Ki Dalang: Kaiin Bapak Kayah
Fajarmana (2023)
ADEGAN 1
SEBUAH MEJA YANG DISET
SEPERTI TEMPAT MENARUH DAN MEMAINKAN WAYANG KULIT BETAWI BERADA DI TENGAH
PANGGUNG, KAIIN YANG MERUPAKAN TOKOH UTAMA SEDANG MEMAINKAN WAYANG YANG
MENCERITAKAN LAKON PEREBUTAN TANAH LELUHUR YANG DIA CIPTAKAN.
ADEGAN DIBUKA DENGAN
PERMAINAN WAYANG KAIIN YANG MELIHATKAN ADEGAN PEREBUTAN KEKUASAN ANTARA WAYANG
SATU DENGAN YANG LAINNYA (BERKELAHI). SETELAH SEORANG TOKOH WAYANG MENANG,
MELUNCURLAH KISAHNYA.
Kaiin:
“Tanah-tanah
yang menghendaki seluruh kesuburan yang ada di bangsa ini adalah warisan dari
nenek moyang yang jauh-jauh waktu sudah ditakdirkan untuk dimiliki para kaum
petani. Tanah-tanah yang kau pijaki ini sudah harus dikembalikan kepada petani
sebagai pemilik awal keturunan pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning.
Sebagai
titisan Prabu Rabul Alamin, akan kurebut
tanah yang harusnya milik kaum petani yang sudah kalian rebut paksa untuk
diberikan kepada para tuan tanah yaitu para tionghoa yang pada akhirnya membuat
kami bekerja paksa menjadi bujang bujang tanah di atas tanah kami sendiri
dengan upah yang murah dan berkewajiban membayar pajak cuke yang mencekik.
Sebagai
titisin Prabu Rabul Alamin, Aku akan merebut kekuasaan dan tanah para tionghoa,
mengusirnya dari tanah ini, dan membuat kerajaan yang lebih Makmur dan
sejahtera di tanah Tangerang ini.”
PERMAINAN WAYANG SELESAI,
MEJA YANG AWALNYA MENJADI TEMPAT BERMAIN WAYANG, BERUBAH MENJADI MEJA MAKAN DI
RUMAH KAIIN. MASUK ISTRI KAIIN YAITU TAN TENG NIO ATAU NYONYA BANTEN MEMBAWA
MAKANAN.
Tan
Teng Nio:
“Kamu mau membawakan lakon itu untuk acara sunatan anak
kita nanti?”
Kaiin:
“Iya, ini bukan hanya perkara menghibur masyarakat saja
Tan Teng Nio, ini siasatku untuk membuat rakyat Tangerang dan para pengikut
setiaku agar tersadar dari kekejaman para Belanda dan Tionghoa itu yang sudah
merebut tanah leluhurku.”
Tan
Teng Nio:
"Jadi apa rencanamu Kaiin?”
Kaiin:
“Tanggal 8 Februari 1924 nanti saat khitanan anak kita,
aku akan memainkan lakon tadi dan memberi ceramah kepada pengikut setiaku untuk
berani melawan kaum penindas. Seperti yang kamu tau, aku sudah bersemedi di
Makam-makam keramat yang ada di gunung salak atas anjuran dari guruku Cing
Sairin yang sudah mengajariku ilmu Kewedukan dan Elmu Keselametan. Dan para
pengikutkupun akan taat pada apa yang kuperintahkan. Lalu di tanggal 10
Februari Ba’da Subuh, kami akan menyerang para Tuan Tanah Tionghoa dan
mengusirnya dari tanahku.”
Tan
Teng Nio:
“Apakah
kamu akan mengusirku juga? Aku orang Tionghoa Kaiin.”
Kaiin:
“Dulu iya. Kini
kamu seorang istri dari Kaiin Bapak Kayah, dan kamu sudah masuk Islam, dan
orang-orang sinipun sudah memanggilmu Nyonya Banten, Bukan Tan Teng Nio
lagi."
Tan
Teng Nio:
“Aku akan selalu
mendoakanmu, Kaiin.”
LAMPU REDUP.
ADEGAN 2
PANGGUNG DIPENUHI ALAT
DAN HASIL PANEN YANG AKAN DISERAHKAN KEPADA TUAN TANAH. PARA PEKERJA MENGELUH
DENGAN SISTEM INI.
P1:
“Sudah susah payah
kita menanam ini, harus kita setorkan sebagai cuke, dan dibayar murah oleh
tionghoa itu.”
P2:
“Belum lagi harus
bayar komepenian agar kita tetap bisa tinggal di rumah sekarang yang tanahnya
dikuasai orang asing itu!”
P3:
“Kapan kiranya
penderitaan ini harus berakhir! Apakah sampai anak cucu kita? Masih mending
jika hidup, mungkin kita bisa mati kelaparan sehingga tidak dapat melanjutkan
keturunan dan melihat masa kebebasan.”
P4:
“Hei, jangan
hilang harap. Orang tua kita dulu sering bilang bahwa suatu nanti pasti ada
seseorang yang dapat membebaskan penderitaan ini, itu sudah diramal sejak lama,
kita harus percaya itu.”
P5:
“Betul! Kita harus
percaya. Karena aku yakin masa itu akan segera tiba. Kaiin Bapak Kayah itulah
yang akan membawa perubahan, aku yakin, dia orang Sholeh, Ilmunya sudah tidak
diragukan lagi, pasti dia yang akan membawa kita pada kejayaan.”
P4:
“Iya!! Kita harus
yakin saudarku. Besok malam, Kaiin akan mengadakan hajatan dan dia akan bermain
wayang lagi. Kita harus datang bersama-sama dan mendengarkan kembali pidatonya
tentang kebebasan. Itulah harapan kita!”
SEMUA PEKERJA/RAKYAT
MENYETUJUI DAN BERGEGAS PULANG KERUMAHNYA MASING-MASING.
LAMPU REDUP.
ADEGAN 3
SAAT LAMPU MASIH
BLACKOUT, TERDENGAR SUARA KAIIN MEMBAWAKAN POTONGAN AKHIR KALIMAT LAKONNYA DAN
DISAMBUT GEMURUH TEPUK TANGAN DAN TAKBIR PARA PENONTON WAYANG KAIIN.
“Tanah-tanah milik rakyat
leluhur harus diambil kembali, ditumpaskannya dari tangan-tangan Belanda dan
Tionghoa. Bersamaku Prabu Rabbun Alamin, kita akan membuat kembali
kerajaan-kerajaan tanpa campur tangan orang asing, kembali ke hakekatnya
sebagai milik para petani.”
“Allahuakbar”
“Allahuakbar”
“Allahuakbar
LAMPU MENYALA, MEJA
WAYANG BERADA DI SISI KIRI PANGGUNG MENGHADAP SAMPING, KAIN BERDIRI DI BELAKANGNYA
MENGHADAP KE PENGIKUTNYA YANG DI SEBALAH KANAN PANGGUNG.
Kaiin:
“Wahai
Saudara-saudara, sayalah Sang Hyang Tunggal atau Ratu Rabbul Alamin itu, karena
saya adalah keturunan dari Pangeran Siliwangi. Mulai Saat ini saya akan ambil
hak saya sebagai pemimpin kalian. Saya akan usir kaum penjajah dan para tuan
tanah yang kejam dan jahat yang selalu mengambil hak-hak petani. Mulai saat ini
saudara-saudara harus ikut saya punya perkataan.”
RIUH TAKBIR MENGGEMA
DILONTARKAN PARA PENGIKUT KAIIN.
P1:
“Rakyat sudah lama
menderita dengan sewa tanah yang semakin menyengsarakan kami, dengan Cuke-Cuke
dan kompenian yang diperas dari keringat kami.”
P2:
“Kami sudah lelah
dengan penindasan para kaum asing, bantu kami Kaiin untuk sejahtera dari penjajahan
ini.”
P3:
“Semua ilmu yang
kau berikan tentang perlwanan dan bela diri sudah melekat di dalam hati dan
pikiran kami, kami siap berjuang bersama untuk merebut kembali tanah kita.”
Kaiin:
“Saudaraku, dengan
bersatunya keinginan kita atas rasa ingin bebas dari ketertindasan, insyaAllah
akan dipermudah jalan kita meraih kemenangan, kita harus segera bergerak
mengusir para penjajah itu bersama-sama.”
P4:
“Tapi langkah apa
yang kita harus ambil?”
Kaiin:
“Lusa tanggal 10
Februari 1924, saat Ba’da Subuh, Kita berkumpul di sini membawa pasukan
sebanyak-banyaknya untuk mengusir para Tionghoa itu dan mengambil surat kuasa
tanahnya sampai ada di tangan kita. Jika melawan, habisi saja, tidak perlu
kasihan, mereka tidak pernah kasian pada rakyat seperti kita.
Paginya kita pergi ke
rumah Wedana yang ada di Teluk Naga untuk meminta jalan agar kita bisa bertemu
pimpinan Hindia Belanda di Buitenerg sana. Memaksa mereka mengeluarkan
kebijakan untuk mengembalikan tanah-tanah pada kita.
Jika mereka tidak mau,
lawan! Kalian sudah kuajari cara memakai pisau, tombak, golok serta silat. Dan
aku akan memberikan kalian semua jimat untuk membuat tubuh kalian kebal. Jimat
ini sudah didoakan oleh guru Cing Sairin. Jadi tidak ada alasan lagi untuk
kalian tidak melawan dan berjuang demi tanah kita!”
“ALLAHUAKBAR!”
SEMUA PENGIKUT KAIIN
SERENTAK BERTAKBIR. KAIIN MEMBAGIKAN JIMAT YANG BERUPA KOIN KEPADA
MASING-MASING PENGIKUTNYA.
Kaiin:
“Kita percaya
bahwa Allah akan selalu melindungi kita. Kita harus percaya bahwa kita bisa merebut
kembali tanah kita dari para kafir itu, ALLAHUAKBAR!”
SEMUA PENGIKUT KAIIN
KEMBALI MENERIAKAN TAKBIR.
LAMPU REDUP
ADEGAN 4
WAKTU BA’DA SUBUH, PARA
PENGIKUT KAIIN BERKUMPUL DAN BEGERILYA KE RUMAH-RUMAH TIONGHOA. DIGAMBARKAN
DENGAN AKTOR PEMERAN PENGIKUT KAIIN BERLARIAN MASUK KELUAR PANGGUNG MEMBAWA
SENJATA (GOLOK, TOMBAK, DAN PISAU) SECARA BERGANTIAN. GAMBARAN DARI PEREBUTAN
SURAT TANAH MELALUI GAMBAR-GAMBAR DAN VIDEO YANG DITAMPILKAN DARI PROYEKTOR.
DIDUKUNG DENGAN MUSIK TEGANG. SEMUANYA TERJADI BERSAMAAN (PEMERAN BERLARIAN +
VIDEO DAN FOTO DARI PROYEKTOR + MUSIK DAN EFEK SUARA).
SETELAH ADEGAN SELESAI,
KAIIN DAN PENGIKUTNYA MASUK DI TENGAH PANGGUNG. KAIIN DI DEPAN MEMIMPIN SAMBIL
MEMEGANGI KERTAS SURAT TANAH.
Kaiin:
“Alhamdulillah,
beberapa tanah kita sudah rebut kembali dari tangan kafir! Allahuakbar!
RIUH TAKBIR.
Kaiin:
“Dalam hal
perjuangan, semuanya ada pengorbanan. Nyawa-nyawa para kafir itu halal untuk
kita binasakan! Kita berjuang di jalan yang benar. Jangan takut!”
RIUH TAKBIR.
Kaiin:
“Selanjutnya kita
akan pergi ke Tanah Tinggi. Sebelum itu kita pergi ke tempat asisten Wedana di
Teluk Naga sana untuk meminta jalan melalui kereta api ke Buitenzorg, kita
minta agar dipertemukan dengan pimpinan di sana agar menghapus kebijakan Cuke
dan Kompenian.”
P1:
“Mengapa kita
harus bertemu dan berdiskusi? Mengapa kita tidak langsung serang saja?”
Kaiin:
“Menyerang para
Tionghoa lebih mudah karena mereka tidak dipersenjatai, beda saat kita
menyerang para Hindia Belanda. Kita tidak akan mampu. Kita coba menawarkan
politik etis seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya.”
P2:
“Mengapa kita
harus ke Asisten Wedana itu? Apakah dia akan membantu kita?”
Kaiin:
“Dia akan
mempermudah kita mendapatkan izin menggunakan kereta api. Dia orang kita juga,
aku yakin dia akan membantu. Kami pernah bertemu saat aku masih jadi Pembantu
Polisi di Teluk Naga. Baik kita bergerak sekarang.”
KAIIN DAN PENGIKUTNYA
KELUAR PANGGUNG, LAMPU REDUP.
ADEGAN 5
SETTING TEMPAT MEJA DAN
KURSI, TERDUDUK TUWUH ASISTEN WADANA. DI MEJA TERDAPAT TELFON. PARA PENGIKUT
KAIIN MASUK TERLEBIH DAHULU MENODONGKAN SENJATA DAN MENGANCAM TUWUH.
Tuwuh:
“Tuan-tuan ini
siapa? Mau apa? Mau mencuri?”
P3:
“Apakah tuan ini
membela orang Kafir?”
Tuwuh:
“Kepada orang
kafir saya tidak suka.”
KAIIN MASUK
Tuwuh:
“Ah Kaiin,
lindungi aku.”
Kaiin:
“Tenang Tuwuh,
mereka ini pengikutku.
Tuwuh:
“Ada apa
sebenarnya Kaiin?’
Kaiin:
“Aku dan Pengikutku sudah menyerang para Tionghoa yang
menjadi Tuan Tanah di daerahku. Selanjutnya kami mau ke Buitenzorg untuk
bertemu Pimpinan Belanda.”
Tuwuh:
“Mau apa ke sana?
Mau menyerang juga?”
Kaiin:
“Kami mau
meminta pemimpin Belanda menghapus Cuke dan Kompenian. Kamu antar kami semua ke
Sana naik Kereta Api.”
Tuwuh:
“Aduh tidak bisa
itu tidak bisa.”
P5:
“Apa yang tidak
bisa? Kamu membela orang kafir?” MENODONGKAN SENJATA
Tuwuh:
“Tidak tuan.
Kaiin, sebaiknya kamu dan pengikutmu istirahat dulu di pendopo sana, nanti akan
ku minta buatkan kopi dan rokok. Kereta api ada jam 11, sekarang masih jam
setengah 8. Kalian istirahat dulu di pendopo sana ya. Nanti aku menyusul.”
KAIIN DAN PENGIKUTNYA
KELUAR. TUWUH MENELPON KEAMANAN BELANDA.
Tuwuh:
“Permisi tuan,
hamba kedatangan seseorang yang bernama Kaiin dan pasukannya yang sudah
menyerang tuan tanah. Mereka sekarang mau pergi ke Buitenzorg untuk menemui
Jendral agar meminta menghapus cuke dan kompenian.”
….
Tuwuh:
“Baik tuan, hamba
akan ulur waktu sampai polisi datang.”
LAMPU MATI. DI SETTING
YANG SAMA DATANG POLISI BATAVIA DIPIMPIN RHEMREV.
Tuwuh:
“Kaiin ada di
pendopo tuan.”
Rhemrev:
“Bawa ke sini,
saya akan coba membujuk agar ini tidak terjadi. Kalau dia tidak mau, kita bawa
mereka ke Batavia dengan berjalan kaki, agar tenaga mereka habis. Setelah itu
kita lumpuhkan.”
Tuwuh:
“Baik tuan, hamba
akan panggilkan Kaiin.”
TUWUH KELUAR, TAK LAMA
MASUK KAIIN DAN PASUKANNYA.
Rhemrev:
“Saya Rhemrev,
kontrolir polisi Polisi. Saya dengar kamu dan pengikutmu ingin ke Buitenzorg?”
Kaiin:
“Betul, kami ingin
bertemu pimpinanmu untuk mengusir tionghoa dari tanah kami.”
Rhemrev:
“Sebaiknya kalian pulang lagi, di sana sangat jauh,
kereta api tidak ada hari ini, jadi kalian harus berjalan kaki menuju Batavia
sebelum ke Buitenzorg.”
Kaiin:
“Kami tidak mau
pulang. Jika tuan menghalangi akan kami bunuh.”
Rhemrev:
“Kita tidak perlu
memakai kekerasan. Begini saja, akan kami kawal kalian menuju Batavia. Baru di
sana akan naik mobil ke Buitenzorg. Kalian harus berjalan kaki, kami naik kuda
di depan.”
Kaiin:
“Baik tidak
masalah walau harus berjalan.”
LAMPU MATI.
ADEGAN 6
SET DI PERJALANAN MENUJU
BATAVIA. KAIIN BERADA PALING DEPAN BERSAMA POLISI DAN RHEMREV DIIKUTI OLEH
PASUKANYA DI BELAKANG. PASUKANNYA SEPERTI KELELAHAN. LALU KAIIN MEMINTA
BERHENTI.
Kaiin:
“Rhemrev, kami
kelelahan, kami akan istirahat sebentar.”
Rhemrev:
“Silahkan.”
KAIIN DAN PENGIKUTNYA
DUDUK BERISTIRAHAT DI TEPI PANGGUNG. TAK LAMA RHEMREV MEMANGGIL KAIIN.
Rhemrev:
“Kaiin, aku ingin
kamu ikut aku sebentar.”
KAIIN MENGIKUTI RHEMREV
MENJAUHI PENGIKUTNYA. DI TENGAH PERJALANAN KAIN DI TENDANG OLEH ANAK BUAH
RHEMREV HINGGA TERSUNGKUR. MELIHAT ITU PENGIKUT KAIIN BERDIRI DAN MELAWAN.
ADEGAN PERTARUNGAN
DIPERLIHATKAN OLEH KAIIN MELAWAN RHAMREV. TERJADI TEMBAK MENEMBAK. KAIIN
DITEMBAK MATI DITENGAH PERTARUNGAN, DAN RHAMREV DIBACOK OLEH PENGIKUT KAIIN.
BEBERAPA PENGIKUT KAIIN MATI TERTEMBAK, BEBERAPA LAGI DITAWAN. DARI PIHAK
RHAMREV, BEBERAPA JUGA LUKA DAN MATI.
LAMPU MATI, MUSIK
MENGALUN LIRIH.
ADEGAN 6
LAMPU HIDUP.
PENAWANAN PENGIKUT KAIIN
YANG MASIH HIDUP.
DIHUKUM GANTUNG DENGAN
SIMBOLIS TALI YANG MELINGKARI LEHER SETIAP TAWANAN. TALI PERLAHAN-LAHAN NAIK KE
ATAS. DAN LAMPU MATI PERLAHAN DIIRINGI MUSIK LIRIH.
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar