Selasa, 11 Agustus 2026

Naskah monolog "Sistem para tikus" oleh Fajarmana

 Sistem Para Tikus

Fajarmana (2023)


Alihwahana dari puisi “Perang Di Kepala” karya Ziyan Silfia Hani

 


DI SEBUAH RUANGAN AGAK SEDIKIT BERANTAKAN DAN TERTUTUP,  TERDAPAT 3 TRIPOD YANG MASING-MASING MENYANGGAH HANPHONE YANG SEDANG MEREKAM VIDEO KE ARAH TENGAH, POSISI TRIPOD ITU ADA DI TENGAH DEPAN, SAMPING KIRI DEPAN DAN KANAN DEPAN PANGGUNG.

KETIKA LAMPU MENYALA, 3 HANPHONE ITU DI NYALAKAN SATU-PERSATU OLEH SEEORANG LELAKI YANG KEMUDIAN DIA BERDIRI KEMBALI KE TENGAH UNTUK MEMBUAT VIDEO PENGUMUMAN DENGAN WAJAH SEDIKIT PANIK DAN JUGA KETAKUTAN.

LELAKI ITU MEMAKAI PAKAIAN RAPIH KHAS PEJABAT.

Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapan saja ketika anda melihat video ini. Saya sepertinya tidak ada waktu lagi untuk berbicara banyak, terlebih berbicara di depan umum, waktu saya hampir habis. Jadi tolong, perhatikan setiap kata apa yang saya ucapkan, kalimat apa yang akan keluar, dan tentang apa saya bicara.

Iya saya tahu, mungkin apa yang akan saya bicarakan ini akan terdengar omong kosong di telinga kalian. Seperti yang sudah-sudah, tidak ada yang pernah percaya dengan apa yang saya ucapkan. Tapi serius, untuk kali ini, kalian harus mendengar apa yang saya katakan.

Baik akan saya buka secara formal. Asalamualaikum wr.wb. Selamat sore atau kapanpun kalian menonton ini masyarakat yang berbahagia, perkenalkan saya Amir Syahdan, wakil kalian para masyarakat, dimana suara-suara kalian, aspirasi kalian, sampai keluhan kalian saya dengarkan dengan baik, lalu saya sampaikan ke gedung yang ada di sana.

Dengan berdirinya saya sekarang, saya akan mengumumkan kemunduran saya sebagai anggota wakil masyarakat daerah yang baru mengabdi untuk masyarakat hanya selama 2 tahun, dan saya dituntut turun oleh kalian yang dengan ramai-ramainya mendatangi gedung saya, berdemo, dan memaki saya, seolah sayalah yang membuat kalian sengsara, seolah sayalah yang membuat kalian menderita, seolah semua kesalahan di negara ini saya yang bertanggung jawab.

Atas banyaknya pertimbangan, saya diberhentikan dari kursi jabatan oleh fraksi saya, oleh kelompok saya, agar tidak ada krisis kepercayaan di masyarakat. Semua orang, bahkan kelompok saya seolah mengutuk perbuatan saya, yang sebenarnya saya lakukan semata-mata untuk kepentingan rakyat, namun saya tidak punya kekuasaan, saya tidak punya kekuatan untuk melawan.

Oleh karena itu, berdirinya saya di sini akan membongkar tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan itu, setidaknya saya dapat tetap menegakkan kebenaran, walau kepala saya dan keluarga taruhannya.

Akan saya ceritakan dari awal, dari permulaan saya menjadi perwakilan rakyat, sampai semuanya berakhir menjadi petaka.

Tiga tahun lalu, saya mendapatkan perintah dari kelompok saya untuk maju menjadi perwakilan rakyat daerah. Ketika itu saya masih berumur 25 tahun, masih sangat muda untuk menjadi seorang wakil rakyat. Semua persiapan saya lakukan dengan dibantu pengurus serta kader-kader lain dari kelompok saya. Sampai pada akhirnya satu tahun kemudian saya maju menjadi Calon perwakilan rakyat untuk Dapil daerah saya.

Reaksi masyarakat ketika saya mencalonkan diri ternyata membuat saya kaget, ada yang setuju, namun banyak juga yang menentang. Karena seperti saudara-saudara di sini tahu. Dulu, ketika saya menjadi mahasiswa, saya pernah mendemo dengan keras para anggota perwailan rakyat terdahulu, saya meneriakan ketidakpercayaan masyarakat kepada wakil rakyat itu. Saya bilang ke banyak media bahwa Mosi Tidak Percaya, bahwa wakil rakyat itu adalah penghianat, dan tidak pernah membela hak-hak masyarakat umum, mereka hanya memperdulikan perut dan kaumnya saja.

Namun masyarakat menganggap saya sebagai orang yang menjilat ludah sendiri, mereka juga menganggap pada akhirnya saya akan sama seperti orang-orang yang saya demo, akan menjadi keparat dan tikus yang sama. Tapi bagiku itu tidak benar, saya ingin masuk ke jajaran wakil rakyat tentu untuk membela hak rakyat sama seperti yang pernah kutuntut saat unjuk rasa. Juga ingin merubah sistem kuno yang berlaku di dalam wakil rakyat yang hanya mementingkan oligarki atau kelompoknya saja. Saya  juga ingin membuat rakyat dapat dengan ikhlas mengembalikan kepercayaannya pada kami yang benar-benar ingin memperbaiki nasib bangsa ini.

Namun, sulit rasanya menanggung semua tuduhan serta cacian itu kepada saya. Tapi saya tetap yakin, hal ini adalah ujian untuk saya yang ingin melangkah jauh membela kebenaran.

Segala sesuatunya saya urus bersama kelompok saya. Ketika masanya tiba, saya melakukan kampanye-kampanye kepada masyarakat, menyambangi banyak kelompok dan orang-orang yang membutuhkan bantuan dan kesejahteraan. Semua aspirasi saya dengar, yang nantinya tentu menjadi program kerja saya ketika nanti saya terpilih.

Masa kampanye selesai, tiba saatnya masa pemilihan. Saya cukup optimis dengan hasilnya, dan benar saja, suara terbanyak datang dari kelompok saya, dan saya terpilih menjadi anggota perwakilan rakyat daerah untuk kota saya. Ternyata, walau banyaknya media dan orang yang menentang keputusan saya menyalonkan diri, namun tetap saja saya terpilih, ini membuktikan bahwa prasangka awal saya tentang ujian itu benar, ini semua hanya rintangan untuk saya melangkah lebih jauh.

Akhirnya, saya dapat menduduki kursi ini, dengan ini saya akan membuat program yang pro-rakyat. Saya mengusulkan beberapa program kerja yang saya kira awalnya bagus untuk kepentingan rakyat, seperti program revitalisasi rumah penduduk kumuh yang ada di pinggir kota, pengaspalan jalan penghubung antar kecamatan yang jika diperbaharui atau diperbaiki akan membuat roda ekonomi rakyat dapat lebih cepat membaik, bahkan sampai program pembuatan lapak khusus UMKM di pusat kota, dan beberapa program lain yang berdasarkan kepentingan rakyat.

Namun ternyata program yang saya ajukan ditolak oleh kelompok saya sendiri. Kata mereka:

“Ini tidak sesuai keinginan ketua umum kelompok kita.”

“Ini akan menghabiskan anggaran yang seharusnya bisa dialihkan untuk kepentingan lain.”

“Ini bakal sulit diterima oleh pusat.”

“Kita harus memikirkan juga nasib kelompok kita, karena kita rakyat negeri ini juga!”

Loh? Kok begini? Kok semuanya harus berdasar keputusan pimpinan kelompok? Dan pada akhirnya saya mengerti bahwa saya sebenarnya sungai kecil yang harus bermuara pada lautan besar.

Saya berusaha loh untuk melawan dan teguh pendirian, namun banyak yang mengecam saya, banyak yang berusaha untuk membuat program sesuai dengan titipan pimpinan pusat, yang mana kebanyakan tidak memihak kepada rakyat kecil.

Ini terbukti ketika saya mencoba berusaha tidak setuju dengan rancangan undang-undang yang akan dibuat. Ketika itu saya mewakili fraksi saya menolak usulan undang-undang yang tidak sejalan dengan kemauan rakyat. Namun saya kalah suara, fraksi lain menyetujui itu, yang pada akhirnya membuat saya tidak dapat berkutik dan terpaksa mengikuti arus yang lain.

Seselesainya rapat itu, saya dihampiri oleh fraksi lain dan diancam untuk  tidak banyak melawan. Dari mereka yang berkata:

“Kamu jangan banyak bicara, ini sudah ditentukan!”

“Kamu masih muda, jangan melawan orang yang sudah berpengalaman!”

“Anak muda harus menuruti perintah orang tua!”

Saya tidak bisa banyak menyangkal waktu itu, saya terlalu banyak ditekan dan dipaksa untuk setuju. Lalu beberapa pengurus kelompok pusat menghampiri saya, membawa saya dalam ruangan penuh intimidasi, yang intinya sama untuk tetap beracuan pada kepentingan kelompok saya.

Saya mencoba mengerti, saya mencoba memahami bahwa kepentingan partai juga untuk kepentingan rakyat, semoga.

Dua tahun sudah berjalan saat masa jabatan saya sebagai wakil rakyat. Saya tetap menyambangi masyarakat dalam upaya mendengarkan permasalahan yang ada, dan saya sampaikan dalam forum wakil rakyat yang lain.

Kebijakan-kebijakan banyak dibuat, namun sedikit yang memuaskan rakyat. Saya paham betul apa yang kalian rasakan saudaraku, namun ketahuilah, bukannya saya setuju, bukannya saya diam, namun kebijakan-kebijakan ini memang seperti harus diadakan. Dan saya tidak bisa berbuat banyak, yang ada saya semakin banyak dikecam!

Dugaan saya benar, banyak masyarakat yang menuntut untuk perubahan di kota ini, seperti pembangunan jalan, perbaikan gizi anak, Pendidikan murah, lapangan kerja luas, reformasi agraria, dan lain-lain. Dan pada akhirnya juga, banyak masyarakat yang mendemo kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh kami yang kebanyakan tidak pro dengan rakyat.

Dan yang paling menyedihkan, banyak orang-orang yang menyalahkanku! Mengatakan aku serigala berbulu domba, musuh dalam selimut, penjilat, pembohong, penghianat dan banyak tuduhan-tuduhan lain yang seolah semua biang kerok ada padaku.

Saat itu aku meminta pendapat dengan para pimpinan kelompok, bagaimana baiknya menanggapi hal seperti ini. Diluar dugaanku, yang biasanya ketika wakil rakyat lain diminta untuk tidak menanggapi tuntutan rakyat, kali ini aku diminta langsung untuk turun ke jalan untuk memediasikan dengan para pendemo. Ternyata pimpinan wakil rakyatpun memintaku demikian, katanya saya harus menjelaskan bahwa saya kesulitan untuk menyampaikan keinginan rakyat, karena tidak semua bisa dituruti.

Aku awalnya meminta pimpinan yang langsung turun menjelaskan, namun katanya harus saya sendiri karena masyarakat banyak yang meragukan kinerja saya. Sedikit janggal bagiku, tapi ini juga menjadi angin segar karena akhirnya aku diizinkan untuk berbicara mewakili perwakilan rakyat ini.

Beberapa hari kemudian saya mendatangi kerumunan demo untuk mendengar tuntutan rakyat, kebanyakan para mahasiswa dan buruh yang datang, sedikit de javu memang melihat ini. Karena sayapun pernah merasakan diposisi mereka.

Mereka mulai menyuarakan keinginan mereka dan menuntut saya agar merubah kebijakan. Pada akhirnya saya mengatakan.

“Bukan saya tidak mau menyampaikan keluhan kalian, saya sudah mencoba, tapi ada banyak hal yang harus dikerjakan para dewan lain, dan semuanya sudah sesuai prosedur yang berlaku. Saya pernah menjadi kalian, biarkan saya terus mencoba menyampaikan aspirasi kalian, namun saya tidak berjanji akan semuanya terealisasikan.”

Begitu saja keluar dari mulutku tanpa sadar. Hal itu membuat pendemo semakin marah dan berang. Saya sadar bahwa yang saya ucapkan tidak tepat, dan benar saja. Mereka meneriakiku sebagai penakut, meneriakiku sebagai penghianat, meneriaku sebagai pengecut. Teriakan itu terus saja dikumandangkan dan membengkakkan telingaku.

“Penghianat!”

“Dasar pembohong!”

“Penakut!”

Saya yang juga manusia tentu tidak terima dicaci seperti itu, karena bagi saya semua tuduhan itu tidak benar dan sialnya memang saya terbawa emosi sampai teriak menggunakan pengeras suara.

“Kalian tidak tau apa yang terjadi pada saya, kalian ini hanyalah masyarakat yang tidak pernah tau situasi menjadi wakil rakyat, dan kalian selalu saja menuntut tanpa memberi solusi yang baik! Sekarang siapa yang penakut!”

Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut saya semakin membuat pendemo mengamuk dan berusaha menghajar saya. Beruntung, polisi dapat mengamankan saya agar tidak terkena amukan masa dan bisa kembali ke gedung tempat saya bekerja.

Esoknya semua media memberitakan tentang saya, menganggap saya bekerja tidak sesuai dengan keinginan rakyat, membuat saya seolah merendahkan rakyat, membuat nama kelompok saya banyak diperbincangkan orang banyak, dan semua pihak kelompok menganggap saya mencemarkan nama baik kelompok.

Benar saja, saya dipanggil oleh pimpinan kelompok, saya dikeluarkan dari fraksi kelompok saya di perwakilan rakyat daerah dan menggantinya dengan orang lain. Saya diminta menurut demi kebaikan kelompok katanya. Dan akhirnya saya mengundurkan diri.

Itu membuat saya merasa dihinakan, terlebih lagi, kelompok itu membuat pernyataan bahwa saya memang tidak pernah mendukung kebijakan pro-rakyat, saya tidak pernah menyampaikan aspirasi, dan saya dituduh yang lain-lain.

Sial!

Saya dijebak! Saya diadu domba saudara-saudara, saya dipaksa untuk berada dalam keadaan ini agar saya bisa keluar dari jajaran wakil rakyat saya. Agar tidak ada lagi orang yang banyak menentang kebijakan para oligarki itu dengan dalih saya yang tidak becus bekerja.

Kalian harus tau saudara-saudara, bahwa sebenarnya…

TERDENGAN SUARA KETUKAN PINTU DARI LUAR, AWALNYA TERDENGAR PELAN, NAMUN SEMAKIN LAMA SEMAKIN KERAS. AMIR MENDEKATI KAMERA YANG DIPASANGNYA DENGAN WAJAH PANIK DAN KETAKUTAN.

Terserah anda percaya atau tidak dengan yang saya katakan, tapi saya bersumpah mengucapkan kebenaran.

TERDENGAR DOBRAKAN PINTU DENGAN KERAS, AMIR MENENGOK TERKEJUT. LAMPU MATI.

 

SELESAI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template