Bujang Sawah
Fajarmana
Terik matahari tidak pernah punya belas kasihan kepada kami, para pekerja
yang sedang membajak tanah untuk ditanami padi baru. Lepas seminggu yang lalu
aku dan para bujang sawah lain selesai panen—yang hasilnya tidak pernah kami
nikmati sepenuhnya karena kami bekerja di tanah partikelir milik orang
Tionghoa—kami masih terus diperah tanpa istirahat dengan mulai membajak tanah
selesai panen, melakukan penggarukan tanah, pengairan dan kembali menyemai
bibit padi baru.
Tanah ini, sawah yang selalu aku garap setiap hari, dulunya adalah
kepunyaan buyutku. Bukan cuma sawah yang aku kerjakan, melainkan seluruh tanah
yang ada di desa ini awalnya adalah milik masyarakat Tangerang. Sebagaimana
yang keluargaku sering ceritakan, dulu, Desa Pangkalan ini pemilik aslinya
adalah orang-orang Tangerang. Namun, semenjak Pemerintah Hindia Belanda
mengambil alih secara paksa kepemilikan tanah orang-orang asli sini termasuk
Buyutku, tanah ini akhirnya dijual kepada para Tuan Tanah yang kebanyakan orang
Tionghoa. Kini, kami harus tinggal di tanah yang mewajibkan membayar cuke dan
melakukan kompenian yang menguras tenaga kami.
Sebagai pemuda yang masih berusia 26 tahun, aku diwajibkan melakukan
kompenian berupa kerja bakti memperbaiki rumah Tuan Tanah, membuat dan
memperbaiki jalan, membuat irigasi dan menjaga gudang hasil panen. Semua itu
dilakukan tanpa upah sama sekali. Selama dua hari dalam satu minggu, di malam
hari aku disuruh menjaga gudang dan rumah Tuan Tanah sampai pagi, dan berlanjut
harus turun ke sawah untuk Bertani. Dan semua yang kulakukan itu adalah
kewajiban tanpa dibayar, itu adalah kebijakan para Tuan Tanah sebagai pemilik
tanah yang dibeli dari Hindia Belanda—yang asalnya tanah itu adalah milik
kami—Juga tanpa diberi makan ataupun minum. Itu terus menerus terjadi padaku
dan seluruh masyarakat yang ada di sini.
Belum lagi cuke yang
wajib dibayar setelah panen. Penggarap sawah yang awalnya memiliki tanah, kini
harus bekerja di lahannya sendiri untuk hasilnya dibagi kepada Tuan Tanah,
belum lagi harus membayar upah para bujang sawah yang dibebankan oleh
penggarap. Dulu, bapakku adalah penggarap sawah karena awalnya tanah ini adalah
milik kakeknya. Namun karena kebijakan cuke yang mencekik, akhirnya bapak tidak
lagi berperan sebagai penggarap—yang hasil panen bisa menjadi miliknya setelah
membayar cuke—namun bapak turun kasta menjadi bujang sawah yang akhirnya
pekerjaan itu diwariskan kepadaku.
Sebagai bujang sawah,
aku harus bekerja di lahan tani milik Tuan Tanah yang dijaga oleh mandor.
Mandor keparat yang memotong gaji harian kami yang sudah sedikit itu. Biasanya,
setelah maghrib hampir tiba, kami berbaris di gubuk menunggu jatah kami yang
dibayarkan melalui Mandor Samin. Seperti saat ini setelah aku selesai membajak
tanah, aku dan para bujang sawah yang lain mengantri untuk mendapat bayaran. Di
sana, Mandor Samin duduk dengan kaki menyilang, sebuah buku catatan besar
terbuka di depannya. Di depanku giliran Leman yang mengambil jatah.
“Man! Dua puluh sen,
Potong gabah yang jatoh kemaren, sisa sepuluh sen,” suara Mandor Samin pelan,
tapi tajam. Lalu ia melempar koin itu seolah memberi makan ayam.
Setelahnya giliran aku yang maju. Tanganku
yang kasar dan berlumpur menyodorkan capingku yang robek sebagai wadah. Aku
membayangkan akan berapa sen yang akan aku dapat hari ini. Mandor Samir
melempar lima sen ke capingku. Aku mengerenyitkan dahi.
“Hanya ini, Mandor?” suaraku tercekat. “Bukannya upah harian bujang
sekarang dua puluh sen? Bapakku dulu bilang…”
Mandor Samin menggebrak meja. Aku reflek mundur.
“Bapakmu itu ada di masa dulu, sekarang tanah ini punya Tuan Tanah. Kamu
enggak inget mangkir dua jam saat kompenian kemarin, itu denda! Lalu, gabah
yang kamu panen juga jelek, kopong! itu juga potong gaji. Ya jadi segitu upah
yang kamu dapet!”
Aku menelan ludah, kemarin aku sudah izin untuk pulang ke rumah karena
harus menghantar beras. Namun itu tetap dihitung denda. Aku tau itu kebohongan
Mandor Samin, uang sisanya pasti masuk ke kantongnya sendiri.
Aku menarik napas panjang, aku tidak punya kekuatan apa-apa. Aku mengambil
kepingan lima sen dari caping, aku memperhatikan logam yang tengahnya bolong
itu dan pergi meninggalkan sawah. Namun saat aku hendak pergi, aku melihat ada
seorang laki-laki berdiri tenang dengan ikat kepala yang rapih. Ia tidak
mengantri, ia hanya memperhatikan dari jauh para bujang yang menderita dan
mandor yang tamak. Lelaki itu sudah banyak orang tau, dia adalah Kaiin Bapak
Kayah, atau kami memanggilnya Ki Dalang. Karena memang dia adalah seorang
dalang terkenal yang sering menampilkan pertunjukan wayang di daerah Pangkalan,
Mauk dan Kebayoran.
Aku banyak mendengar
cerita tentangnya. Kaiin Bapak Kayah juga lahir di Kampung Pangkalan, dia juga
pernah menjadi Bujang Sawah sama sepertiku. Namun, karena
kepintarannya, dia sempat diangkat jadi Mandor untuk perkebunan Sutra. Aku
dengar dia berhenti jadi Mandor karena tidak tega melihat penderitaan para
pekerja yang diupah sedikit. Setelahnya juga dia pernah kerja menjadi Opas
seorang komisaris Wedana di Batavia. Namun nama Kaiin mulai berubah menjadi Ki
Dalang saat menjadi pembantu dalang di Mauk, yang akhirnya dia juga belajar dan
ahli ngedalang. Ki Dalang itu orang yang sangat disegani dan dihormati oleh
masyarakat Kampung Pangkalan. Karena lakon-lakon yang dia mainkan telah
membakar semangat kami untuk sadar tentang penindasan yang terjadi. Selain itu,
ia orang yang sakti. Gurunya adalah Cing Sairin, orang yang dikenal jago
pukulan dan punya ilmu kebal.
Aku berjalan membungkuk hormat saat melewatinya. Namun tangannya
mencengkram lenganku. Aku terkejut, khawatir sudah berbuat salah kepada Ki
Dalang.
“Dapet berapa, Ntong?”
tanyanya lembut.
“Eee… lima sen, Ki,” aku jawab ragu.
“Lima sen?” suaranya rendah, namun menggelegar di telingaku.
“Iya, Ki. Hanya seginilah sisa untuk bujang sepertiku.”
Ki Dalang berpindah
tempat, dia kini berhadapan denganku. Ada rasa segan yang membuatku hanya
tertunduk. Dia memintaku untuk menatapnya. Kini aku melihat matanya,
ada sorot mata yang belum pernah kulihat, sorot mata yang tidak mengenal rasa
takut.
“Bapakmu dulu penggarap, kan? Yang akhirnya jadi bujang sawah karena tidak
kuat dengan cuke?” tanya Ki Dalang lagi.
Aku terdiam. Tiba-tiba saja dadaku sesak. Mengingat bagaimana dulu nasib
bapak yang sangat menyedihkan. “Bapak mati dalam keadaan masih berutang cuke
sama Tuan Tanah, Ki. Yang akhirnya jadi bujang tanah dan aku teruskan
sekarang.”
Ki Dalang hanya tersenyum tipis.
“Tanah partikelir ini bukan cuma mencuri gabahmu, Entong. Ia juga mencuri
nyawa bapak dan kesejahteraanmu. Si Mandor Samin itu, sama jahannamnya dengan
para Tuan Tanah. Dia cuma anjing penjaga. Sekarang Ntong, sampai kapan kita
membiarkan kekayaan Tuan Tanah itu berdiri di atas kuburan leluhur kita?”
Ki Dalang menepuk bahuku. Tepukan itu seperti memberi rasa dendam besar
kepada para Tuan Tanah beserta Mandor keparat itu.
“Besok malam, datang ke
rumahku. Aku sudah undang para bujang lain. Tidak usah bawa cangkul. Bawa
dendammu itu,” bisiknya sebelum akhirnya pergi meninggalkanku yang masih
memikirkan apa yang dia katakan.
***
Aku melihat malam ini sebagai malam yang penuh kekhawatiran. Aku berangkat menuju rumah Ki
Dalang yang cukup terpencil. Aku berjalan perlahan seperti mengendap-endap,
melewati pematang sawah yang berembun. Sesampainya di rumah Ki Dalang, aku
langsung menghirup aroma kayu bakar. Aku masuk di rumah yang terbuat dari bilik
bambu itu, ruangan remang yang berisi belasan bujang sawah yang biasa aku lihat
penuh lesu, namun kini raut wajah mereka ada harapan yang terbakar.
Di tengah lingkaran, Ki
Dalang duduk bersila. Dia tidak memakai pakaian dalangnya. Dia hanya memakai
pakaian serba putih. Di depannya ada sebilah golok dan kumpulan koin sen. Dia
mempersilahkanku duduk bersama yang lainnya.
Dari sini, aku memperhatikan Ki Dalang yang mulai menceritakan kejadian-kejadian
yang pernah ia alami. Termasuk mendapat wejangan dari Kyai yang berasal dari
lereng Gunung Salak yang bilang kalau Ki Dalang atau Kaiin Bapak Kayah adalah
jelmaan pangeran Alibasah. Ki Dalang juga bercerita pernah bermimpi diberi
tahta oleh raja-raja sunda dan akan dinobatkan sebagai Ratu Rabulalamin. Ki
Dalang lalu memberitahu, bahwa tanah-tanah yang kini dikuasai oleh Tuan Tanah
itu harusnya milik para petani sebagai pemilik awal keturunan Pangeran Blorong
dan Ibu Mas Kuning.
Di sepanjang malam itu, kami para bujang sawah diberi bahan bakar
perlawanan oleh Ki Dalang untuk merebut kembali tanah yang seharusnya milik
kami. Ki Dalang menanam benci teramat besar di pikiran kami kepada para Tuan
Tanah yang selama ini menindas dan semena-mena terhadap para petani.
Pertemuan malam itu berakhir dengan Ki Dalang yang menjelaskan akan
melakukan ritual kepada koin sen yang akan dijadikan jimat keselamatan. Ki
Dalang juga mengundang seluruh petani yang ada di sini untuk datang ke acara
sunatan anaknya yang akan diadakan tanggal 10 Februari 1924.
***
Acara sunatan anak Ki Dalang dipergunakan untuk berkumpul menyusun rencana
perebutan tanah partikelir. Di sana Ki dalang memberi tahu bahwa akan menghapus
cuke dan kompenian bila dia berhasil menjadi raja di Pangkalan dan tanah
Melayu. Ki Dalang juga berjanji akan mengusir orang Tionghoa dari kampung
Pangkalan.
Darahku mendidih mendengar semua yang diucapkan Ki Dalang, ada harapan
untuk mengembalikan tanah milik buyutku yang sudah dirampas oleh Tuan Tanah.
Aku juga membayangkan bagaimana bapak tersenyum di alam sana saat tau bahwa aku
sudah mengalahkan para Tuan Tanah yang membuat bapak mati menyedihkan.
Ki Dalang menyusun rencana, akan membakar rumah-rumah Tuan Tanah dan rumah
kongsi pada tanggal 19 Februari 1924. Lalu setelahnya akan melakukan perjalanan
panjang ke Buitenzorg untuk menemui jendral Hindia Belanda agar meminta
menghapus cuke dan kompenian. Ki Dalang bilang, jika permintaan itu tidak
dituruti, Ki Dalang akan membakar Buitenzorg dan juga Batavia.
***
Api berkobar di rumah para Tuan Tanah setelah matahari baru terbit. Aku
beserta 38 bujang sawah lain yang dipimpin oleh Ki Dalang membakar semua
sertifikat kepemilikan tanah yang disimpan para Tuan Tanah, dan menebas
siapapun yang melawan. Aku dan para bujang sawah lain sudah kehilangan rasa
tega, karena mengingat semua penderitaan yang sudah mereka lakukan kepada kami,
inilah masanya pembalasan.
Aku memegang golok dan jimat koin yang sudah didoakan oleh guru Ki Dalang.
Memakai pakaian serba putih dan memakai topi boni yang diperintahkan oleh guru
Sairin. Di golok ini,
sudah bercecer darah hasil tebasan ke orang Tionghoa yang hendak melawan.
Sejenak aku bergetar memegang golok yang penuh darah ini, namun teriakan Ki
Dalang dan yang lainnya membuat keberanian kembali muncul.
Kami berkumpul setelah
berhasil merebut sertifikat—yang beberapa sudah terbakar bersama rumah orang
Tionghoa. Ki Dalang memerintahkan untuk bergerak ke Tangerang untuk menaiki
kereta api menuju Buitenzorg. Namun sebelum ke stasiun, Ki Dalang memerintahkan
untuk mendatangi rumah asisten Wedana Teluknaga yang bernama Tuwuh. Ki
Dalang ingin memastikan, apakah Tuwuh membela rakyat atau membela para kompeni.
Aku dan seluruh rombongan menyerbu pendopo tempat Tuwuh berada. Aku
mengacungkan golok ke lehernya yang membuat Tuwuh bergetar ketakutan.
“Kamu membela kafir?”
tanyaku dengan nada mengancam.
“Kepada kafir saya
tidak suka,” jawabnya gemetar.
Dari belakang Ki Dalang
datang. Mata Tuwuh membelalak tatkala melihat Ki Dalang. Tentu
dia tahu siapa itu Ki Dalang. Karena berdasarkan cerita Ki Dalang, Ia mengenal
Tuwuh saat masih menjadi Opas.
Tuwuh meminta
perlindungan Ki Dalang, namun Ki Dalang justru bertanya mengancam.
“Kalau kamu membela kafir, akan saya bunuh.”
Tuwuh bilang bahwa dia
tidak akan membela kafir. Maka Ki Dalang meminta untuk diantar ke Stasiun untuk
naik kereta api ke Buitenzorg. Dari sini kulihat Tuwuh bersedia mengantar,
namun kami diminta Tuwuh untuk duduk di pendopo, beristirahat karena kereta
berangkat dari Tangerang nanti Sore.
Ki Dalang memerintahkan kami untuk duduk menunggu di Pendopo. Kami disuguhi
rokok dan juga teh hangat oleh Tuwuh. Selanjutnya kami menyimak perintah Ki
Dalang untuk tetap waspada terhadap serangan dari pusat. Kami beristirahat
dengan tetap memegang senjata: golok, tombak dan kapak.
Aku menyenderkan badan ke tiang besar penyangga atap pendopo. Aku menghela
napas panjang. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi hari ini, dan
membayangkan akan seperti apa nanti di Buitenzorg dan membayangkan masa bebas
saat tanah Pangkalan kembali ke tanganku.
Ki Dalang tiba-tiba
berdiri. Kami ikutan berdiri dan bersiap. Dari kejauhan
kami lihat ada rombongan polisi yang datang kesini. Firasatku mengatakan, Tuwuh
lah yang mengundangnya. Seharusnya sudah kutebas dari awal orang kafir itu.
Datang beberapa orang polisi yang dipimpin oleh satu orang yang akhirnya
kutahu nama dia adalah Van Helsdingen. Kami bersiap memasang kuda-kuda dan
memegangi senjata kami. Namun mereka terlihat tidak akan menyerang. Van
Helsdingen menghampiri Ki Dalang. Ki Dalang menunggu dengan tenang, sementara
dadaku terasa panas dan ingin menebas orang itu.
Ki Dalang berdialog
dengan Van Helsdingen dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku
yakin Ki Dalang mengetahui bahasa itu karena dia pernah bekerja untuk kompeni.
Kami tetap bersiaga, mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin
terjadi.
Setelah berdialog itu, Ki Dalang menyampaikan bahwa kami akan langsung
menuju ke Batavia dengan berjalan kaki untuk menemui Gubernur Hindia Belanda.
Itu perjalanan yang panjang dan akan sangat melelahkan. Ki Dalang juga
menyampaikan bahwa kami akan dikawal oleh para polisi ini agar bisa lancar di
perjalanan.
Menuruti perintah Ki Dalang, kami memulai perjalanan panjang menuju
Batavia. Aku memeriksa perbekalan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Setelah kupastikan
semua aman, kami berjalan menuju Batavia.
Perjalanan panjang di tengah hari membuat kami kelelahan. Kepalaku juga
mulai pusing karena terlalu banyak berjalan kaki. Kulihat juga 4 orang
perempuan di pasukan kami meminta Ki Dalang untuk beristirahat.
Di daerah Tanah Tinggi aku lihat Van Helsdingen berbicara kepada Ki Dalang,
yang akhirnya aku ketahui bahwa obrolan itu meminta Ki Dalang untuk
beristirahat di kebun kelapa selatan jalan. Akhirnya kami duduk berkumpul untuk
berisirahat.
Aku yang menjadi salah satu yang ditugaskan menggendong persediaan makanan,
mengeluarkan dan membagikan kepada semua pasukan Ki Dalang. Aku juga mengambil
sebatang singkong rebus dan kendi air minum untuk kunikmati sembari menyandarkan
tubuhku di batang pohon kelapa. Aku menarik napas panjang, entah kenapa, ada
sesak di dalam dadaku yang kubawa sejak awal ikut bersama Ki Dalang. Ada
semacam harapan namun ketakutan yang menjadi satu. Namun, aku mencoba percaya
sepenuhnya kepada Ki Dalang yang akan melindungi dan membawa kebebasan untuk
para bujang sawah sepertiku.
Aku juga mengobrol dengan para petani lain membahas tentang apa saja yang
akan dilakukan jika sudah merebut kembali tanah kampung Pangkalan. Semuanya
berkhayal ingin memiliki sawah sendiri, atau ada yang ingin menanam tebu, ada
juga yang ingin menanam kopi. Semuanya itu kami amini bersama-sama.
Di ujung mataku, aku melihat Ki Dalang berdiri, dia menyampaikan akan
berbicara dengan Helsdingen. Aku melihat ada mobil datang di ujung jalan, dan
Ki Dalang akan menuju ke sana. Ada rasa khawatir menyelimuti kami semua. Kami
tetap duduk, tapi mata kami mengawasi, tangan kami memegang senjata, bersiap
untuk apapun yang akan terjadi pada Ki Dalang.
Keluar dua orang dari mobil itu, dua-duanya orang Belanda, aku tidak tau
siapa. Namun yang jelas, mereka terlihat memiliki pangkat lebih tinggi daripada
Van Helsdingen.
Belum selesai aku menerka, salah satu temanku berteriak dan menunjuk ke
arah Ki Dalang. Aku langsung berdiri saat kulihat Ki Dalang sudah tersungkur
karena ditendang oleh orang Belanda itu. Kami langsung bergegas berlari
mengacungkan senjata menghampiri Ki Dalang.
Para polisi yang sebelumnya mengawal kini menodongkan senapannya ke arah
kami. Tapi kami tidak gentar. Aku memimpin para pasukan untuk maju menyerang.
Tembakan terdengar dari berbagai arah. Aku lihat Ki Dalang sudah bangkit dan
memukul orang Belanda itu hingga jatuh. Aku segera menyusul mengayunkan golok
ke punggung orang itu.
Splassh
Darah mengucur dari punggungnya. Namun aku mendadak terjatuh saat benda
keras mendarat di kepalaku. Pengelihatanku buram. Sesaat aku menyadari telah
dipukul oleh seorang polisi dengan senapannya. Senapan itu langsung menodongku
yang masih terkapar.
Terikan mulai terdengar di mana-mana. Tembakan itu mengenai beberapa orang
pasukan kami. Aku gemetar saat mereka tumbang satu-persatu. Aku menengok ke
kanan. Kulihat Ki Dalang sedang menebas satu orang polisi, namun tiba-tiba
suara tembakan terdengar dan peluru itu menembus dada Ki Dalang yang langsung
membuatnya terkapar.
“Ki… !” aku berteriak panik.
Segera aku menendang paha polisi yang menodongkan senapannya ke arahku, itu
membuat dia mundur sedikit. Namun timah panas segera menghujam kakiku. Aku
berteriak kesakitan. Panas. Kakiku terasa terbakar. Aku melihat sekeliling
banyak teman-temanku yang sudah bergeletakan. Ada juga yang berlarian tak tentu arah. Pemandangan
ini membuat dadaku semakin sesak.
Pandanganku kabur,
semuanya terlihat buram. Aku mendongak ke atas, melihat senapan yang langsung
menghujam keningku.
***
Ruang sempit dan lembab aku lihat
saat pertama membuka mata. Di sini aku lihat beberapa temanku yang masih tergeletak
tidak sadarkan diri. Aku melihat sekeliling. Tempat ini bukan kuburan, aku
belum mati.
Namun di
depanku terpasang besi berkarat. Tidak lebih baik dari nasib sebelumnya sebagai
bujang sawah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar