Tenggelamnya sang putri arunika
Fajarmana
Cahayamu kini telah berada di titik nadir
Merelakan sinarmu terbias oleh harapan yang kian pudar
Memandangmu kini telah terasa semu
Mengikhlaskan senyuman yang perlahan tenggelam di cakrawala.
Di hadapanmu kini, aku bukan lagi seorang penyair
Karena tak dapat kutemukan lagi majas yang menggambarkan
indahnya perpisahan
Di hadapanmu kini, aku bukan lagi seorang penulis
Karena aku tak sanggup menemukan kalimat indah yang kupilih
sebagai penutup cerita ini.
Putri, Swastamita yang indah tetap mengisyaratkan sebuah
perpisahan.
Serang, 26 Maret 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar