Selasa, 11 Agustus 2026

Naskah Teater "Ki Dalang: Kaiin Bapak Kayah" oleh Fajarmana

 Ki Dalang: Kaiin Bapak Kayah

Fajarmana (2023)



ADEGAN 1

SEBUAH MEJA YANG DISET SEPERTI TEMPAT MENARUH DAN MEMAINKAN WAYANG KULIT BETAWI BERADA DI TENGAH PANGGUNG, KAIIN YANG MERUPAKAN TOKOH UTAMA SEDANG MEMAINKAN WAYANG YANG MENCERITAKAN LAKON PEREBUTAN TANAH LELUHUR YANG DIA CIPTAKAN.

ADEGAN DIBUKA DENGAN PERMAINAN WAYANG KAIIN YANG MELIHATKAN ADEGAN PEREBUTAN KEKUASAN ANTARA WAYANG SATU DENGAN YANG LAINNYA (BERKELAHI). SETELAH SEORANG TOKOH WAYANG MENANG, MELUNCURLAH KISAHNYA.

Kaiin:

“Tanah-tanah yang menghendaki seluruh kesuburan yang ada di bangsa ini adalah warisan dari nenek moyang yang jauh-jauh waktu sudah ditakdirkan untuk dimiliki para kaum petani. Tanah-tanah yang kau pijaki ini sudah harus dikembalikan kepada petani sebagai pemilik awal keturunan pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning.

Sebagai titisan Prabu  Rabul Alamin, akan kurebut tanah yang harusnya milik kaum petani yang sudah kalian rebut paksa untuk diberikan kepada para tuan tanah yaitu para tionghoa yang pada akhirnya membuat kami bekerja paksa menjadi bujang bujang tanah di atas tanah kami sendiri dengan upah yang murah dan berkewajiban membayar pajak cuke yang mencekik.

Sebagai titisin Prabu Rabul Alamin, Aku akan merebut kekuasaan dan tanah para tionghoa, mengusirnya dari tanah ini, dan membuat kerajaan yang lebih Makmur dan sejahtera di tanah Tangerang ini.”

PERMAINAN WAYANG SELESAI, MEJA YANG AWALNYA MENJADI TEMPAT BERMAIN WAYANG, BERUBAH MENJADI MEJA MAKAN DI RUMAH KAIIN. MASUK ISTRI KAIIN YAITU TAN TENG NIO ATAU NYONYA BANTEN MEMBAWA MAKANAN.

Tan Teng Nio:

            “Kamu mau membawakan lakon itu untuk acara sunatan anak kita nanti?”

Kaiin:

            “Iya, ini bukan hanya perkara menghibur masyarakat saja Tan Teng Nio, ini siasatku untuk membuat rakyat Tangerang dan para pengikut setiaku agar tersadar dari kekejaman para Belanda dan Tionghoa itu yang sudah merebut tanah leluhurku.”

Tan Teng Nio:

            "Jadi apa rencanamu Kaiin?”

Kaiin:

            “Tanggal 8 Februari 1924 nanti saat khitanan anak kita, aku akan memainkan lakon tadi dan memberi ceramah kepada pengikut setiaku untuk berani melawan kaum penindas. Seperti yang kamu tau, aku sudah bersemedi di Makam-makam keramat yang ada di gunung salak atas anjuran dari guruku Cing Sairin yang sudah mengajariku ilmu Kewedukan dan Elmu Keselametan. Dan para pengikutkupun akan taat pada apa yang kuperintahkan. Lalu di tanggal 10 Februari Ba’da Subuh, kami akan menyerang para Tuan Tanah Tionghoa dan mengusirnya dari tanahku.”

Tan Teng Nio:

            “Apakah kamu akan mengusirku juga? Aku orang Tionghoa Kaiin.”

Kaiin:

            “Dulu iya. Kini kamu seorang istri dari Kaiin Bapak Kayah, dan kamu sudah masuk Islam, dan orang-orang sinipun sudah memanggilmu Nyonya Banten, Bukan Tan Teng Nio lagi."    

Tan Teng Nio:

            “Aku akan selalu mendoakanmu, Kaiin.”

LAMPU REDUP.

ADEGAN 2

PANGGUNG DIPENUHI ALAT DAN HASIL PANEN YANG AKAN DISERAHKAN KEPADA TUAN TANAH. PARA PEKERJA MENGELUH DENGAN SISTEM INI.

P1:

            “Sudah susah payah kita menanam ini, harus kita setorkan sebagai cuke, dan dibayar murah oleh tionghoa itu.”

P2:

            “Belum lagi harus bayar komepenian agar kita tetap bisa tinggal di rumah sekarang yang tanahnya dikuasai orang asing itu!”

P3:

            “Kapan kiranya penderitaan ini harus berakhir! Apakah sampai anak cucu kita? Masih mending jika hidup, mungkin kita bisa mati kelaparan sehingga tidak dapat melanjutkan keturunan dan melihat masa kebebasan.”

P4:

            “Hei, jangan hilang harap. Orang tua kita dulu sering bilang bahwa suatu nanti pasti ada seseorang yang dapat membebaskan penderitaan ini, itu sudah diramal sejak lama, kita harus percaya itu.”

P5:

            “Betul! Kita harus percaya. Karena aku yakin masa itu akan segera tiba. Kaiin Bapak Kayah itulah yang akan membawa perubahan, aku yakin, dia orang Sholeh, Ilmunya sudah tidak diragukan lagi, pasti dia yang akan membawa kita pada kejayaan.”

P4:

            “Iya!! Kita harus yakin saudarku. Besok malam, Kaiin akan mengadakan hajatan dan dia akan bermain wayang lagi. Kita harus datang bersama-sama dan mendengarkan kembali pidatonya tentang kebebasan. Itulah harapan kita!”

SEMUA PEKERJA/RAKYAT MENYETUJUI DAN BERGEGAS PULANG KERUMAHNYA MASING-MASING.

LAMPU REDUP.

ADEGAN 3

SAAT LAMPU MASIH BLACKOUT, TERDENGAR SUARA KAIIN MEMBAWAKAN POTONGAN AKHIR KALIMAT LAKONNYA DAN DISAMBUT GEMURUH TEPUK TANGAN DAN TAKBIR PARA PENONTON WAYANG KAIIN.

“Tanah-tanah milik rakyat leluhur harus diambil kembali, ditumpaskannya dari tangan-tangan Belanda dan Tionghoa. Bersamaku Prabu Rabbun Alamin, kita akan membuat kembali kerajaan-kerajaan tanpa campur tangan orang asing, kembali ke hakekatnya sebagai milik para petani.”

“Allahuakbar”

“Allahuakbar”

“Allahuakbar

LAMPU MENYALA, MEJA WAYANG BERADA DI SISI KIRI PANGGUNG MENGHADAP SAMPING, KAIN BERDIRI DI BELAKANGNYA MENGHADAP KE PENGIKUTNYA YANG DI SEBALAH KANAN PANGGUNG.

Kaiin:

            “Wahai Saudara-saudara, sayalah Sang Hyang Tunggal atau Ratu Rabbul Alamin itu, karena saya adalah keturunan dari Pangeran Siliwangi. Mulai Saat ini saya akan ambil hak saya sebagai pemimpin kalian. Saya akan usir kaum penjajah dan para tuan tanah yang kejam dan jahat yang selalu mengambil hak-hak petani. Mulai saat ini saudara-saudara harus ikut saya punya perkataan.”

RIUH TAKBIR MENGGEMA DILONTARKAN PARA PENGIKUT KAIIN.

P1:

            “Rakyat sudah lama menderita dengan sewa tanah yang semakin menyengsarakan kami, dengan Cuke-Cuke dan kompenian yang diperas dari keringat kami.”

P2:

            “Kami sudah lelah dengan penindasan para kaum asing, bantu kami Kaiin untuk sejahtera dari penjajahan ini.”

P3:

            “Semua ilmu yang kau berikan tentang perlwanan dan bela diri sudah melekat di dalam hati dan pikiran kami, kami siap berjuang bersama untuk merebut kembali tanah kita.”

Kaiin:

            “Saudaraku, dengan bersatunya keinginan kita atas rasa ingin bebas dari ketertindasan, insyaAllah akan dipermudah jalan kita meraih kemenangan, kita harus segera bergerak mengusir para penjajah itu bersama-sama.”

P4:

            “Tapi langkah apa yang kita harus ambil?”

Kaiin:

            “Lusa tanggal 10 Februari 1924, saat Ba’da Subuh, Kita berkumpul di sini membawa pasukan sebanyak-banyaknya untuk mengusir para Tionghoa itu dan mengambil surat kuasa tanahnya sampai ada di tangan kita. Jika melawan, habisi saja, tidak perlu kasihan, mereka tidak pernah kasian pada rakyat seperti kita.

Paginya kita pergi ke rumah Wedana yang ada di Teluk Naga untuk meminta jalan agar kita bisa bertemu pimpinan Hindia Belanda di Buitenerg sana. Memaksa mereka mengeluarkan kebijakan untuk mengembalikan tanah-tanah pada kita.

Jika mereka tidak mau, lawan! Kalian sudah kuajari cara memakai pisau, tombak, golok serta silat. Dan aku akan memberikan kalian semua jimat untuk membuat tubuh kalian kebal. Jimat ini sudah didoakan oleh guru Cing Sairin. Jadi tidak ada alasan lagi untuk kalian tidak melawan dan berjuang demi tanah kita!”

“ALLAHUAKBAR!”

SEMUA PENGIKUT KAIIN SERENTAK BERTAKBIR. KAIIN MEMBAGIKAN JIMAT YANG BERUPA KOIN KEPADA MASING-MASING PENGIKUTNYA.

Kaiin:

            “Kita percaya bahwa Allah akan selalu melindungi kita. Kita harus percaya bahwa kita bisa merebut kembali tanah kita dari para kafir itu, ALLAHUAKBAR!”

SEMUA PENGIKUT KAIIN KEMBALI MENERIAKAN TAKBIR.

LAMPU REDUP

 

ADEGAN 4

WAKTU BA’DA SUBUH, PARA PENGIKUT KAIIN BERKUMPUL DAN BEGERILYA KE RUMAH-RUMAH TIONGHOA. DIGAMBARKAN DENGAN AKTOR PEMERAN PENGIKUT KAIIN BERLARIAN MASUK KELUAR PANGGUNG MEMBAWA SENJATA (GOLOK, TOMBAK, DAN PISAU) SECARA BERGANTIAN. GAMBARAN DARI PEREBUTAN SURAT TANAH MELALUI GAMBAR-GAMBAR DAN VIDEO YANG DITAMPILKAN DARI PROYEKTOR. DIDUKUNG DENGAN MUSIK TEGANG. SEMUANYA TERJADI BERSAMAAN (PEMERAN BERLARIAN + VIDEO DAN FOTO DARI PROYEKTOR + MUSIK DAN EFEK SUARA).

SETELAH ADEGAN SELESAI, KAIIN DAN PENGIKUTNYA MASUK DI TENGAH PANGGUNG. KAIIN DI DEPAN MEMIMPIN SAMBIL MEMEGANGI KERTAS SURAT TANAH.

Kaiin:

            “Alhamdulillah, beberapa tanah kita sudah rebut kembali dari tangan kafir! Allahuakbar!

RIUH TAKBIR.

Kaiin:

            “Dalam hal perjuangan, semuanya ada pengorbanan. Nyawa-nyawa para kafir itu halal untuk kita binasakan! Kita berjuang di jalan yang benar. Jangan takut!”

RIUH TAKBIR.

Kaiin:

            “Selanjutnya kita akan pergi ke Tanah Tinggi. Sebelum itu kita pergi ke tempat asisten Wedana di Teluk Naga sana untuk meminta jalan melalui kereta api ke Buitenzorg, kita minta agar dipertemukan dengan pimpinan di sana agar menghapus kebijakan Cuke dan Kompenian.”

P1:

            “Mengapa kita harus bertemu dan berdiskusi? Mengapa kita tidak langsung serang saja?”

Kaiin:

            “Menyerang para Tionghoa lebih mudah karena mereka tidak dipersenjatai, beda saat kita menyerang para Hindia Belanda. Kita tidak akan mampu. Kita coba menawarkan politik etis seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya.”

P2:

            “Mengapa kita harus ke Asisten Wedana itu? Apakah dia akan membantu kita?”

Kaiin:

            “Dia akan mempermudah kita mendapatkan izin menggunakan kereta api. Dia orang kita juga, aku yakin dia akan membantu. Kami pernah bertemu saat aku masih jadi Pembantu Polisi di Teluk Naga. Baik kita bergerak sekarang.”

KAIIN DAN PENGIKUTNYA KELUAR PANGGUNG, LAMPU REDUP.

ADEGAN 5

SETTING TEMPAT MEJA DAN KURSI, TERDUDUK TUWUH ASISTEN WADANA. DI MEJA TERDAPAT TELFON. PARA PENGIKUT KAIIN MASUK TERLEBIH DAHULU MENODONGKAN SENJATA DAN MENGANCAM TUWUH.

Tuwuh:

            “Tuan-tuan ini siapa? Mau apa? Mau mencuri?”

P3:

            “Apakah tuan ini membela orang Kafir?”

Tuwuh:

            “Kepada orang kafir saya tidak suka.”

KAIIN MASUK

Tuwuh:

            “Ah Kaiin, lindungi aku.”

Kaiin:

            “Tenang Tuwuh, mereka ini pengikutku.

Tuwuh:

            “Ada apa sebenarnya Kaiin?’

Kaiin:

            “Aku dan Pengikutku sudah menyerang para Tionghoa yang menjadi Tuan Tanah di daerahku. Selanjutnya kami mau ke Buitenzorg untuk bertemu Pimpinan Belanda.”

Tuwuh:

            “Mau apa ke sana? Mau menyerang juga?”

Kaiin:

            “Kami mau meminta pemimpin Belanda menghapus Cuke dan Kompenian. Kamu antar kami semua ke Sana naik Kereta Api.”

Tuwuh:

            “Aduh tidak bisa itu tidak bisa.”

P5:

            “Apa yang tidak bisa? Kamu membela orang kafir?” MENODONGKAN SENJATA

Tuwuh:

            “Tidak tuan. Kaiin, sebaiknya kamu dan pengikutmu istirahat dulu di pendopo sana, nanti akan ku minta buatkan kopi dan rokok. Kereta api ada jam 11, sekarang masih jam setengah 8. Kalian istirahat dulu di pendopo sana ya. Nanti aku menyusul.”

KAIIN DAN PENGIKUTNYA KELUAR. TUWUH MENELPON KEAMANAN BELANDA.

Tuwuh:

            “Permisi tuan, hamba kedatangan seseorang yang bernama Kaiin dan pasukannya yang sudah menyerang tuan tanah. Mereka sekarang mau pergi ke Buitenzorg untuk menemui Jendral agar meminta menghapus cuke dan kompenian.”

….

Tuwuh:

            “Baik tuan, hamba akan ulur waktu sampai polisi datang.”

LAMPU MATI. DI SETTING YANG SAMA DATANG POLISI BATAVIA DIPIMPIN RHEMREV.

Tuwuh:

            “Kaiin ada di pendopo tuan.”

Rhemrev:

            “Bawa ke sini, saya akan coba membujuk agar ini tidak terjadi. Kalau dia tidak mau, kita bawa mereka ke Batavia dengan berjalan kaki, agar tenaga mereka habis. Setelah itu kita lumpuhkan.”

Tuwuh:

            “Baik tuan, hamba akan panggilkan Kaiin.”

TUWUH KELUAR, TAK LAMA MASUK KAIIN DAN PASUKANNYA.

Rhemrev:

            “Saya Rhemrev, kontrolir polisi Polisi. Saya dengar kamu dan pengikutmu ingin ke Buitenzorg?”

Kaiin:

            “Betul, kami ingin bertemu pimpinanmu untuk mengusir tionghoa dari tanah kami.”

Rhemrev:

            “Sebaiknya kalian pulang lagi, di sana sangat jauh, kereta api tidak ada hari ini, jadi kalian harus berjalan kaki menuju Batavia sebelum ke Buitenzorg.”

Kaiin:

            “Kami tidak mau pulang. Jika tuan menghalangi akan kami bunuh.”

Rhemrev:

            “Kita tidak perlu memakai kekerasan. Begini saja, akan kami kawal kalian menuju Batavia. Baru di sana akan naik mobil ke Buitenzorg. Kalian harus berjalan kaki, kami naik kuda di depan.”

Kaiin:

            “Baik tidak masalah walau harus berjalan.”

LAMPU MATI.

ADEGAN 6

SET DI PERJALANAN MENUJU BATAVIA. KAIIN BERADA PALING DEPAN BERSAMA POLISI DAN RHEMREV DIIKUTI OLEH PASUKANYA DI BELAKANG. PASUKANNYA SEPERTI KELELAHAN. LALU KAIIN MEMINTA BERHENTI.

Kaiin:

            “Rhemrev, kami kelelahan, kami akan istirahat sebentar.”

Rhemrev:

            “Silahkan.”

KAIIN DAN PENGIKUTNYA DUDUK BERISTIRAHAT DI TEPI PANGGUNG. TAK LAMA RHEMREV MEMANGGIL KAIIN.

Rhemrev:

            “Kaiin, aku ingin kamu ikut aku sebentar.”

KAIIN MENGIKUTI RHEMREV MENJAUHI PENGIKUTNYA. DI TENGAH PERJALANAN KAIN DI TENDANG OLEH ANAK BUAH RHEMREV HINGGA TERSUNGKUR. MELIHAT ITU PENGIKUT KAIIN BERDIRI DAN MELAWAN.

ADEGAN PERTARUNGAN DIPERLIHATKAN OLEH KAIIN MELAWAN RHAMREV. TERJADI TEMBAK MENEMBAK. KAIIN DITEMBAK MATI DITENGAH PERTARUNGAN, DAN RHAMREV DIBACOK OLEH PENGIKUT KAIIN. BEBERAPA PENGIKUT KAIIN MATI TERTEMBAK, BEBERAPA LAGI DITAWAN. DARI PIHAK RHAMREV, BEBERAPA JUGA LUKA DAN MATI.

LAMPU MATI, MUSIK MENGALUN LIRIH.

ADEGAN 6

LAMPU HIDUP.

PENAWANAN PENGIKUT KAIIN YANG MASIH HIDUP.

DIHUKUM GANTUNG DENGAN SIMBOLIS TALI YANG MELINGKARI LEHER SETIAP TAWANAN. TALI PERLAHAN-LAHAN NAIK KE ATAS. DAN LAMPU MATI PERLAHAN DIIRINGI MUSIK LIRIH.

SELESAI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template