Selasa, 11 Agustus 2026

Cerpen "Bujang Sawah" oleh Fajarmana

Bujang Sawah 

Fajarmana



Terik matahari tidak pernah punya belas kasihan kepada kami, para pekerja yang sedang membajak tanah untuk ditanami padi baru. Lepas seminggu yang lalu aku dan para bujang sawah lain selesai panen—yang hasilnya tidak pernah kami nikmati sepenuhnya karena kami bekerja di tanah partikelir milik orang Tionghoa—kami masih terus diperah tanpa istirahat dengan mulai membajak tanah selesai panen, melakukan penggarukan tanah, pengairan dan kembali menyemai bibit padi baru.

Tanah ini, sawah yang selalu aku garap setiap hari, dulunya adalah kepunyaan buyutku. Bukan cuma sawah yang aku kerjakan, melainkan seluruh tanah yang ada di desa ini awalnya adalah milik masyarakat Tangerang. Sebagaimana yang keluargaku sering ceritakan, dulu, Desa Pangkalan ini pemilik aslinya adalah orang-orang Tangerang. Namun, semenjak Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih secara paksa kepemilikan tanah orang-orang asli sini termasuk Buyutku, tanah ini akhirnya dijual kepada para Tuan Tanah yang kebanyakan orang Tionghoa. Kini, kami harus tinggal di tanah yang mewajibkan membayar cuke dan melakukan kompenian yang menguras tenaga kami.

Sebagai pemuda yang masih berusia 26 tahun, aku diwajibkan melakukan kompenian berupa kerja bakti memperbaiki rumah Tuan Tanah, membuat dan memperbaiki jalan, membuat irigasi dan menjaga gudang hasil panen. Semua itu dilakukan tanpa upah sama sekali. Selama dua hari dalam satu minggu, di malam hari aku disuruh menjaga gudang dan rumah Tuan Tanah sampai pagi, dan berlanjut harus turun ke sawah untuk Bertani. Dan semua yang kulakukan itu adalah kewajiban tanpa dibayar, itu adalah kebijakan para Tuan Tanah sebagai pemilik tanah yang dibeli dari Hindia Belanda—yang asalnya tanah itu adalah milik kami—Juga tanpa diberi makan ataupun minum. Itu terus menerus terjadi padaku dan seluruh masyarakat yang ada di sini.

Belum lagi cuke yang wajib dibayar setelah panen. Penggarap sawah yang awalnya memiliki tanah, kini harus bekerja di lahannya sendiri untuk hasilnya dibagi kepada Tuan Tanah, belum lagi harus membayar upah para bujang sawah yang dibebankan oleh penggarap. Dulu, bapakku adalah penggarap sawah karena awalnya tanah ini adalah milik kakeknya. Namun karena kebijakan cuke yang mencekik, akhirnya bapak tidak lagi berperan sebagai penggarap—yang hasil panen bisa menjadi miliknya setelah membayar cuke—namun bapak turun kasta menjadi bujang sawah yang akhirnya pekerjaan itu diwariskan kepadaku.

Sebagai bujang sawah, aku harus bekerja di lahan tani milik Tuan Tanah yang dijaga oleh mandor. Mandor keparat yang memotong gaji harian kami yang sudah sedikit itu. Biasanya, setelah maghrib hampir tiba, kami berbaris di gubuk menunggu jatah kami yang dibayarkan melalui Mandor Samin. Seperti saat ini setelah aku selesai membajak tanah, aku dan para bujang sawah yang lain mengantri untuk mendapat bayaran. Di sana, Mandor Samin duduk dengan kaki menyilang, sebuah buku catatan besar terbuka di depannya. Di depanku giliran Leman yang mengambil jatah.

“Man! Dua puluh sen, Potong gabah yang jatoh kemaren, sisa sepuluh sen,” suara Mandor Samin pelan, tapi tajam. Lalu ia melempar koin itu seolah memberi makan ayam.

Setelahnya giliran aku yang maju. Tanganku yang kasar dan berlumpur menyodorkan capingku yang robek sebagai wadah. Aku membayangkan akan berapa sen yang akan aku dapat hari ini. Mandor Samir melempar lima sen ke capingku. Aku mengerenyitkan dahi.

“Hanya ini, Mandor?” suaraku tercekat. “Bukannya upah harian bujang sekarang dua puluh sen? Bapakku dulu bilang…”

Mandor Samin menggebrak meja. Aku reflek mundur.

“Bapakmu itu ada di masa dulu, sekarang tanah ini punya Tuan Tanah. Kamu enggak inget mangkir dua jam saat kompenian kemarin, itu denda! Lalu, gabah yang kamu panen juga jelek, kopong! itu juga potong gaji. Ya jadi segitu upah yang kamu dapet!”

Aku menelan ludah, kemarin aku sudah izin untuk pulang ke rumah karena harus menghantar beras. Namun itu tetap dihitung denda. Aku tau itu kebohongan Mandor Samin, uang sisanya pasti masuk ke kantongnya sendiri.

Aku menarik napas panjang, aku tidak punya kekuatan apa-apa. Aku mengambil kepingan lima sen dari caping, aku memperhatikan logam yang tengahnya bolong itu dan pergi meninggalkan sawah. Namun saat aku hendak pergi, aku melihat ada seorang laki-laki berdiri tenang dengan ikat kepala yang rapih. Ia tidak mengantri, ia hanya memperhatikan dari jauh para bujang yang menderita dan mandor yang tamak. Lelaki itu sudah banyak orang tau, dia adalah Kaiin Bapak Kayah, atau kami memanggilnya Ki Dalang. Karena memang dia adalah seorang dalang terkenal yang sering menampilkan pertunjukan wayang di daerah Pangkalan, Mauk dan Kebayoran.

Aku banyak mendengar cerita tentangnya. Kaiin Bapak Kayah juga lahir di Kampung Pangkalan, dia juga pernah menjadi Bujang Sawah sama sepertiku. Namun, karena kepintarannya, dia sempat diangkat jadi Mandor untuk perkebunan Sutra. Aku dengar dia berhenti jadi Mandor karena tidak tega melihat penderitaan para pekerja yang diupah sedikit. Setelahnya juga dia pernah kerja menjadi Opas seorang komisaris Wedana di Batavia. Namun nama Kaiin mulai berubah menjadi Ki Dalang saat menjadi pembantu dalang di Mauk, yang akhirnya dia juga belajar dan ahli ngedalang. Ki Dalang itu orang yang sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat Kampung Pangkalan. Karena lakon-lakon yang dia mainkan telah membakar semangat kami untuk sadar tentang penindasan yang terjadi. Selain itu, ia orang yang sakti. Gurunya adalah Cing Sairin, orang yang dikenal jago pukulan dan punya ilmu kebal.

Aku berjalan membungkuk hormat saat melewatinya. Namun tangannya mencengkram lenganku. Aku terkejut, khawatir sudah berbuat salah kepada Ki Dalang.

“Dapet berapa, Ntong?” tanyanya lembut.

“Eee… lima sen, Ki,” aku jawab ragu.

“Lima sen?” suaranya rendah, namun menggelegar di telingaku.

“Iya, Ki. Hanya seginilah sisa untuk bujang sepertiku.”

Ki Dalang berpindah tempat, dia kini berhadapan denganku. Ada rasa segan yang membuatku hanya tertunduk. Dia memintaku untuk menatapnya. Kini aku melihat matanya, ada sorot mata yang belum pernah kulihat, sorot mata yang tidak mengenal rasa takut.

“Bapakmu dulu penggarap, kan? Yang akhirnya jadi bujang sawah karena tidak kuat dengan cuke?” tanya Ki Dalang lagi.

Aku terdiam. Tiba-tiba saja dadaku sesak. Mengingat bagaimana dulu nasib bapak yang sangat menyedihkan. “Bapak mati dalam keadaan masih berutang cuke sama Tuan Tanah, Ki. Yang akhirnya jadi bujang tanah dan aku teruskan sekarang.”

Ki Dalang hanya tersenyum tipis.

“Tanah partikelir ini bukan cuma mencuri gabahmu, Entong. Ia juga mencuri nyawa bapak dan kesejahteraanmu. Si Mandor Samin itu, sama jahannamnya dengan para Tuan Tanah. Dia cuma anjing penjaga. Sekarang Ntong, sampai kapan kita membiarkan kekayaan Tuan Tanah itu berdiri di atas kuburan leluhur kita?”

Ki Dalang menepuk bahuku. Tepukan itu seperti memberi rasa dendam besar kepada para Tuan Tanah beserta Mandor keparat itu.

“Besok malam, datang ke rumahku. Aku sudah undang para bujang lain. Tidak usah bawa cangkul. Bawa dendammu itu,” bisiknya sebelum akhirnya pergi meninggalkanku yang masih memikirkan apa yang dia katakan.

***

Aku melihat malam ini sebagai malam yang penuh kekhawatiran. Aku berangkat menuju rumah Ki Dalang yang cukup terpencil. Aku berjalan perlahan seperti mengendap-endap, melewati pematang sawah yang berembun. Sesampainya di rumah Ki Dalang, aku langsung menghirup aroma kayu bakar. Aku masuk di rumah yang terbuat dari bilik bambu itu, ruangan remang yang berisi belasan bujang sawah yang biasa aku lihat penuh lesu, namun kini raut wajah mereka ada harapan yang terbakar.

Di tengah lingkaran, Ki Dalang duduk bersila. Dia tidak memakai pakaian dalangnya. Dia hanya memakai pakaian serba putih. Di depannya ada sebilah golok dan kumpulan koin sen. Dia mempersilahkanku duduk bersama yang lainnya.

Dari sini, aku memperhatikan Ki Dalang yang mulai menceritakan kejadian-kejadian yang pernah ia alami. Termasuk mendapat wejangan dari Kyai yang berasal dari lereng Gunung Salak yang bilang kalau Ki Dalang atau Kaiin Bapak Kayah adalah jelmaan pangeran Alibasah. Ki Dalang juga bercerita pernah bermimpi diberi tahta oleh raja-raja sunda dan akan dinobatkan sebagai Ratu Rabulalamin. Ki Dalang lalu memberitahu, bahwa tanah-tanah yang kini dikuasai oleh Tuan Tanah itu harusnya milik para petani sebagai pemilik awal keturunan Pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning.

Di sepanjang malam itu, kami para bujang sawah diberi bahan bakar perlawanan oleh Ki Dalang untuk merebut kembali tanah yang seharusnya milik kami. Ki Dalang menanam benci teramat besar di pikiran kami kepada para Tuan Tanah yang selama ini menindas dan semena-mena terhadap para petani.

Pertemuan malam itu berakhir dengan Ki Dalang yang menjelaskan akan melakukan ritual kepada koin sen yang akan dijadikan jimat keselamatan. Ki Dalang juga mengundang seluruh petani yang ada di sini untuk datang ke acara sunatan anaknya yang akan diadakan tanggal 10 Februari 1924.

***

Acara sunatan anak Ki Dalang dipergunakan untuk berkumpul menyusun rencana perebutan tanah partikelir. Di sana Ki dalang memberi tahu bahwa akan menghapus cuke dan kompenian bila dia berhasil menjadi raja di Pangkalan dan tanah Melayu. Ki Dalang juga berjanji akan mengusir orang Tionghoa dari kampung Pangkalan.

Darahku mendidih mendengar semua yang diucapkan Ki Dalang, ada harapan untuk mengembalikan tanah milik buyutku yang sudah dirampas oleh Tuan Tanah. Aku juga membayangkan bagaimana bapak tersenyum di alam sana saat tau bahwa aku sudah mengalahkan para Tuan Tanah yang membuat bapak mati menyedihkan.

Ki Dalang menyusun rencana, akan membakar rumah-rumah Tuan Tanah dan rumah kongsi pada tanggal 19 Februari 1924. Lalu setelahnya akan melakukan perjalanan panjang ke Buitenzorg untuk menemui jendral Hindia Belanda agar meminta menghapus cuke dan kompenian. Ki Dalang bilang, jika permintaan itu tidak dituruti, Ki Dalang akan membakar Buitenzorg dan juga Batavia.

***

Api berkobar di rumah para Tuan Tanah setelah matahari baru terbit. Aku beserta 38 bujang sawah lain yang dipimpin oleh Ki Dalang membakar semua sertifikat kepemilikan tanah yang disimpan para Tuan Tanah, dan menebas siapapun yang melawan. Aku dan para bujang sawah lain sudah kehilangan rasa tega, karena mengingat semua penderitaan yang sudah mereka lakukan kepada kami, inilah masanya pembalasan.

Aku memegang golok dan jimat koin yang sudah didoakan oleh guru Ki Dalang. Memakai pakaian serba putih dan memakai topi boni yang diperintahkan oleh guru Sairin. Di golok ini, sudah bercecer darah hasil tebasan ke orang Tionghoa yang hendak melawan. Sejenak aku bergetar memegang golok yang penuh darah ini, namun teriakan Ki Dalang dan yang lainnya membuat keberanian kembali muncul.

Kami berkumpul setelah berhasil merebut sertifikat—yang beberapa sudah terbakar bersama rumah orang Tionghoa. Ki Dalang memerintahkan untuk bergerak ke Tangerang untuk menaiki kereta api menuju Buitenzorg. Namun sebelum ke stasiun, Ki Dalang memerintahkan untuk mendatangi rumah asisten Wedana Teluknaga yang bernama Tuwuh. Ki Dalang ingin memastikan, apakah Tuwuh membela rakyat atau membela para kompeni.

Aku dan seluruh rombongan menyerbu pendopo tempat Tuwuh berada. Aku mengacungkan golok ke lehernya yang membuat Tuwuh bergetar ketakutan.

“Kamu membela kafir?” tanyaku dengan nada mengancam.

“Kepada kafir saya tidak suka,” jawabnya gemetar.

Dari belakang Ki Dalang datang. Mata Tuwuh membelalak tatkala melihat Ki Dalang. Tentu dia tahu siapa itu Ki Dalang. Karena berdasarkan cerita Ki Dalang, Ia mengenal Tuwuh saat masih menjadi Opas.

Tuwuh meminta perlindungan Ki Dalang, namun Ki Dalang justru bertanya mengancam.

“Kalau kamu membela kafir, akan saya bunuh.”

Tuwuh bilang bahwa dia tidak akan membela kafir. Maka Ki Dalang meminta untuk diantar ke Stasiun untuk naik kereta api ke Buitenzorg. Dari sini kulihat Tuwuh bersedia mengantar, namun kami diminta Tuwuh untuk duduk di pendopo, beristirahat karena kereta berangkat dari Tangerang nanti Sore.

Ki Dalang memerintahkan kami untuk duduk menunggu di Pendopo. Kami disuguhi rokok dan juga teh hangat oleh Tuwuh. Selanjutnya kami menyimak perintah Ki Dalang untuk tetap waspada terhadap serangan dari pusat. Kami beristirahat dengan tetap memegang senjata: golok, tombak dan kapak.

Aku menyenderkan badan ke tiang besar penyangga atap pendopo. Aku menghela napas panjang. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi hari ini, dan membayangkan akan seperti apa nanti di Buitenzorg dan membayangkan masa bebas saat tanah Pangkalan kembali ke tanganku.

Ki Dalang tiba-tiba berdiri. Kami ikutan berdiri dan bersiap. Dari kejauhan kami lihat ada rombongan polisi yang datang kesini. Firasatku mengatakan, Tuwuh lah yang mengundangnya. Seharusnya sudah kutebas dari awal orang kafir itu.

Datang beberapa orang polisi yang dipimpin oleh satu orang yang akhirnya kutahu nama dia adalah Van Helsdingen. Kami bersiap memasang kuda-kuda dan memegangi senjata kami. Namun mereka terlihat tidak akan menyerang. Van Helsdingen menghampiri Ki Dalang. Ki Dalang menunggu dengan tenang, sementara dadaku terasa panas dan ingin menebas orang itu.

Ki Dalang berdialog dengan Van Helsdingen dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku yakin Ki Dalang mengetahui bahasa itu karena dia pernah bekerja untuk kompeni. Kami tetap bersiaga, mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Setelah berdialog itu, Ki Dalang menyampaikan bahwa kami akan langsung menuju ke Batavia dengan berjalan kaki untuk menemui Gubernur Hindia Belanda. Itu perjalanan yang panjang dan akan sangat melelahkan. Ki Dalang juga menyampaikan bahwa kami akan dikawal oleh para polisi ini agar bisa lancar di perjalanan.

Menuruti perintah Ki Dalang, kami memulai perjalanan panjang menuju Batavia. Aku memeriksa perbekalan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Setelah kupastikan semua aman, kami berjalan menuju Batavia.

Perjalanan panjang di tengah hari membuat kami kelelahan. Kepalaku juga mulai pusing karena terlalu banyak berjalan kaki. Kulihat juga 4 orang perempuan di pasukan kami meminta Ki Dalang untuk beristirahat.

Di daerah Tanah Tinggi aku lihat Van Helsdingen berbicara kepada Ki Dalang, yang akhirnya aku ketahui bahwa obrolan itu meminta Ki Dalang untuk beristirahat di kebun kelapa selatan jalan. Akhirnya kami duduk berkumpul untuk berisirahat.

Aku yang menjadi salah satu yang ditugaskan menggendong persediaan makanan, mengeluarkan dan membagikan kepada semua pasukan Ki Dalang. Aku juga mengambil sebatang singkong rebus dan kendi air minum untuk kunikmati sembari menyandarkan tubuhku di batang pohon kelapa. Aku menarik napas panjang, entah kenapa, ada sesak di dalam dadaku yang kubawa sejak awal ikut bersama Ki Dalang. Ada semacam harapan namun ketakutan yang menjadi satu. Namun, aku mencoba percaya sepenuhnya kepada Ki Dalang yang akan melindungi dan membawa kebebasan untuk para bujang sawah sepertiku.

Aku juga mengobrol dengan para petani lain membahas tentang apa saja yang akan dilakukan jika sudah merebut kembali tanah kampung Pangkalan. Semuanya berkhayal ingin memiliki sawah sendiri, atau ada yang ingin menanam tebu, ada juga yang ingin menanam kopi. Semuanya itu kami amini bersama-sama.

Di ujung mataku, aku melihat Ki Dalang berdiri, dia menyampaikan akan berbicara dengan Helsdingen. Aku melihat ada mobil datang di ujung jalan, dan Ki Dalang akan menuju ke sana. Ada rasa khawatir menyelimuti kami semua. Kami tetap duduk, tapi mata kami mengawasi, tangan kami memegang senjata, bersiap untuk apapun yang akan terjadi pada Ki Dalang.

Keluar dua orang dari mobil itu, dua-duanya orang Belanda, aku tidak tau siapa. Namun yang jelas, mereka terlihat memiliki pangkat lebih tinggi daripada Van Helsdingen.

Belum selesai aku menerka, salah satu temanku berteriak dan menunjuk ke arah Ki Dalang. Aku langsung berdiri saat kulihat Ki Dalang sudah tersungkur karena ditendang oleh orang Belanda itu. Kami langsung bergegas berlari mengacungkan senjata menghampiri Ki Dalang.

Para polisi yang sebelumnya mengawal kini menodongkan senapannya ke arah kami. Tapi kami tidak gentar. Aku memimpin para pasukan untuk maju menyerang. Tembakan terdengar dari berbagai arah. Aku lihat Ki Dalang sudah bangkit dan memukul orang Belanda itu hingga jatuh. Aku segera menyusul mengayunkan golok ke punggung orang itu.

Splassh

Darah mengucur dari punggungnya. Namun aku mendadak terjatuh saat benda keras mendarat di kepalaku. Pengelihatanku buram. Sesaat aku menyadari telah dipukul oleh seorang polisi dengan senapannya. Senapan itu langsung menodongku yang masih terkapar.

Terikan mulai terdengar di mana-mana. Tembakan itu mengenai beberapa orang pasukan kami. Aku gemetar saat mereka tumbang satu-persatu. Aku menengok ke kanan. Kulihat Ki Dalang sedang menebas satu orang polisi, namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dan peluru itu menembus dada Ki Dalang yang langsung membuatnya terkapar.

“Ki… !” aku berteriak panik.

Segera aku menendang paha polisi yang menodongkan senapannya ke arahku, itu membuat dia mundur sedikit. Namun timah panas segera menghujam kakiku. Aku berteriak kesakitan. Panas. Kakiku terasa terbakar. Aku melihat sekeliling banyak teman-temanku yang sudah bergeletakan. Ada juga yang berlarian tak tentu arah. Pemandangan ini membuat dadaku semakin sesak.

Pandanganku kabur, semuanya terlihat buram. Aku mendongak ke atas, melihat senapan yang langsung menghujam keningku.

***

Ruang sempit dan lembab aku lihat saat pertama membuka mata. Di sini aku lihat beberapa temanku yang masih tergeletak tidak sadarkan diri. Aku melihat sekeliling. Tempat ini bukan kuburan, aku belum mati.

Namun di depanku terpasang besi berkarat. Tidak lebih baik dari nasib sebelumnya sebagai bujang sawah.

 

Selesai 

2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages

SoraTemplates

Best Free and Premium Blogger Templates Provider.

Buy This Template