semua penuh tipu muslihat. Namun selalu saya tanamkan dalam hati, Negeri ini harus merdeka lagi suatu saat nanti. Dan mungkin bukan saya yang memulai, tapi kalian para Mahasiswa muda yang memiliki sikap kritis dan bisa jadi agen perubahan. Makannya saya hari ini menekankan kesadaran kalian wahai para mahasiswa, bahwa kita harus merdeka yang sebenarnya merdeka.

Tapi kalian mahasiswa yang masih peduli dengan bangsa ini kan? Iyakan? Tolong jawab iya, jangan menyakiti hatiku dengan bilang kalian kuliah ini hanya demi nilai semata. Iya kan? Karena banyak juga Mahasiswa yang terbelenggu akan nilai yang mereka Tuhankan, seolah nilailah yang menentukan keberhasilan mereka. Kalau pemikiran saja terbelenggu, apakah bisa disebut Pendidikan kita sudah merdeka?

Jangan dijajah kembali oleh pola pikir para kolonial, yang membenarkan segala cara untuk bisa merampas. Itu sama saja kita masih terjajah, masih dijajah, masih ditindas.

Silahkan jika ingin memberi pertanyaan ada pendapat.

DOSEN DUDUK KEMBALI KE MEJA DOSEN SEMBARI ISTIRAHAT, BISA MINUM, ATAU HANYA DUDUK MENUNGGU JAWABAN MAHASISWA.

            Bagaimana? Sudah paham dengan yang saya maksud? Sudah siap menjadi agen perubahan?

HENING…

            Kok diam saja? Sudah mengerti atau tidak peduli?

HENING…

            Mahasiswa harus kritis, ayo dong bertanya!

HENING…

            Apa kalian salah satu dari kaum yang sudah puas menikmati kemerdekaan?

HENING…

SALAH SATU MAHASISWA SEOLAH TUNJUK TANGAN

            Iya kamu? Silahkan.

DOSEN BERLAGA SELAYAKNYA MENDENGARKAN MAHASISWA

            Apa? Tugas minggu lalu? Sudah saya nilai. Ada lagi?

HENING.

Tidak ada ya? Yasudah. Kalau begitu, saya tutup kelas hari ini. Terimakasih sudah menyimak. Entah pada akhirnya kalian akan membawa negara ini ke arah mana, mungkin perlu waktu untuk kalian sadar betul apa yang kuucapkan. Mungkin perlu banyak peristiwa menyedihkan lagi untuk menjadi contoh ketidakmerdekaan negara ini. Sampai titik dimana mungkin kalian akan berada di posisi saya.

Terimakasih. Selamat sore.

DOSEN MENINGGALKAN RUANG KELAS, LAMPU REDUP, BLACKOUT.

SELESAI.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template