Sistem Para Tikus
Fajarmana (2023)
Alihwahana dari puisi “Perang Di Kepala” karya Ziyan
Silfia Hani
DI SEBUAH RUANGAN AGAK
SEDIKIT BERANTAKAN DAN TERTUTUP,
TERDAPAT 3 TRIPOD YANG MASING-MASING MENYANGGAH HANPHONE YANG SEDANG
MEREKAM VIDEO KE ARAH TENGAH, POSISI TRIPOD ITU ADA DI TENGAH DEPAN, SAMPING
KIRI DEPAN DAN KANAN DEPAN PANGGUNG.
KETIKA LAMPU MENYALA, 3
HANPHONE ITU DI NYALAKAN SATU-PERSATU OLEH SEEORANG LELAKI YANG KEMUDIAN DIA
BERDIRI KEMBALI KE TENGAH UNTUK MEMBUAT VIDEO PENGUMUMAN DENGAN WAJAH SEDIKIT
PANIK DAN JUGA KETAKUTAN.
LELAKI ITU MEMAKAI
PAKAIAN RAPIH KHAS PEJABAT.
Selamat
pagi, siang, sore, malam, atau kapan saja ketika anda melihat video ini. Saya
sepertinya tidak ada waktu lagi untuk berbicara banyak, terlebih berbicara di
depan umum, waktu saya hampir habis. Jadi tolong, perhatikan setiap kata apa
yang saya ucapkan, kalimat apa yang akan keluar, dan tentang apa saya bicara.
Iya
saya tahu, mungkin apa yang akan saya bicarakan ini akan terdengar omong kosong
di telinga kalian. Seperti yang sudah-sudah, tidak ada yang pernah percaya
dengan apa yang saya ucapkan. Tapi serius, untuk kali ini, kalian harus
mendengar apa yang saya katakan.
Baik
akan saya buka secara formal. Asalamualaikum wr.wb. Selamat sore atau kapanpun
kalian menonton ini masyarakat yang berbahagia, perkenalkan saya Amir Syahdan,
wakil kalian para masyarakat, dimana suara-suara kalian, aspirasi kalian, sampai
keluhan kalian saya dengarkan dengan baik, lalu saya sampaikan ke gedung yang
ada di sana.
Dengan
berdirinya saya sekarang, saya akan mengumumkan kemunduran saya sebagai anggota
wakil masyarakat daerah yang baru mengabdi untuk masyarakat hanya selama 2
tahun, dan saya dituntut turun oleh kalian yang dengan ramai-ramainya
mendatangi gedung saya, berdemo, dan memaki saya, seolah sayalah yang membuat
kalian sengsara, seolah sayalah yang membuat kalian menderita, seolah semua
kesalahan di negara ini saya yang bertanggung jawab.
Atas
banyaknya pertimbangan, saya diberhentikan dari kursi jabatan oleh fraksi saya,
oleh kelompok saya, agar tidak ada krisis kepercayaan di masyarakat. Semua
orang, bahkan kelompok saya seolah mengutuk perbuatan saya, yang sebenarnya
saya lakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat, namun saya tidak punya
kekuasaan, saya tidak punya kekuatan untuk melawan.
Oleh
karena itu, berdirinya saya di sini akan membongkar tentang apa yang sebenarnya
terjadi. Dengan itu, setidaknya saya dapat tetap menegakkan kebenaran, walau
kepala saya dan keluarga taruhannya.
Akan
saya ceritakan dari awal, dari permulaan saya menjadi perwakilan rakyat, sampai
semuanya berakhir menjadi petaka.
Tiga
tahun lalu, saya mendapatkan perintah dari kelompok saya untuk maju menjadi perwakilan
rakyat daerah. Ketika itu saya masih berumur 25 tahun, masih sangat muda untuk
menjadi seorang wakil rakyat. Semua persiapan saya lakukan dengan dibantu
pengurus serta kader-kader lain dari kelompok saya. Sampai pada akhirnya satu
tahun kemudian saya maju menjadi Calon perwakilan rakyat untuk Dapil daerah
saya.
Reaksi
masyarakat ketika saya mencalonkan diri ternyata membuat saya kaget, ada yang
setuju, namun banyak juga yang menentang. Karena seperti saudara-saudara di
sini tahu. Dulu, ketika saya menjadi mahasiswa, saya pernah mendemo dengan
keras para anggota perwailan rakyat terdahulu, saya meneriakan ketidakpercayaan
masyarakat kepada wakil rakyat itu. Saya bilang ke banyak media bahwa Mosi
Tidak Percaya, bahwa wakil rakyat itu adalah penghianat, dan tidak pernah
membela hak-hak masyarakat umum, mereka hanya memperdulikan perut dan kaumnya
saja.
Namun
masyarakat menganggap saya sebagai orang yang menjilat ludah sendiri, mereka
juga menganggap pada akhirnya saya akan sama seperti orang-orang yang saya demo,
akan menjadi keparat dan tikus yang sama. Tapi bagiku itu tidak benar, saya
ingin masuk ke jajaran wakil rakyat tentu untuk membela hak rakyat sama seperti
yang pernah kutuntut saat unjuk rasa. Juga ingin merubah sistem kuno yang
berlaku di dalam wakil rakyat yang hanya mementingkan oligarki atau kelompoknya
saja. Saya juga ingin membuat rakyat
dapat dengan ikhlas mengembalikan kepercayaannya pada kami yang benar-benar
ingin memperbaiki nasib bangsa ini.
Namun,
sulit rasanya menanggung semua tuduhan serta cacian itu kepada saya. Tapi saya
tetap yakin, hal ini adalah ujian untuk saya yang ingin melangkah jauh membela
kebenaran.
Segala
sesuatunya saya urus bersama kelompok saya. Ketika masanya tiba, saya melakukan
kampanye-kampanye kepada masyarakat, menyambangi banyak kelompok dan
orang-orang yang membutuhkan bantuan dan kesejahteraan. Semua aspirasi saya
dengar, yang nantinya tentu menjadi program kerja saya ketika nanti saya
terpilih.
Masa
kampanye selesai, tiba saatnya masa pemilihan. Saya cukup optimis dengan
hasilnya, dan benar saja, suara terbanyak datang dari kelompok saya, dan saya
terpilih menjadi anggota perwakilan rakyat daerah untuk kota saya. Ternyata,
walau banyaknya media dan orang yang menentang keputusan saya menyalonkan diri,
namun tetap saja saya terpilih, ini membuktikan bahwa prasangka awal saya
tentang ujian itu benar, ini semua hanya rintangan untuk saya melangkah lebih
jauh.
Akhirnya,
saya dapat menduduki kursi ini, dengan ini saya akan membuat program yang
pro-rakyat. Saya mengusulkan beberapa program kerja yang saya kira awalnya
bagus untuk kepentingan rakyat, seperti program revitalisasi rumah penduduk
kumuh yang ada di pinggir kota, pengaspalan jalan penghubung antar kecamatan
yang jika diperbaharui atau diperbaiki akan membuat roda ekonomi rakyat dapat
lebih cepat membaik, bahkan sampai program pembuatan lapak khusus UMKM di pusat
kota, dan beberapa program lain yang berdasarkan kepentingan rakyat.
Namun
ternyata program yang saya ajukan ditolak oleh kelompok saya sendiri. Kata mereka:
“Ini
tidak sesuai keinginan ketua umum kelompok kita.”
“Ini
akan menghabiskan anggaran yang seharusnya bisa dialihkan untuk kepentingan
lain.”
“Ini
bakal sulit diterima oleh pusat.”
“Kita
harus memikirkan juga nasib kelompok kita, karena kita rakyat negeri ini juga!”
Loh?
Kok begini? Kok semuanya harus berdasar keputusan pimpinan kelompok? Dan pada
akhirnya saya mengerti bahwa saya sebenarnya sungai kecil yang harus bermuara
pada lautan besar.
Saya
berusaha loh untuk melawan dan teguh pendirian, namun banyak yang mengecam
saya, banyak yang berusaha untuk membuat program sesuai dengan titipan pimpinan
pusat, yang mana kebanyakan tidak memihak kepada rakyat kecil.
Ini
terbukti ketika saya mencoba berusaha tidak setuju dengan rancangan
undang-undang yang akan dibuat. Ketika itu saya mewakili fraksi saya menolak
usulan undang-undang yang tidak sejalan dengan kemauan rakyat. Namun saya kalah
suara, fraksi lain menyetujui itu, yang pada akhirnya membuat saya tidak dapat
berkutik dan terpaksa mengikuti arus yang lain.
Seselesainya
rapat itu, saya dihampiri oleh fraksi lain dan diancam untuk tidak banyak melawan. Dari mereka yang
berkata:
“Kamu
jangan banyak bicara, ini sudah ditentukan!”
“Kamu
masih muda, jangan melawan orang yang sudah berpengalaman!”
“Anak
muda harus menuruti perintah orang tua!”
Saya
tidak bisa banyak menyangkal waktu itu, saya terlalu banyak ditekan dan dipaksa
untuk setuju. Lalu beberapa pengurus kelompok pusat menghampiri saya, membawa
saya dalam ruangan penuh intimidasi, yang intinya sama untuk tetap beracuan
pada kepentingan kelompok saya.
Saya
mencoba mengerti, saya mencoba memahami bahwa kepentingan partai juga untuk
kepentingan rakyat, semoga.
Dua
tahun sudah berjalan saat masa jabatan saya sebagai wakil rakyat. Saya tetap
menyambangi masyarakat dalam upaya mendengarkan permasalahan yang ada, dan saya
sampaikan dalam forum wakil rakyat yang lain.
Kebijakan-kebijakan
banyak dibuat, namun sedikit yang memuaskan rakyat. Saya paham betul apa yang
kalian rasakan saudaraku, namun ketahuilah, bukannya saya setuju, bukannya saya
diam, namun kebijakan-kebijakan ini memang seperti harus diadakan. Dan saya
tidak bisa berbuat banyak, yang ada saya semakin banyak dikecam!
Dugaan
saya benar, banyak masyarakat yang menuntut untuk perubahan di kota ini,
seperti pembangunan jalan, perbaikan gizi anak, Pendidikan murah, lapangan
kerja luas, reformasi agraria, dan lain-lain. Dan pada akhirnya juga, banyak
masyarakat yang mendemo kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh kami yang
kebanyakan tidak pro dengan rakyat.
Dan
yang paling menyedihkan, banyak orang-orang yang menyalahkanku! Mengatakan aku
serigala berbulu domba, musuh dalam selimut, penjilat, pembohong, penghianat
dan banyak tuduhan-tuduhan lain yang seolah semua biang kerok ada padaku.
Saat
itu aku meminta pendapat dengan para pimpinan kelompok, bagaimana baiknya
menanggapi hal seperti ini. Diluar dugaanku, yang biasanya ketika wakil rakyat
lain diminta untuk tidak menanggapi tuntutan rakyat, kali ini aku diminta
langsung untuk turun ke jalan untuk memediasikan dengan para pendemo. Ternyata
pimpinan wakil rakyatpun memintaku demikian, katanya saya harus menjelaskan
bahwa saya kesulitan untuk menyampaikan keinginan rakyat, karena tidak semua
bisa dituruti.
Aku
awalnya meminta pimpinan yang langsung turun menjelaskan, namun katanya harus
saya sendiri karena masyarakat banyak yang meragukan kinerja saya. Sedikit
janggal bagiku, tapi ini juga menjadi angin segar karena akhirnya aku diizinkan
untuk berbicara mewakili perwakilan rakyat ini.
Beberapa
hari kemudian saya mendatangi kerumunan demo untuk mendengar tuntutan rakyat,
kebanyakan para mahasiswa dan buruh yang datang, sedikit de javu memang melihat ini. Karena sayapun pernah merasakan
diposisi mereka.
Mereka
mulai menyuarakan keinginan mereka dan menuntut saya agar merubah kebijakan.
Pada akhirnya saya mengatakan.
“Bukan
saya tidak mau menyampaikan keluhan kalian, saya sudah mencoba, tapi ada banyak
hal yang harus dikerjakan para dewan lain, dan semuanya sudah sesuai prosedur
yang berlaku. Saya pernah menjadi kalian, biarkan saya terus mencoba
menyampaikan aspirasi kalian, namun saya tidak berjanji akan semuanya
terealisasikan.”
Begitu
saja keluar dari mulutku tanpa sadar. Hal itu membuat pendemo semakin marah dan
berang. Saya sadar bahwa yang saya ucapkan tidak tepat, dan benar saja. Mereka
meneriakiku sebagai penakut, meneriakiku sebagai penghianat, meneriaku sebagai
pengecut. Teriakan itu terus saja dikumandangkan dan membengkakkan telingaku.
“Penghianat!”
“Dasar
pembohong!”
“Penakut!”
Saya
yang juga manusia tentu tidak terima dicaci seperti itu, karena bagi saya semua
tuduhan itu tidak benar dan sialnya memang saya terbawa emosi sampai teriak
menggunakan pengeras suara.
“Kalian
tidak tau apa yang terjadi pada saya, kalian ini hanyalah masyarakat yang tidak
pernah tau situasi menjadi wakil rakyat, dan kalian selalu saja menuntut tanpa
memberi solusi yang baik! Sekarang siapa yang penakut!”
Mendengar
ucapan yang terlontar dari mulut saya semakin membuat pendemo mengamuk dan
berusaha menghajar saya. Beruntung, polisi dapat mengamankan saya agar tidak
terkena amukan masa dan bisa kembali ke gedung tempat saya bekerja.
Esoknya
semua media memberitakan tentang saya, menganggap saya bekerja tidak sesuai
dengan keinginan rakyat, membuat saya seolah merendahkan rakyat, membuat nama kelompok
saya banyak diperbincangkan orang banyak, dan semua pihak kelompok menganggap
saya mencemarkan nama baik kelompok.
Benar
saja, saya dipanggil oleh pimpinan kelompok, saya dikeluarkan dari fraksi kelompok
saya di perwakilan rakyat daerah dan menggantinya dengan orang lain. Saya
diminta menurut demi kebaikan kelompok katanya. Dan akhirnya saya mengundurkan
diri.
Itu
membuat saya merasa dihinakan, terlebih lagi, kelompok itu membuat pernyataan
bahwa saya memang tidak pernah mendukung kebijakan pro-rakyat, saya tidak
pernah menyampaikan aspirasi, dan saya dituduh yang lain-lain.
Sial!
Saya
dijebak! Saya diadu domba saudara-saudara, saya dipaksa untuk berada dalam
keadaan ini agar saya bisa keluar dari jajaran wakil rakyat saya. Agar tidak
ada lagi orang yang banyak menentang kebijakan para oligarki itu dengan dalih
saya yang tidak becus bekerja.
Kalian
harus tau saudara-saudara, bahwa sebenarnya…
TERDENGAN
SUARA KETUKAN PINTU DARI LUAR, AWALNYA TERDENGAR PELAN, NAMUN SEMAKIN LAMA
SEMAKIN KERAS. AMIR MENDEKATI KAMERA YANG DIPASANGNYA DENGAN WAJAH PANIK DAN
KETAKUTAN.
Terserah
anda percaya atau tidak dengan yang saya katakan, tapi saya bersumpah
mengucapkan kebenaran.
TERDENGAR
DOBRAKAN PINTU DENGAN KERAS, AMIR MENENGOK TERKEJUT. LAMPU MATI.
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar